<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488</id><updated>2012-01-10T09:16:56.420+02:00</updated><title type='text'>MENCERAHKAN DAN HUMANIS</title><subtitle type='html'>Menghargai Perbedaan Adalah Kewajiban Setiap Manusia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>84</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-3552112145796132952</id><published>2012-01-10T08:53:00.006+02:00</published><updated>2012-01-10T09:16:56.444+02:00</updated><title type='text'>ARIEL PETERPAN DAN  CITA MASA DEPAN INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-UmLFLYgX2kk/Twvh0uA4RVI/AAAAAAAAAIs/_SCC1MuP9pE/s1600/Band%2BPeterpan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 201px; height: 153px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-UmLFLYgX2kk/Twvh0uA4RVI/AAAAAAAAAIs/_SCC1MuP9pE/s320/Band%2BPeterpan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695894449561290066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ARIEL—demikian ia disapa akrab oleh banyak fansnya—adalah sosok yang fenomenal. Kebedaraannya telah membuat nama “PETERPAN” begitu dikenal di masyarakat luas, bahkan memberikan nafas baru bagi kancah musik di tanah air. Belakangan ini nama “PETERPAN” sudah jarang terdengar. Meski terdengar, namun sudah bercampur dengan adonan negatif, tersebab keterlibatan Ariel—sang vokalis—dalam skandal seks bersama beberapa artis perempuan papan atas Indonesia. Cercaan dan hinaan datang menerpanya dari berbagai pihak—khususnya dari pemerintah—, tak ubahnya seperti segerombolan harimau yang memburu mangsa akibat ‘kesalahan’nya sebagai binatang kecil nan lemah. Namun tidak sedikit pula yang berupaya melakukan pembelaan terhadapnya, khususnya dari para fans, musisi, sastrawan, bahkan beberapa tokoh pemikir muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam konteks ‘jalinan seksual’ Ariel dengan artis-artis perempuan tersebut, banyak yang melihatnya dari sudut pandang agama. Tetapi meski demikian, bagi saya, tidak ada alasan kuat yang membuat Ariel layak untuk dipenjara. Misalnya, kasusnya dengan sang kekasih, Luna Maya. Dalam hal ini—kalau memang betul-betul terjadi—apa yang dilakukan keduanya adalah ‘perkawinan’ dan bukan ‘pernikahan’. Saya adalah orang yang cenderung membedakan antara perkawinan dan pernikahan. Perkawinan adalah sebentuk hubungan biologis atas dasar ‘suka sama suka’ disertai cinta antara laki-laki dan perempuan, sementara pernikahan adalah sebuah ‘pesta resmi’—dalam tradisi agama biasanya disebut walimah—sebagai bentuk ‘selamatan’ atas bersatunya dua insan yang saling mencintai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam beberapa hadits, Nabi tampak cenderung membedakan antara perkawinan dan pernikahan. Misalnya beliau bersabda, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yâ ma’syar al-syabâb, man istathâ’a minkum al-bâ`ah falyatazawwaj&lt;/span&gt;…” [Wahai para pemuda, siapapun di antara kalian yang mempunyai kemampuan, maka hendak ia kawin]. Dalam hadits ini terdapat kata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;falyatazawwaj&lt;/span&gt;” (hendaknya kawin), bukan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;falyankih&lt;/span&gt;” (hendaknya menikah). Beliau juga bersabda, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Nikâh-u sunnatîy…faman ragiba ‘an sunnatîy falaysa minnîy&lt;/span&gt;,” [Nikah itu adalah sunnahku, siapapun yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk dalam golonganku]. Dalam hadits ini terdapat kata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-nikâh&lt;/span&gt;” (nikah), bukan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-zawâj&lt;/span&gt;” (kawin). Lantas, mana yang lebih wajib, nikah atau kawin?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hadits pertama dengan sangat jelas menegaskan bahwa ‘kawin’ adalah sebuah kewajiban. Kata “f&lt;span style="font-style: italic;"&gt;alyatazawwaj&lt;/span&gt;” dalam hadits tersebut adalah “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-amr&lt;/span&gt;” (kalimat perintah), dan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-amr&lt;/span&gt;” dalam kaidah ushul fikih dimaksudkan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;li al-wujûb&lt;/span&gt;” (untuk kewajiban). Kemudian, kata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-bâ`ah&lt;/span&gt;” (kemampuan) saya lebih suka memaknainya dengan tiga hal: pertama, mampu secara umur, dalam arti telah baligh/dewasa; kedua, mampu secara materi, dan; ketiga—inilah yang paling penting—mampu secara komitmen dengan tanggung jawab, dalam artian berkomitmen untuk hidup bersama dan bertanggung jawab atas keutuhan rumah tangga. Dengan ketiga kemampuan ini (umur, materi dan tanggung jawab), seseorang laki-laki/wanita boleh melakukan perkawinan dengan pasangan yang dicintainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berbeda dengan hadits kedua yang menyuratkan—tidak menyiratkan—bahwa ‘nikah’ adalah sunnah, dan siapapun yang membecinya tidak diakui sebagai umat Nabi. Hal ini menunjukkan, bahwa bila terdapat salah seorang tidak menikah seumur hidupnya, itu tidak berarti bahwa ia membenci sunnah itu. Hanya saja mungkin ada alasan tertentu yang menjadi dasar baginya untuk tidak menikah. Sama halnya dengan orang yang tidak mau minum, bukan berarti ia membenci air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan ulasan pendek di atas, menurut hemat saya, ditinjau dari sudut pandang agama, berdasarkan hadits khususnya, apa yang dilakukan Ariel dengan Luna Maya—sekali lagi, jika memang benar-benar terjadi—bukanlah sebuah dosa atau kesalahan yang patut menerima sanksi apapun, terlebih lagi penjara. Keduanya adalah pasangan yang telah memenuhi syarat “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-bâ`ah&lt;/span&gt;” (kemampuan) sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Lebih dari itu, sebelum kasus itu terkuak, keduanya sudah berkomitmen untuk hidup bersama dalam satu biduk rumah tangga meski tanpa pernikahan. Sebab pernikahan hanyalah sebuah formalitas yang tidak harus dilakukan, yang bahkan oleh Nabi sendiri dianggap sebagai salah satu sunnahnya. Tidak melaksanakan pernikahan bukan berarti membenci sunnah tersebut, sehingga keduanya tetap masuk dalam golongan umatnya. Dengan demikian, apa yang dilakukan keduanya sebenarnya sudah tepat, mendahulukan yang wajib ketimbang yang sunnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kalau kita menengok sejarah masa lalu, di era Nabi Adam as. tradisi pernikahan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-nikâh&lt;/span&gt;)—dalam makna pesta resmi—tidak dikenal, yang ada hanyalah tradisi perkawinan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-zawâj&lt;/span&gt;). Makanya di dalam al-Qur`an, khusus dalam konteks masa Nabi Adam as., hanya menyebutkan kata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-zawj&lt;/span&gt;” (suami/istri-pasangan) yang seakar dengan kata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-zawâj&lt;/span&gt;”. Kata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-nikâh&lt;/span&gt;”—yang di dalam al-Qur`an disebut dalam bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fi’l amr&lt;/span&gt; (kata perintah) yaitu “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fankihû&lt;/span&gt;”—itu dikenal pada masa kenabian Muhammad saw.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di masa-masa pra-sejarah, kita banyak mendapatkan informasi bahwa orang-orang di masa itu tidak melangsungkan pernikahan. Hal yang melegalkan setiap pasangan melakukan hubungan seksual di kalangan mereka bukanlah pernikahan, melainkan didasarkan pada perasaan cinta dan ‘suka-sama suka’. Dari sinilah mereka dapat berkembang biak dan memiliki keturunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kemudian, kasus seksual Ariel dengan Cut Tari, barangkali inilah masalahnya yang paling rumit. Cut Tari sudah bersuami, bahkan sudah dikaruniai anak. Dalam agama, kasus hubungan seksual yang melibatkan laki-laki/wanita yang sudah berumah tangga, dalam arti sudah mempunyai suami/istri, disebut dengan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;zinâ muhshan&lt;/span&gt;”, yaitu suatu perbuatan yang layak mendapat hukuman rajam (dilempari batu sampai mati). Dan keduanya, Ariel-Cut Tari, memang tidak mungkin berkomitmen hidup dalam satu rumah tangga, sebab keduanya sama-sama mempunyai pasangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun, sanksi rajam bagi pezina, saya cenderung tidak menganggapnya sebagai ‘hukum wajib’. Karena—seperti yang dikatakan Gamal al-Banna—zina merupakan perbuatan yang tertutup (j&lt;span style="font-style: italic;"&gt;arîmah mughlaqah&lt;/span&gt;), sehingga tidak perlu dicari-cari. Kalau kita mencari orang berzina, berarti kita harus memata-matai (t&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ajassus&lt;/span&gt;), dan mematai-matai kejahatan orang lain tidak dibolehkan dalam agama. Dengan kata lain, rajam bagi pezina tidak termasuk hadd utama dalam agama. Untuk itu, hukum rajam tidak serta merta dan secara sewenang-wenang harus dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kasus yang mendera Ariel dan Cut Tari sebenarnya lebih merupakan ‘kekhilafan’ pribadi masing-masing. Dan kita lihat, suami Cut Tari sudah memaafkan kekhilafan istrinya tersebut. Sebagaimana Luna Maya juga tidak lagi mempersoalkan—kalau boleh dibilang—‘hubungan gelap’ Ariel dengan Cut Tari dan menganggap itu sebagai kesalahan masa lalu, bahkan ia berencana meresmikan hubungan perkawinannya dengan Ariel dalam ‘bingkai’ pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terlepas dari itu semua, yang jelas Ariel berhak merengkuh kebebasannya dalam berkarya. Skandal seksualnya biarlah menjadi masalah pribadinya, dan itu bukanlah sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Kita tidak perlu merasa ‘malu’ untuk mengakuinya sebagai salah seorang musisi terbaik di negeri ini. Saat ini kita memang tengah terjebak dalam budaya yang memandang seseorang dengan keseluruhan sifatnya. Artinya, bila ada salah satu sifatnya yang tidak berkenan di hati kita, maka kita akan membenci sifat-sifatnya yang lain tanpa berupaya melihat hal-hal positif dalam dirinya. Hal baik apapun yang dilakukannya, kita akan menilainya negatif dan tidakmempunyai makna. Sebisa mungkin kita harus menghindari budaya seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di Dunia Eropa-Barat kita banyak menemukan para artis yang terlibat skandal video porno, namun hal itu tidak lantas membuat karier keartisan mereka anjlok. Dan masyarakat di sana tampaknya memang tidak menghiraukan hal itu, sebab dalam jiwa mereka telah tertanam sikap positif dalam memandang segala sesuatu. Sehingga tidak heran bila mereka tetap memberikan apresiasi terhadap karya-karya beberapa artis—baik dalam bidang film atau musik—yang terlibat kasus serupa dengan Ariel. Kita tidak pernah menemukan seorang artis masuk penjara hanya gara-gara tersandung kasus video porno di Eropa-Barat. Saya pribadi adalah pengagum Ariel. Di Cairo, setiap kali tampil bersama group band yang menaungi saya, METRO BAND, tidak lupa saya membawakan paling tidak satu lagu ciptaan Ariel dengan PETERPAN-nya. Bahkan, di tahun 2006 yang lalu, ketika masih di Cairo-Mesir dan menjadi kandidat presiden PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), saya pernah menulis sebuah tulisan ringan bertajuk “Taman Langit” sebagai bentuk apresiasi saya terhadap album perdana PETERPAN yang telah sukses membius para penikmat musik di tanah air di awal abad millenium.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;strong face="trebuchet ms"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:IN;  mso-fareast-language:EN-US;} p  {mso-style-priority:99;  mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:IN;  mso-fareast-language:IN;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-3552112145796132952?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/3552112145796132952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=3552112145796132952' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/3552112145796132952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/3552112145796132952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2012/01/ariel-peterpan-dan-cita-masa-depan.html' title='ARIEL PETERPAN DAN  CITA MASA DEPAN INDONESIA'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-UmLFLYgX2kk/Twvh0uA4RVI/AAAAAAAAAIs/_SCC1MuP9pE/s72-c/Band%2BPeterpan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-9048322507780312530</id><published>2011-10-15T05:16:00.006+02:00</published><updated>2011-10-15T05:28:52.891+02:00</updated><title type='text'>Membaca Tradisi; Menuju Kesadaran Historis</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;TIDAK ada masyarakat atau budaya yang bisa terlepas dari masa lalu dan sejarahnya. Sebab, bagi seluruh budaya, sejarah dan tradisi merupakan khazanah simbolik dan dogmatik, di samping merupakan sistem pemikiran. Dengan demikian, kita tidak bisa membayangkan adanya suatu budaya yang tanpa sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam level sejarah, kita tidak melihat adanya keterputusan, selain karena kita senantiasa membawa tanggungjawab masa lalu, juga karena masa lalu selalu terhubung dengan masa kini—keduanya, secara bersamaan, mempunyai hubungan dengan masa depan. Tidak ada keterputusan dalam sejarah, karena sejarah bergerak secara kontinu dan berkesinambungan; sebentuk fatalisme yang dipaksakan oleh eksistensi, fatalisme hukum alam, fatalisme kesimpulan yang berhubungan dengan premis-premis, fatalisme akhir yang berhubungan dengan awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tidak mungkin memposisikan masa kini dengan masa lalu saling berhadap-hadapan, atau mengorbankan yang satu untuk kepentingan yang lain. Hal inilah yang pernah dipaparkan oleh seorang filsuf berkebangsaan mesir, Zaki Naguib Mahmud, dalam bukunya, &lt;em&gt;Tajdîd al-Fikr al-‘Arabîy&lt;/em&gt;, ketika berbicara tentang masa lalu. Menurutnya, masa lalu bukanlah seonggok mayat di dalam peti mati, yang mengharuskan kita sebagai generasi masa kini untuk menjaga dan memelihara peti mati tersebut di dalam museum. Kalau diibaratkan, tradisi layaknya derek yang dapat kita gunakan untuk menggeser beban-beban berat agar bergerak. Untuk itu, ketika kita merangkai masa lalu dengan bahan mentah (yang belum diolah) warisan nenek moyang, maka hasilnya tidak akan berarti apa-apa, kecuali kalau kita memilih nilai-nilai luhur yang dapat memperkokoh kehidupan kita di masa kini, juga sebagai persiapan untuk [membangun] masa depan. Karena kalau tidak, maka sejarah masa lalu kita akan berubah menjadi tumpukan batu keras yang justru akan menghalangi kita untuk sampai ke tujuan kita yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak adanya penentuan pijakan teoritis yang jelas dan benar dalam hal hubungan masa kini dengan masa lalu, akan membuat manusia—individu dan masyarakat—mengalami komplikasi di semua aspek dan bidang kehidupannya, karena tradisi merupakan memori umat. Selama memori ini tetap dijaga, ia akan mampu mengambil keuntungan dari pengalaman-pengalaman masa lalu dan menginvestasikan ‘memori kemarin’ untuk masa kini dan masa depan. Tanpa sedetikpun berkhayal, kita berpijak pada tradisi, karena sejarah selalu bergerak ke depan. Dan peristiwa-peristiwa, meskipun tampak sama dalam beberapa fenomena dan unsurnya, hanya saja ada banyak indikasi baru yang muncul. Makanya, fenomena-fenomena baru selalu memerlukan riset-riset baru. Dan tradisi bukanlah ‘jawaban tersedia’ bagi persoalan-persoalan masa kini. Ia hanya sekedar wadah dan memori; semakin banyak kita menampung kandungan dan subtansi wadah ini, semakin besar kemampuan kita mengatasi persoalan masa kini dan masa depan. Dengan demikian, tradisi bukanlah—sebagaimana asumsi beberapa kalangan—kendala atau rintangan bagi kemajuan dan perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, tradisi merupakan produksi dari berbagai pengetahuan, sains, adat-istiadat, seni, sastra, dan capaian material yang berakumulasi sepanjang sejarah. Ia adalah hasil upaya manusiawi yang saling berhubungan, yang dengannya umat manusia sepanjang sejarah berdiri tegak, dan sepanjang pergantian zaman produksi yang bernama ‘tradisi’ itu membentuk fenomena-fenomena material dan imaterial sekaligus model dalam prilaku dan hubungan, juga cara dalam interaksi dan pandangan terhadap segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kita tidak boleh melihat tradisi Islam sebagai akhir dari segalanya, atau satu-satunya puncak kreativitas dan potret peradaban yang paling sempurna. Ia, seperti disunggung di atas, tidak lain adalah upaya manusia yang bisa membuat lompatan kualitas dalam perjalanan manusia (pribadi dan masyarakat). Sebagai contoh, misalnya, tradisi syair yang diklaim sebagai ‘milik’ bangsa Arab—karena sejarah memperlihatkan bahwa merekalah yang paling banyak kumpulan syairnya—sehingga itu membuat mereka bangga, dan memberikan keistimewaan bagi mereka dibanding bangsa-bangsa lainnya. Akan tetapi, di masa sekarang dan masa-masa yang akan datang tradisi ini tidak boleh menjadi ikatan atas mereka. Dan apa yang dikatakan tentang syair, mungkin dikatakan juga tentang hal-hal lain termasuk bahasa yang merupakan faktor mendasar dalam pembentukan bangsa Arab dan pembentukan iklim budaya bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa lain sepanjang perjalanan sejarah. Dengan makna ini kita berinteraksi dengan tradisi, dan dengan ini pula tradisi kita akan bertransformasi menjadi salah satu faktor kekayaan dan kemajuan, tentu saja kalau kita berinteraksi sebaik mungkin dengannya dan mengambil manfaat darinya. Sebab, seperti juga sejarah, tradisi memiliki potensi untuk ‘mendorong dan membantu’, kalau kita melihatnya secara obyektif, menekankan pada sisi-sisi positif yang ada di dalamnya dan mengeluarkan darinya unsur-unsur yang dinamis supaya dapat terus hidup dan tumbuh, di samping kalau kita mencernanya dengan baik tanpa mengabaikan denyut masa kini dan kebutuhan-kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita kembali kepada tradisi dengan tujuan mengambil bekal, menggerakkan segala keinginan, melestarikan harapan, serta mencari teladan dan contoh. Maka, pengulangan tradisi dan pemanfaatannya secara negatif dengan cara berhenti padanya, dalam konteks peradaban, tidak akan mungkin melahirkan pemikiran atau budaya yang mampu membangun kaidah teoritis kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Justru hal ini akan membuat kita kehilangan hubungan yang mengikat kita dengan tradisi dan masa lalu, dalam rangka menghidupkan kreativitas dan produktivitas di masyarakat. Sebab, sejarah dalam keseluruhannya adalah sejarah kontemporer. Artinya, bahwa sejarah, dalam gambaran dasarnya, mencakup pandangan masa lalu, melalui ‘kacamata’ masa kini dan di bawah pancaran problem-problemnya. Untuk itu, tugas dasar seorang sejarawan bukan hanya melakukan kodivikasi, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah ‘mengevaluasi’ sekaligus meluruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang sama, untuk menjaga identitas budaya dan sosial, bukan dengan cara menutup diri dengan masa lalu dan berbagai kenangannya, juga bukan dengan cara membeo secara membabi buta. Tidak ada cara terbaik menjaga identitas dan tradisi masyarakat kecuali dengan mengatur ulang kehidupan intelektual, material dan moral masyarakat itu sendiri berdasarkan ketetapan-ketetapan peradaban dan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas akan mengungkapkan tentang dirinya sendiri dalam perjuangan ‘mati-matian’ untuk mengembangkan tradisi, bukan dalam pengisolasian diri di dalamnya, juga dalam pembebasan diri dari cengkraman ampas-ampas masa lalu yang buruk, serta ilusi-ilusi masa depan yang tidak jelas dan samar. Identitas akan menitis dalam proses aktivasi potensi-potensi diri dalam kemajuan dan perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah modal pertama yang perlu digunakan untuk mengembangkan masa kini guna membangun masa depan yang kita harapkan. Dan pada akhirnya, tradisi akan menjadi referensi dinamis bagi lembaga-lembaga kebudayaan-kemasyarakan-pembaharuan yang berupaya membangun masa kini masyarakat sesuai dengan ketetapan-ketetapan sejarah dan peradabannya. Selanjutnya, pembacaan terhadap tradisi dan keberpegangan kepada kekhususan-kekhususan peradaban dan diri sendiri diperlukan ketika masyarakat tunduk pada proses-proses perubahan kultural dan sosial secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan upaya apapun untuk memutus budaya masa kini masyarakat dari masa lalu dan warisan budayanya hanya akan menambah munculnya wujud-wujud sosial yang buruk, yang tidak akan mampu berbuat sesuatu apapun dalam membangun peradaban. Kita (umat Muslim) bukanlah satu-satunya yang mempunyai kepedulian membaca tradisi dan menghidupkannya. Banyak sekali kita temukan bangsa dan umat yang juga mempunyai kepedulian terhadap persoalan ini. Salah satu contoh yang paling nyata, misalnya, adalah penerjemahan epos “&lt;em&gt;Beowulf&lt;/em&gt;”[1] yang terkenal dari bahasa Inggris kuno ke bahasa Inggris modern agar mudah dibaca oleh para generasi kontemporer. Kita lihat juga bangsa Yunani yang tidak begitu saja membuang dongeng-dongeng kuno kendati itu adalah khurafat yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern, hanya saja hal itu kemudian tunduk kepada interpretasi-interpretasi psiko-analisis dan studi-studi antropologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kita dengan tradisi lebih cenderung pada level agama. Artinya, bahwa hubungan kita dengan tradisi tidak lain karena di dalam tradisi ini terdapat model penerapan agama dan prinsip-prinsip kita atau apa yang disebut dengan “Islam historis”. Sebagaimana produk-produk peradaban umat Muslim dan capaian-capaian kemanusiannya telah mengalami proses kristalisasi dan aktualisasi pada periode sejarah yang saat ini kita sebut sebagai bagian dari tradisi. Atas dasar ini, melepaskan Islam dan peradabannya dari tradisi akan membuat tradisi itu sendiri tidak mempunyai makna apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Membaca Tradisi; Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terdapat beberapa hal terkait signifikansi pembacaan ulang tradisi. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, pembaruan pandangan; bahwa membaca tradisi—sebagaimana yang saya katakan tadi—bukanlah semacam kesenangan yang dialami oleh seluruh bangsa, melainkan hal sangat penting untuk membangun masa kini. Sebab, pembacaan yang sadar terhadap warisan kebudayaan dan peradaban akan membentuk faktor-faktor psikologis, sosial dan kultural guna memperbaharui pandangan kita terhadap warisan kebudayaan kita dan bagaimana cara mengambil manfaat darinya di masa kini. Dari itu, yang kita cari sebenarnya bukan masa lalu itu sendiri, melainkan hanya untuk memperbaharui pandangan terhadap dasar-dasar, pijakan-pijakan, dan nilai-nilai yang membentuk masa lalu yang agung untuk digunakan membantu masa kini dan masa depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, tantangan realitas kontemporer; dengan proses modernisasi yang dipaksakan dan terlalu cepat di dalam dunia Islam, realitas dinamis mulai terbentuk berdasar sistem-sistem dan nilai-nilai baru, sehingga kemudian mengakibatkan terjadinya dekonstruksi terhadap sistem nilai lama. Proses ini kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Muslim. Maka, kembali kepada tradisi dan pembacaan ulang terhadapnya pada dasarnya untuk melawan upaya pengebirian nilai guna menciptakan keseimbangan di dunia Islam dalam menghadapi tantangan-tangangan realitas kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, membangun perspektif masa kini. Salah besar orang yang beranggapan bahwa membangun perspektif masa kini berjalan di jalur upaya ‘membunuh’ jati diri dan tradisi, karena tidak mungkin bagi bangsa manapun membangun perspektif-perspektif sementara ia kehilangan jati diri. Syarat pertama dan yang paling utama dalam membangun perspektif-perspektif adalah adanya jati diri ‘peradaban’. Karena itulah satu-satunya yang mampu menggerakkan seluruh unsur dan elemen masyarakat yang aktif-efektif-berkesadaran. Untuk itu, pembacaan kita terhadap tradisi bukanlah—sebagaimana anggapan banyak orang—sebentuk pelarian dari masa kini, berbagai tanggungjawab dan tantangannya. Justru itu merupakan upaya yang sadar guna memenuhi seluruh syarat untuk dapat melaju ke arah peradaban yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Ke Arah Metodologi yang Hidup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagaimana seharusnya hubungan kita dengan tradisi? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, mengetahui tradisi. Suatu komunitas masyarakat yang terlepas dari tradisi dan masa lalunya, dipastikan telah melakukan proses ‘pemberangusan’ terhadap emosi psikologis, budaya, dan sosialnya. ‘Pemberangusan’ ini akan mengakibatkan ketercerabutan dari akar dan kemudian ‘keasingan peradaban’. Untuk itu, hubungan yang seharusnya mengikat kita dengan tradisi adalah ‘hubungan pengetahuan’, sehingga memungkinkan kita mengambil manfaat semaksimal mungkin dari khazanah simbolik dan kognitif yang akan diberikan tradisi kepada siapapun yang mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, memberi tambahan kepada tradisi. Karena tradisi merupakan upaya-upaya kemanusian yang beragam yang memberi pengaruh terhadap laju perjalanan sejarah dan masyarakat, maka penghentian perjalanan kreativitas kemanusian merupakan sebentuk ‘kezhaliman’ terhadap tradisi. Karena tradisi sendiri dibangun dengan kreativitas. Untuk itu, hubungan yang seharusnya mengikat kita dengan tradisi adalah ‘hubungan penambahan’. Dalam artian, mendorong upaya-upaya kemanusiaan dalam berbagai bidang dan aspek guna meneruskan gerakan kreativitas di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu kesalahan bila dikatakan bahwa Eropa modern terlepas dari tradisi dan masa lalunya, akan tetapi yang dilakukannya adalah melepaskan diri dari belenggu gereja yang selalu memandang negatif gerakan masyarakat dan upayanya untuk melepaskan diri darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, signifikansi pembacaan tradisi muncul dari pentingnya penentuan hubungan yang sehat antara masa lalu dan masa kini, dalam level kemajuan material (hubungan manusia dengan alam) dan dalam kemampuan manusia memahami rahasia-rahasia alam, mengendalikannya, &lt;em&gt;irtifaq-an biha&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;intifa’-an minha&lt;/em&gt;, muncul problem hubungan antara masa kini dan tradisis sebagai capaian kemanusiaan-sosial yang terjadi pada suatu periode zaman dalam sejarah yang bertitik tolak dari jati diri nilai-nilai yang kita yakini. Tidak adanya penentuan hubungan yang sehat antara masa lalu dan masa kini, itulah yang memunculkan kondisi kacau seperti yang kita alami saat ini, yaitu sakralisasi absolut terhadap masa lalu dan keterpesonaan membabi buta terhadap capaian-capaian peradaban modern. Hanya pembacaan yang sadar terhadap tradisi, itulah yang akan memberikan kita kemampuan untuk menyatukan keindahan masa lalu dan kekuatan masa kini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[1] Karya sastra Inggris tertua yang kemungkinan besar ditulis pada abad ke-8 Masehi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-9048322507780312530?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/9048322507780312530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=9048322507780312530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/9048322507780312530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/9048322507780312530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/10/membaca-tradisi-menuju-kesadaran.html' title='Membaca Tradisi; Menuju Kesadaran Historis'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-4164188980972475858</id><published>2011-07-14T10:53:00.003+02:00</published><updated>2011-07-14T11:00:54.440+02:00</updated><title type='text'>Pengantar Sosiologi dalam Penelitian Sosial</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-zT-WT5Yg5L4/Th6vQAFgdTI/AAAAAAAAAIc/vy8qKCNhAHw/s1600/6504292.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 177px; height: 264px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-zT-WT5Yg5L4/Th6vQAFgdTI/AAAAAAAAAIc/vy8qKCNhAHw/s320/6504292.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629129273695565106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;DALAM rangkaian paket &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Training Metodologi Penelitian&lt;/i&gt;, Rumah KitaB menghadirkan seorang tokoh yang populer di dunia penelitian Agraria, yaitu Dr (hc). Gunawan Wiradi. Sebagaimana dikatakan ibu Lies Marcoes dalam pengantarnya, Pak Wiradi—demikian ia akrab disapa—merupakan oase dan icon pengetahuan terutama dalam bidang ilmu sosiologi. Ia dikenal sangat menguasai penelitian yang terkait dengan agraria (pertanahan) dan reformasi Agraria yang bersifat advokatif. Itu sebabnya, ia mendapatkan Doktor Honoris Causa dari Institut Pertanian Bandung (IPB). Jadi, kalau di dunia pesantren, Pak Wiradi ini adalah Hadhrah al-Syaikh, Maha Guru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada kesempatan ini, ia berbicara tentang sosiologi dan penelitian sosial mulai dari yang paling dasar sekali, bisa dikatakan sebagai pengantar. Isinya sangat umum dan elementer, tetapi sangat mendasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Penelitian itu adalah bagian integral dari suatu kegiatan ilmiah,” demikianlah ia mengawali presentasinya. Penelitian, menurutnya, bukan sekedar pengumpulan data (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;fact finding&lt;/i&gt;), dan bukan juga studi evaluasi. Misalnya, pemerintah ingin tahu dalam tahun ini berapa orang yang meninggal, lalu dicari data-datanya, ini bukan penelitian, tetapi pengumpulan data. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penelitian yang secara metodologi benar adalah penelitian yang tidak berhenti pada deskripsi, tidak hanya bersifat verifikatif secara membabi-buta, melainkan melalui tahapan-tahapan: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Pertama&lt;/i&gt;, peneliti mampu mengumpulkan data di lapangan yang secara metodologis benar lalu mengkaitkan data lapangan dengan teori. Dengan demikian,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;peneliti harus tahu teori apa yang hendak diujikan melalui penelitian itu, dan harus tahu cara menghubungkan data dengan teori; &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, peneliti mampu melakukan analisis untuk menjawab “mengapa” dan “bagaimana”. Artinya peneliti memiliki kemampuan abstraksi yang secara metodologis benar untuk menjawab pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”. Berbeda dengan pengumpulan data yang biasanya hanya menjawab “apa”, “di mana”, “siapa”, tahap analisis adalah menjawab pertanyaan lanjutannya yang lebih mendasar yaitu mengapa dan bagaimana.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Dalam penelitian, setelah ada gambaran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang dikumpulkan dari proses “apa” harus ada tahap analisis; Ketiga, penelitian harus terbuka bagi informasi ataupun kesimpulan yang tidak terduga (efek serendivitas). Artinya, kalau kita ke lapangan lalu menemukan sesuatu yang tidak terduga, atau mungkin bukan yang kita tuju, atau tidak sesuai dengan hipotesis awal, kita tidak boleh mengabaikannya, sebab justru itulah yang penting mengapa kita melakukan penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Wiradi menjelaskan bahwa sebagai kegiatan ilmiah penelitian harus memiliki unsur-unsur bangunan metode ilmah. Menurutnya ada enam unsur bangunan metode ilmiah, yaitu . (1). Subject matter (obyek telaah); (2). Paradigma (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;fundamental assumption&lt;/i&gt;); (3). Peer group; (4). Konsep-teori; (5). Metodologi; (6). Perbendaharaan istilah yang khas. Dari enam unsur ini, “peer group” dan “perbendaharaan istilah”, khususnya dalam ilmu sosiologi, di Indonesia masih belum terwujud secara sempurna, karena memang tidak jelas. Padahal ini sangat fundamental. “Peer group” di sini maksudnya adalah mengidentifikasi pemeluk paradigma yang digunakan dalam penelitian itu. Sementara perbendaharaan istilah adalah kamus istilah yang khas yang terkait dengan penelitian tersebut.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kamus istilah ini sangat penting agar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kita sebagai peneliti bisa berkomunikasi dengan para ilmuan dunia. Dalam penelitian ilmu pertanian misalnya, mereka sudah punya daftar istilah sendiri yang disepakati oleh para ilmuan dunia. Sebutlah “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;oryza sativa&lt;/i&gt;”, seluruh dunia tahu itu artinya padi. Tetapi dalam ilmu sosial, khususnya di Indonesia, kita belum punya kesepakatan. Setiap ilmuan memakai istilah sendiri-sendiri, istilah-istilah yang digunakan belum baku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Wiradi menjelaskan, bahwa dalam kegiatan ilmiah kita harus mempunyai sikap ilmiah. Sikap ilmiah itu ada enam, yaitu: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Pertama&lt;/i&gt;, obyektivitas. Intinya adalah peneliti harus punya jarak dengan obyek yang ditelitinya untuk menjamin obyektivitas peneliti agar tak memperngaruhi hasilnya. (Menurut Ibu Lies Marcoes yang disebut obyektivitas juga diperdebatkan. Penelitian yang menggunakan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;feminist theori&lt;/i&gt; bahkan menolak karena penelitian yang subyektif belum tentu tidak ilmiah atau sebaliknya yang obyektif belum tentu ilmiah dan sanggup menjaga netralitas, sebab pada dasarnya manusia memang subyektif dan ilmu-ilmu sosial tidak dapat diperlakukan sama dengan obyek ilmu alam yang eksak). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, bebas nilai. Masih terkait dengan obyektivitas untuk menjaga netralitas hasil penelitiannya, peneliti harus bebas nilai dalam arti netral terhadap obyek yang ditelitinya. Namun pendekatan ini juga disangkap oleh para peneliti terutama penelitian untuk advokasi. Peneliti biasanya tidak bebas nilai tapi membawa nilai-nilai tertentu yang mau tidak mau berpengaruh pada cara pandang dan hasil penelitiannya. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, relatif. Artinya, bahwa kebenaran ilmiah itu bersifat sementara sampai nanti ada hasil temuan baru baru yang membantahnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Keempat&lt;/i&gt;, parsimony, maksudnya sederhana, jelas, dan tidak multi-interpretasi. Misalnya ada kalimat begini: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Suatu pagi nan sejuk, di lereng gunung nun jauh di sana nampak seorang gadis cantik duduk di atas sebuah batu besar sedang menangis dengan sedihnya&lt;/i&gt;. Ini bukan kalimat ilmiah. Kenapa? (1). Sejuk itu temperaturnya berapa? &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kok&lt;/i&gt; ada gadis menangis sendirian di lereng gunung yang sejuk, apa tidak kedinginan? Jadi, sejuknya tidak jelas; (2). Nun jauh di sana ada seorang gadis cantik. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Lho&lt;/i&gt; dari jarak yang jauh &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;kok&lt;/i&gt; bisa tahu kalau itu perempuan masih gadis dan tahu bahwa itu cantik? Ini jelas tidak ilmiah. Apa bukti kalau ia seorang gadis? Tidak jelas juga; (3). Di sebuah batu besar. Seberapa besar batunya?; (4). Sedang menangis dengan sedihnya. Apa iya? Jangan-jangan ia menangis gembira, bukan sedih. Itu merupakan contoh kalimat yang tidak ilmiah. Kalau kalimat ilmiah harus sangat jelas dan tidak multi interpretasi. Misalnya: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Di pagi hari, di lereng yang berbatu, terlihat ada seorang perempuan, tampak ia sedang menangis&lt;/i&gt;. Isi kalimat ini jelas tidak ada interpretasi.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Namun memang kalimat penelitian ilmiah seringkali dianggap kering. Tetapi bukan berarti laporan penelitian tidak indah. Ada sejumlah ilmuan yang sangat trampil dalam menulis, tidak berlebihan tetapi indah. Sebut saja, misalnya, Clifford Geertz. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kelima&lt;/i&gt;, skeptis. Penelitian harus punya sikpa skeptis dalam arti terus bertanya-tanya. benarkah begini? Benarkah begitu?; &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Keenam&lt;/i&gt;, rendah hati. Seorang yang punya pandangan ilmiah harus rendah hati. Artinya, pandangan orang lain harus kita hargai. Belum tentu pandangan kita benar. Peneliti ilmah sadar bahwa kebenaran ilmiah itu sifatnya sementara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Wiradi menjelaskan, sebenarnya ada banyak teori tentang kebenaran ilmiah. Namun saat ini ada dua teori yang diterima oleh para ilmuan, yaitu: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertama&lt;/i&gt;, teori koherensi (bersifat deduktif-rasional). Artinya, sesuatu dianggap benar kalau didasarkan pada sesuatu yang lain yang sudah dianggap benar. Contohnya, di suatu daerah ada sesuatu, sebutlah sesuatu itu adalah C. Apa itu ya? Nah, kita ke lapangan, dan ternyata kita memperoleh data C sama dengan B. Tetapi apakah itu benar atau tidak? Mungkin itu benar, tetapi apa kesimpulannya? Sebelumnya sudah ada asumsi bahwa A = B. Kalau A = B dianggap benar, maka kesimpulannya adalah A = C adalah benar. Karena A = B, B = C, maka A = C adalah benar. Ini adalah teori koherensi. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, teori korespondensi (bersifat induktif-empiris), bahwa sesuatu dianggap benar kalau korespon (sesuai) dengan kenyataan (empiris). Jadi kita melihat apa adanya di lapangan. Kedua teori ini, menurut Pak Wiradi, sekarang disyaratkan di dalam kegiatan ilmiah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu, Pak Wiradi menjelaskan mengenai konsep, istilah dan definisi. Tiga hal ini sangat dasar untuk membangun kerangka berpikir dalam penelitian ilmu-ilmu sosial. Apa itu konsep? Untuk merujuk pada konsep diperlukan lambang yang singkat, yaitu yang disebut istilah. Istilah adalah kata atau kata-kata yang merujuk pada konsep. Tetapi, kalau hanya menyebut istilah, itu tidak bisa untuk menggambarkan konsep itu. Di sinilah definisi diperlukan. Definisi sendiri artinya batasan. Ia tidak mencakup keseluruhan gambaran tentang konsep. Sebab konsep adalah bayangan-banyangan kabur di dalam angan-angan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurutnya, ada dua kategori dalam konsep: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertama&lt;/i&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;logical construct&lt;/i&gt;. Artinya, konstruksi kita sendiri dalam membayangkan sesuatu; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;kedua&lt;/i&gt;, gambaran abstrak sebagai hasil generalisasi manusia menangkap suatu gejala. Misalnya begini: kita melihat ada benda terbuat dari kayu yang ada bidang datarnya, ada sandarannya dan ada kakinya. Kemudian kita melihat orang duduk di situ. Di sebelah sana ada benda terbuat dari rotan yang ada bidang datarnya, ada sandarannya, dan ada kakinya. Kemudian di sebelah sananya lagi ada benda, juga ada kakinya. Lalu di sana ada juga benda lain yang agak mirip, hanya bentuknya saja yang beda. Kita mengeneralisir benda itu. Nah, di sini ada bayangan. Setiap kali kita lihat, orang ini duduk, orang itu juga duduk. Jadi, itu tempat duduk. Supaya gampang lambangnya apa? Satu katanya saja, yaitu “kursi”. Kalau kita diminta untuk membatasi, apa yang disebut kursi? Di sini kita bicara definisi. Dan salah satu syarat membuat definisi adalah tidak boleh kelebihan juga tidak boleh kekurangan. Lalu, apa yang disebut kursi? “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kursi adalah tempat duduk yang bentuknya ada sandaran, ada bidang datar, dan ada kaki&lt;/i&gt;.” Jadi, tidak boleh kelebihan: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;yang berkaki empat&lt;/i&gt;, misalnya, soalnya ada kursi yang berkaki tiga. Juga tidak boleh kekurangan: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;kursi adalah tempat duduk&lt;/i&gt;, misalnya, sebab meja juga bisa menjadi tempat duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Wiradi juga membahas sekilas tentang ilmu-ilmu sosial. Menurutnya, ilmu sosial adalah ilmu tentang masyarakat atau ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk masyarakat. Setidaknya ada lima anggota “keluarga” dari ilmu-ilmu sosial, yaitu: ekonomi, politik, antropologi, psikologi-sosial dan sosiologi. Tetapi, menurutnya, ini tergantung tradisi setiap negara. Kalau Amerika, misalnya, ilmu sosial tidak dianggap sebagai science, melainkan seni atau&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;art karena itu gelar yang diraih mahasiswa S2 adalah MA (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Master of Art&lt;/i&gt;). Jadi seni, bukan science. Sementara ilmu fisika, biologi, kimia, itulah yang dianggap &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;science&lt;/i&gt;. Sementara dalam tradisi Inggris, juga bekas-bekas jajahan Inggris, seperti India, Pakistan, Banglades, Malaysia. Lima ilmu tadi digolongkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Sementara sejarah, psikologi, itu digolongkan ke dalam ilmu-ilmu humaniora, budaya dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di antara lima ilmu-ilmu sosial yang disebut di atas—di antara semua cabang ilmu sebenarnya—, sosiologi adalah anak bungsu dari kelaurga ilmu-ilmu sosial itu. Karena itu ada yang mengkritik sosiologi itu ilmu yang belum masak. Sebab ciri dari ilmu yang sudah masak adalah jika menganut satu paradigma, sementara dalam sosiologi, belum ditemukan satu paradigma.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Panamun pandanagn ini juga karena bias ilmu-ilmu ekakta yang positifistik. Dan karenanya ilmu sosial dianggap belum masak. Tetapi ada pembelaan diri dari G. Ritzer, misalnya, bahwa sosiologi itu adalah ilmu yang berparadigma ganda (multi-paradigm science).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu, apa ciri dan citra ilmu sosial? Pak Wiradi menyebutkan enam: (1). Ilmu sosiologi itu adalah ilmu yang berparadigma ganda (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;multi-paradigm science&lt;/i&gt;); (2). Ilmu yang berkembang dalam “kontroversi” dan “kritik diri”. Karena itu, ia terbagi menjadi beberapa “school of thoughts” aliran yang berbeda-beda. Ini implikasi dari yang pertama; (3). Sering dituduh negatif karena sering mengungkap yang latent, bukan yang manifest, yang implisit, bukan yang eksplisit; (4). Perbendaharaan terminologinya banyak mengandung istilah yang diangkat dari kata sehari-hari yang ada dalam konteks yang ditelitinya sehingga sering membingungkan. (dalam penelitian Geertz misalnya digunakan istilah-istilah yang dalam konteks tertentu tidak bisa diterapkan karena bersifat kontekstual); (5). Sosiologi adalah ilmu terbuka (pintu masuknya banyak). Kita bisa langsung bicara kemiskinan, kenakalan remaja, organisasi, dan lain sebagainya. Jadi, pintunya sangat banyak; (6). Sosiologi adalah ilmu yang tidak bebas nilai. Tetapi kegiatan ilmiah berusaha supaya obyektif, tidak bebas nilai. Misalnya kita bicara air. Kalau memakai ilmu kimia, air itu adalah H2O. Baik di Rusia, di Indonesia, di Amerika, dan di mana saja, air tetap H2O. Tidak ada air komunis, air kapitalis, misalnya. Jadi, obyektif dalam arti ini. Tetapi ketika ada sebuah gelas berisi air, kemudian diberi mantra, di beri bacaan oleh seorang kiyai, ini sudah terkait dengan nilai. Ini air dianggap air yang memiliki makna lain atau dianggap air suci. Padahal kalau dianalisa secara kimiawi air itu tetap H2O. Artinya, yang dimaksud tidak bebas nilai itu biasanya subyektivitasnya tidak bisa hilang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu ada pertanyaan, apa sebenarnya yang melahirkan sosiologi? Tidak lain, menurut Pak Wiradi, adalah kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sifat sosial ini setidak tercermin dalam empat hal: (1). Manusia adalah makhluk yang “tersosialisasi”. Artinya, pola prilakunya “terpelajari” melalui interaksinya dengan orang lain. Tidak naluriah seperti hewan. Misalnya, anjing menggonggong, itu tidak perlu diajari oleh induknya. Tetapi kalau manusia bicara itu diajari oleh orang lain di luar dirinya. Karena itu disebut tersosialisasi, prilakunya itu tersosialisasi; (2). Manusia adalah pelaku sosial. Maksudnya apa? Seorang guru, misalnya, mengajarkan suatu mata pelajaran di kelas, dan murid-muridnya mendengarkan. Ini artinya, guru itu berbuat kepada murid-muridnya, dan murid-muridnya juga berbuat kepadanya, yaitu mendengarkan. Jadi, ada timbak-balik; (3). Pola yang terbentuk dalam masyarakat mempengaruhi pola tindakan individu. Artinya, ketika suatu masyarakat prilakunya ini menjadi terpola, maka pada gilirannya akan terjadi arus-balik; pola itu akan mempengaruhi individu setelahnya. Pola prilaku masyarakat ini mempergaruhi kita, dan kita terikat dengan pola ini. Tetapi sekaligus kita adalah pelaku sosial; (4). Manusia hidup selalu membutuhkan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Terakhir, Pak Wiradi membahas sedikit tentang aras atau obyek garapan sosiologi yang terdiri dari lima tingkatan, yaitu: (1). Ada yang terfokus pada masyarakat secara keseluruhan (makro); (2). Ada yang terfokus pada organisasi sosial dari yang paling besar (masyarakat) sampai yang paling kecil (individu); (3). Ada yang fokus pada kelembagaan (ciri khas sosiologi Amerika); (4). Ada yang fokus pada masalah sosial, seperti kenakalan remaja, kemiskinan, narkoba, perceraian, dsb; (5). Ada yang fokus p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;ada interaksi tatap-muka (mikro). [Roland Gunawan]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-4164188980972475858?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/4164188980972475858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=4164188980972475858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/4164188980972475858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/4164188980972475858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/07/pengantar-sosiologi-dalam-penelitian.html' title='Pengantar Sosiologi dalam Penelitian Sosial'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zT-WT5Yg5L4/Th6vQAFgdTI/AAAAAAAAAIc/vy8qKCNhAHw/s72-c/6504292.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-4146409327745416465</id><published>2011-06-29T08:35:00.008+02:00</published><updated>2011-07-14T16:35:54.915+02:00</updated><title type='text'>Kapow! (Ketika Ide Penelitian Datang)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-xGZ2TS2wsW8/Th795VEpypI/AAAAAAAAAIk/8JFnP4YVVB8/s1600/38592_433593398072_770348072_4871964_2832674_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 190px; height: 254px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-xGZ2TS2wsW8/Th795VEpypI/AAAAAAAAAIk/8JFnP4YVVB8/s320/38592_433593398072_770348072_4871964_2832674_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629215745610730130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="Apple-style-span"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;PADA acara Training Metode Penelitian tanggal 03 Juni 2011 lalu, Rumah KitaB mendatangkan seorang antropolog dari Universitas Illinois Urbana Amerika, Dr. Jonathan Zilberg. Tema kali ini adalah bagaimana menemukan tema menarik dalam penelitian. Di awal ceramahnya Jonathan menunjukkan sebuah slide yang diambil dari presentasi Dr. Oman Fathurrahman, pakar Filologi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tentang “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;The Root of Islam in Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="Apple-style-span"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;” (Akar Islam di Indonesia). Presentasi itu disampaikan oleh Dr. Oman dalam suatu seminar di Bogor yang diselenggarakan oleh KEMENAG. Dalam data yang—oleh Dr. Oman sendiri—disebut Butterfly itu, terpampang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Database of Southeast Asian Islamic Manuscripts. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="Apple-style-span"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ada sekitar 1604 manuskrip yang terbagi ke dalam 20 disiplin keilmuan, di antaranya adalah tasawuf, fikih, teologi, hadits, astronomi, filsafat-logika, politik, pengobatan tradisional, dll. Jumlah manuskrip yang paling banyak adalah tasawuf, sekitar 321 manuskrip atau 20%. Sementara hadits hanya 8 manuskrip, filsafat-logika 8 manuskrip, politik 7 manuskrip, dan pengobatan tradisional 5 manuskrip; semua yang disebut terakhir adalah 0%.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menurut Jonathan, dari sisi pandangan antropologi, data yang dipresentasikan oleh Oman Fathurahman tersebut sebenarnya tidak berbicara apa-apa dikaitkan dengan judul presentasinya “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Akar Islam di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;”. Kenapa, misalnya, hadits, filsafat-logika, dan politik itu hanya 0%? Apa artinya itu? Hadits, filsafat-logika dan politik, meski hanya beberapa manuskrip, tidak berarti bahwa itu semua tidak menarik dan tidak penting untuk menjelaskan tentang akar Islam di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Data seperti itu seharusnya memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya, apa judul dari setiap kitab? Bagaimana kecenderungannya? Kapan itu ditulis? Kapan itu diketemukan? Di mana itu diajarkan? Siapa yang mengajarkan? Siapa yang diajar? Bagaimana itu diajarkan? Apa yang dipikirkan oleh para murid tentang kitab yang diajarkan itu? Bagaimana itu diproduksi dan reproduksi? Di pesantren mana itu diproduksi atau direproduksi? Pada kenyatannya, sekali lagi, data yang tersaji tidak menjawab apa itu akar dari Islam di Indonesia. Karena itu, judulnya mestinya bukan “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Akar Islam di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;”, akan tetapi “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Perbandingan Statistik Manuskrip&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sebetulnya, menurut Jonathan, banyak hal menarik yang bisa dijadikan tema penelitian. Sebagai contoh, misalnya, berbicara tentang realitas Islam di Indonesia, kita bisa menyoroti perdebatan soal waria. Sebagaimana jamak diketahui, bahwa kaum waria mempunyai kehidupan sendiri di tengah-tengah kehidupan umat Muslim Indonesia. Bahkan, sebelum Islam ada di bumi Indonesia, mereka sudah ada dan membaur dengan masyarakat. Namun, baru-baru ini MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap eksistensi mereka, bahkan meminta DEPKES untuk mengatasi para waria itu dengan cara mengobati mereka agar secara fisik tetap menjadi laki-laki. Tetapi yang menarik adalah, FPI yang biasanya suka “ngamuk-ngamuk” ternyata bersikap diam saja terhadap pesantren yang menampung para waria. Dan orang-orang yang ada di sekitar pesantren, misalnya, justru menyelenggarakan acara-acara keagamaan dengan para waria itu. Bagi Jonathan, ini bisa menjadi tema yang menarik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Setelah itu, Jonathan memperlihatkan sebuah foto yang menggambarkan keberadaan sebuah gereja yang rusak total akibat ulah oknum yang mengatasnamakan agama. Di bawah foto tersebut terdapat statistik hubungan Islam-Kristen di Indonesia dari tahun ke tahun sebelum dan sesudah diberlakukannya peraturan keagamaan. Seperti yang dipresentasikan oleh Oman Fathurahman, data yang diperlihatkan oleh Jonathan juga menggunakan angka-angka, tetapi itu membicarakan sesuatu, yaitu sejarah hubungan Islam-Kristen di Indonesia. Data statistik itu menunjukkan, dalam waktu setahun saja—khususnya setelah diberlakukannya peraturan keagamaan—tiba-tiba angkanya naik sedemikian rupa; semakin bertambah buruk. Hal ini dapat dilihat dari foto yang terpampang yang memperlihatkan kerusakan gereja. Foto itu, menurut Jonathan, bicara. Dan yang menarik untuk diteliti; seorang peneliti harus bertanya kepada masyarakat, ada apa? Kenapa ini terjadi? Harus mencari penjelasan terkait perubahan angka-angka itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Contoh berikutnya adalah tentang Syi’ah di Indonesia. Dalam pandangannya, Syi’ah telah melewati sejarah yang cukup panjang dan kemudian masuk ke Indonesia. Meski sebenarnya tidak ada konflik sangat mendasar dengan kelompok Sunni, tetapi kehadirannya di Indonesia menuai penolakan dari berbagai lapisan masyarakat. Yang menarik dari Syi’ah adalah soal isu gender, di mana perempuan mempunyai kedudukan yang sangat mulia bagi mereka. Mereka, misalnya, menggunakan simbol Fatimah dan Zainab. Fatimah adalah simbol dari perempuan maksum, sementara Zainab adalah simbol dari perjuangan. Jadi, dari sisi gender bisa dibilang Syi’ah cukup bagus. Dan ini juga menarik kalau digarap sebagai proyek penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Jadi, lapangan yang bisa diteliti pada hakikatnya sangat banyak dan kaya. Kalau demikian, bagaimana cara menemukan tema yang menarik? Terkait hal ini, Jonathan mengatakan bahwa setiap orang bisa menemukan tema yang menarik untuk penelitian. Dia sendiri, misalnya, sering mendapatkan ide atau gagasan secara tidak terduga; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;AHA! Think&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; atau—menurut istilah Jonathan—“Kapow”. Contohnya, belum lama ini dia melakukan penelitian tentang Museum Istiqlal. Padahal, sebelumnya dia tidak pernah sekalipun berpikir tentang hal itu. Dalam artian, dia tidak pernah memilih Museum Istiqlal sebagai obyek penelitiannya, justru Museum Istiqlal sendirilah yang seolah datang kepadanya dan memilihnya sebagai peneliti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ketertarikannya meneliti Museum Istiqlal sebenarnya berangkat dari proyek pembangunan Museum Tsunami di Aceh. Kurator untuk proyek ini adalah AD Pirous dari ITB. Pirous bilang ke Kuntoro, kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR), “Kuntoro, kalau museum ini (Museum Tsunami, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;red&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;.) dibangun seperti Museum Istiqlal, kamu tidak usah datang ke saya lagi.” Di sini nama Museum Istiqlal mulai muncul. Dan saat itu Jonathan sama sekali belum “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;ngeh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;”. Tetapi kemudian, tidak lama setelah itu, dia pergi ke Singapura untuk suatu penelitian. Secara kebetulan di sana dia bertemu dengan Prof. Anthony Reid. Saat itu Profesor Reid bilang kepadanya bahwa dia sedang mendesain Museum Tsunami yang akan menelan biaya 7 juta dollar. Dan  “Kapow”!, tiba-tiba saja Jonathan ingat nama Museum Istiqlal yang pernah disebut oleh Pirous beberapa waktu sebelumnya. “Ini dia ide menarik, aku akan meneliti Museum Istiqlal,” bisiknya dalam hati. Sambil merencanakan riset, dia bertanya kepada orang-orang tentang museum itu, tetapi tidak ada seorangpun yang tahu. Dia lalu berpikir, kalau nasib Museum Tsunami nantinya akan sama dengan nasib Museum Istiqlal, kenapa duit sebanyak 7 juta dollar itu tidak digunakan untuk mengurusi Museum Istiqlal saja?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Demikianlah Jonathan mengantarkan peserta untuk memahami bagaimana sebuah ide penelitian bisa lahir. Jika demikian, pertanyaannya kemudian, apa itu “Kapow”? “Kapow” pada hakikatnya adalah sebuah proses penemuan tema penelitian. Ketika “Kapow” itu datang—meminjam bahasa Mike George dalam bukunya, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;The 7 Aha!s of Highly Enlightened Souls&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;—, kita tiba-tiba merasa diberkati, tanpa alasan yang jelas, dengan munculnya kesadaran akan apa yang sepatutnya kita lakukan atau katakan. Tidak hanya itu, kita sepenuhnya yakin bahwa itu adalah gagasan yang sempurna kendati sebelumnya kita tidak pernah memikirkannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Bagaimana cara mendapatkan “Kapow”? Jonathan mengatakan, berdasar pengalamannya, tidak ada jalan lain selain melakukan tiga hal, yaitu: membaca, menulis, dan melakukan riset. Dia berpesan kepada para peserta yang intinya adalah, bahwa siapapun yang bercita-cita menjadi peneliti sejati, ia harus membaca terus-menerus, memperluas ragam bacaan, mengumpulkan data tanpa bosan (obsesif) melalui riset, lalu menuliskan hasil bacaan dan risetnya itu dengan ketekunan hati seakan-akan itu adalah ibadah. Tiga hal itu, yaitu membaca, menulis, dan melakukan riset, dapat memberikan ruang bagi datangnya pandangan baru yang membawa gelombang dalam kekuatan intelektual seorang peneliti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kalau dipikir-pikir, menurut Jonathan, apa yang ditempuhnya selama ini sebagai peneliti tak ubahnya seperti jalan sufi yang kental dengan nuansa mistik. Dia sering, misalnya, melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui bagaimana ujungnya, tetapi begitu sampai di ujung dia bisa melihat logika dari keseluruhan perjalanannya. Dia tiba-tiba saja menemukan sesuatu, dia membukanya, dan “Kapow!, itu tema penelitian menarik yang segera diambilnya dan kemudian dia identifikasi dengan banyak referensi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Baginya, pilihan menjadi seorang peneliti merupakan sebentuk rasa syukur karena hidup ini adalah hadiah. Seperti juga kita, sebagai orang pesantren, ketika memilih menjadi peneliti, berarti kita bersyukur karena hidup kita adalah hadiah; kita sudah dilahirkan, kita dapat hidup di dunia pesantren, kita mengalami segala sesuatu, dan melalui penelitian kita membaca kembali semua itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Jonathan mengingatkan, kita harus melakukan penelitian semata-mata karena kecintaan kepada ilmu pengetahuan dan demi kecintaan kepada dunia penelitian. Namun demikian, kita harus punya sikap politis. Dalam artian, harus ada keberpihakan. Dalam konteks penelitian museum, misalnya, Jonathan telah melakukannya dengan sungguh-sungguh berdasar metodologi dan pendekatan yang benar. Jadi, dia tidak mengkhianati pakem-pakem penelitian yang ada. Tetapi dengan penelitian itu, dia mempunyai tujuan menyetop pembangunan Museum Tsunami di Aceh karena dirasa tidak ada gunanya, hanya akan menghabis-habiskan duit saja. “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;7 million dollars for nothing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;,” katanya. Dia ingin, daripada untuk membangun Museum Tsunami yang tidak jelas itu, lebih baik uang itu digunakan untuk menghidupkan Museum Aceh yang telah ada. [Roland Gunawan]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; font-family: trebuchet ms;font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"   style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-4146409327745416465?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/4146409327745416465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=4146409327745416465' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/4146409327745416465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/4146409327745416465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/06/kapow-ketika-ide-penelitian-datang.html' title='Kapow! (Ketika Ide Penelitian Datang)'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xGZ2TS2wsW8/Th795VEpypI/AAAAAAAAAIk/8JFnP4YVVB8/s72-c/38592_433593398072_770348072_4871964_2832674_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-6070632079561136774</id><published>2011-06-09T12:19:00.003+02:00</published><updated>2011-06-09T12:24:13.812+02:00</updated><title type='text'>Metode Penelitian Naskah (Filologi)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ecM27JROmTw/TfCe37s-HoI/AAAAAAAAAIU/haEU4B6F4Ak/s1600/dick%2Bvan%2Bder%2Bmeij_1_200x0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 242px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ecM27JROmTw/TfCe37s-HoI/AAAAAAAAAIU/haEU4B6F4Ak/s320/dick%2Bvan%2Bder%2Bmeij_1_200x0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616163419087314562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;TRAINING Metode Penelitian Sosial untuk Studi Keagamaan sesi ke-2 diselenggarakan Rumah Kitab pada 27 Mei 2011 dengan menghadirkan Dr. Dick van der Miej. Ia adalah seorang filolog kawakan asal Belanda. Dengan gayanya yang sangat heboh dia memaparkan tentang bagaimana menyunting sebuah teks. Hal pertama yang sangat ditekankannya adalah bahwa sifat seorang filolog adalah harus punya disiplin. Disiplin di sini bermakna ketekunan dan ketelitian serta tanggungjawab. Tanpa mengecualikan para Filolog sejati dari Tanah Air, ia menyatakan banyak karya filolog Indonesia yang tidak diakui di dunia ilmu pengetahuan karena naskah yang diteliti dikerjakan tanpa disiplin alias &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ngawur&lt;/i&gt;. Bukan saja dari segi metodologinya, tetapi juga &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;ngawur&lt;/i&gt; dari segi penulisan, penyalinan naskah, menterjemahkan dan lain sebagainya. Dengan demikian, kalau dari awal kita sudah tidak disiplin, maka kita harus mengulangi&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; &lt;/i&gt;lagi “planing and dicipline of the study, planing what we are going to do”. “Jadi, harap bikin catatan; disiplin, disiplin, disiplin, tanpa itu anda tidak akan mungkin menjadi filolog,” demikian ia memberi penekanan tentang pentingnya disiplin sebagai bekal menjadi seorang filolog.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu, apa itu filologi? Dick tidak memberi pengertian yang bersifat mutlak, atau definisi yang bersifat definitif. Terlebih dahulu ia memenjelaskan bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak ada definisi yang mutlak. Artinya, bahwa setiap ilmuan mempunyai definisi tentang subyeknya masing-masing. Ilmu pengetahuan selalu maju dan berkembang, sehingga tidak ada seorang ilmuan pun yang bisa menetapkan definisi untuk suatu disiplin ilmu dan kemudian memaksakannya kepada ilmuan lain sepanjang waktu. Menurutnya, semua ilmu pengetahuan tidak tergantung kepada jawaban, akan tetapi tergantung kepada pertanyaan. Maksudnya, kalau seorang ilmuan menanyakan suatu persoalan, lalu ia mengerjakannya, maka akan langsung muncul pertanyaan yang lain, dan begitu seterusnya. Dan darisalalah akan muncul suatu definisi. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, filologi juga tidak mempunyai definisi yang pasti. Para filolog tidak pernah membuat suatu kesepakatan terkait kepastian definisi filologi. Kalau sejak awal mereka sudah menetapkan definisi filologi itu seperti apa, sudah barang tentu filologi akan statis tanpa mengalami perkembangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan tidak mengabaikan definisi filolog yang lain, Dick mengatakan, berdasarkan pengamalamannya sendiri selama melakukan riset di Nusantara, bahwa filologi adalah metode ilmu pengetahuan yang diterapkan untuk mengangkat teks dari naskah sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat diandalkan mewakili teks sesuai dengan keinginan filolog dan nantinya teks tersebut bisa dijelaskan serta diapresiasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dick menjelaskan bahwa filologi tidak menafsirkan tapi melulu mengangkat teks. Tugas filolog adalah melakukan langkah-langkah &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;reseach&lt;/i&gt; sebelum proses tafsir. Filologi bukan tidak mempunyai tugas untuk menafsirkan, tetapi &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;tafsir hanya pada upaya melengkapi teks berdasarkan perbandingan dengan teks lain. Di tingkat ini disiplin, kredibilitas filolog dipertaruhkan. Tugas filolog pada dasarnya hanya mengangkat teks dari naskah dan menunjukkan apa adanya, tanpa mengurangi ataupun menambahinya. Karenanya, dalam urutan-urutan ilmu pengetahuannya, filologi adalah ilmu penyokong atau pendukung data yang bertugas mencari bahan untuk riset selanjutnya. Dengan kata lain, hasil kerja filologi nantinya akan dipakai orang lain untuk ditafsirkan, untuk dijelaskan isinya dan lain sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Disiplin ilmu filologi dibutuhkan untuk menyiapkan naskah yang dapat diteliti oleh&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;peneliti lain. Dan Dick—sebagaimana diakuinya sendiri—justru sangat menyukai tugas sebagai seorang filolog. Menurutnya, sangat boleh jadi teks hasil suntingannya akan dipakai 1000 tahun kemudian. Sementara penafsiran naskah mungkin tidak akan berlangsung lama karena penafsiran itu bersifat kontekstual. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu saja, hasil suntingan dari sebuah teks diharapkan tidak hanya sesuai dengan keinginan diri sendiri, melainkan juga sesuai dengan keinginan para filolog yang lainnya, atau paling tidak diterima oleh mereka sebagai karya ilmu pengetahuan. Dalam filologi dikenal metode penyuntingan yang satu sama lain bisa berbeda. Misalnya, si D menyunting suatu teks dengan menerapkan suatu metode. Kemudian filolog lain memberikan catatan dan menyatakan tidak setuju dengan hasil suntingannya. Namun dengan pertanggung jawaban detail dan rinci terkait suntingannya, hasil kerja filolog tersebut tetap bisa diterima sebagai karya ilmu pengetahuan. Sehingga jika kelak ada riview atas hasil pekerjaannya orang hanya akan menegatakan, “Si D memakai metode ini atau itu, dan kita kurang setuju karena pertimbangan ini dan itu, tetapi hasil suntingannya tetap bisa diterima sebagai karya ilmu pengetahuan.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Dick, secara klasik, bahan filologi yang dianggap paling terpenting adalah naskah tulisan tangan. Namun ia menambahkan, bahwa ada juga filolog yang wawasannya lebih luas menggunakan teks yang sudah diterbitkan. Dan naskah sendiri tidak harus tua, bisa naskah yang baru beberapa dekade ditulis. Sebab memang tidak ada limit waktu untuk bahan baku enelitian filologi. Demikian halnya dengan ukuran naskah. Naskah bisa besar, kecil, tebal, tipis dan malahan bisa satu kalimat saja. Bagi filolog, tidak ada naskah buruk, yang ada hanya naskah yang tidak bisa digunakan karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang kita ajukan kepada teks.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Khusus di Nusantara, naskah ditulis memiliki banyak jenis huruf. Dan yang paling sering digunakan adalah huruf Arab, huruf Jawa dengan variannya yang mencakup huruf Bali dan huruf Jejawen dari Lombok. Selain itu, ada juga huruf Bugis atau Makassar. Sementara bahasanya bisa Sunda, Bugis/Makassar, Minangkabau, Malayu, Madura, Buton, Aceh, dan Sasak. Dan naskah sendiri bisa mengandung bermacam-macam teks; teks agama, sejarah, kesusastraan, sajak, ilmu kedokteran, prinbon dan catatan pribadi. Metode filologi bisa diterapkan untuk semua jenis naskah. Tidak ada filologi Islam, atau filologi Kristen, misalnya. Dan, menurut Dick, kebanyakan sebuah teks terkandung di dalam beberapa naskah. Misalnya, cerita tentang Isra` Mi’raj, yang dalam bahasa Melayu terkandung di dalam sekitar 20 naskah. Atau sebaliknya, bisa saja sebuah naskah mengandung banyak teks yang berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenapa di Nusantara ini diperlukan seorang filolog? Sebab banyak sekali, atau bahkan mencapai 90%, khazanah naskah di Indonesia yang belum pernah disentuh oleh ilmu pengetahuan. Sehingga dunia luar sama sekali tidak tahu tentang naskah-naskah di Indonesia. Dan untuk itu, kalau kita ingin memberitahukan kepada orang lain apa isi naskah-naskah yang ada di Nusantara, teksnya harus keluar dari naskah-naskah itu, baik dalam bentuk huruf ataupun dalam bentuk bahasa. Karena kebanyakan orang di dunia ini tidak tahu bahasa Jawa. Misalnya, disunting dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar lebih mendunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun Dick sangat menyayangkan, bahwa kebanyakan mahasiswa di Indonesia hanya tahu dua jenis huruf, yaitu huruf Latin dan Arab. Dan mereka akan langsung mogok kalau hendak diajarkan huruf Jawa Honocoroko dengan alasan susah. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Orang China saja, menurut Dick, kalau mau terjun ke dalam ilmu pengetahuan, harus belajar sekitar 16 ribu karakter. Jauh sekali jumlahnya bila dibandingkan dengan huruf Jawa dengan segala variannya yang hanya 60 huruf. Apakah ini yang dibilang susah? Adalah wajar bila saat ini kebudayaan Jawa mulai menyusut, karena semua orang malas belajar huruf Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian, bagaimana sebetulnya cara menyunting sebuah teks? Menurut Dick van der Miej—berdasar pengalamannya sendiri—ada enam langkah yang bisa ditempuh dalam menyunting teks. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Pertama&lt;/i&gt;, mencari subyek kajian. Kalau itu sudah selesai kita mencari naskah yang dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan kita. Tentu saja suntingan teks sendiri juga bisa kita angkat sebagai subyek dari riset kita dan hasilnya disebut suntingan teks atau edisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, membaca naskah dari awal sampai akhir. Kalau hurufnya lain dari pada huruf Latin atau Arab—karena memang kebanyakan orang Indonesia hanya memahami keduanya—kita harus belajar membaca dan menulis huruf itu dahulu. Kita juga harus mengetahui bahasa yang digunakan dalam naskah. Kalau pengetahuan kita masih kurang, jangan mengusahakan mengedit atau membaca naskah itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, kalau kita sudah memastikan bahwa naskah yang ingin kita sunting memang menarik kita harus tahu apakah teks itu pernah disunting atau belum. Kalau sudah, sebaiknya kita berusaha untuk terlebih dahulu membaca hasil penelitian itu sebelum kita meneruskan riset kita sendiri. Kalau edisi sudah bagus dan memuaskan, jangan kita ulangi. Kalau tidak memuaskan, kita lanjutkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Keempat&lt;/i&gt;, kalau kita memutuskan meneruskan keinginan kita untuk menyunting teks, kita harus mengetahui naskah-naskan yang ada di perpustakaan dunia dan infornasi itu harus kita muat dalam riset kita. Dulu semua naskah teks tertentu harus dibaca. Namun sekarang itu sudah tidak mungkin lagi, karena terlalu banyak sehingga akan membuang waktu dan energi saja. Makanya, tema kajian harus dipersempit, misalnya fokus ke tafsir atau yang lainnya. Artinya, bagaimana kita tahu apakah pertanyaan kita memang pertanyaan yang wajar dan masuk akal. Dan sebagai bahan pendamping, akan sangat baik kalau kita melihat katalogus-katalogus untuk mengetahui apakah masih ada naskah lagi dari teks yang kita ingin kaji. Sekarang sudah banyak katalogus tersedia dan kita perlu menelesurinya semua untuk mendapat gambaran tentang teks yang kita kaji. Jangan lupa sekarang era internet dan banyak katalogus dan malahan naskah sudah di digitalkan. Di samping itu, kamus juga sangat dibutuhkan, begitupun buku-buku tentang kebudayaan, untuk memahami dan mengerti teks itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kelima&lt;/i&gt;, kalau kita sudah memutuskan naskah apa yang akan kita gunakan untuk edisi kita, kita harus mendeskripsi naskah yang kita pakai. Itu dilakukan supaya pembaca dapat menggambarkan bentuk naskahnya. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Keenam&lt;/i&gt;, perlu membubuhkan catatan kaki pada edisi hasil suntingan kita. Catakan kaki ini dimaksudkan untuk menjelaskan arti sebuah kata di dalam teks ataupun untuk menjelaskan perbedaan dengan naskah-naskah yang lain. Sering perbedaannya banyak sekali sehingga banyak sekali catatan kakinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ketujuh&lt;/i&gt;, memahami teks. Langkah ini yang paling sulit dan yang paling penting. Kita harus menjelaskan isi naskah dan kaitannya dengan kebudayaan, sejarah, agama, kearifan lokal dan lain sebagainya supaya pembaca mengerti juga kenapa teks itu penting/bagus. Kalau dulu, banyak filolog cenderung tidak mau menjelaskan apa maksud teks yang disuntingnya. Tetapi saat ini, filologi modern sudah menuntut para filolog untuk juga menjelaskan isi; what is it? Apa yang membedakannya dengan teks yang lain? Kenapa teks ini perlu diangkat? Apa manfaatnya untuk pengembangan intelektualitas, misalnya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=" line-height: 115%;"&gt;Dengan memahami filologi, meski hanya sekilas, juga dengan beberapa langkah penyuntingan teks seperti dipaparkan oleh Dick, kita menjadi tahu bahwa peran filologi sangat besar bagi dunia ilmu pengetahuan. Siapa di antara kita yang akan mengira, misalnya, kitab “&lt;i&gt;al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Syarî‘ah&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-style:italic"&gt;” karya Ibn Ishaq al-Syatibi akan sampai ke tangan&lt;/span&gt; kita tanpa peran Mohammad Abduh yang telah menemukannya dalam bentuk manuskrip ketika ia berkunjung ke Tunisia pada tahun 1884 M. Dengan bantuan murid kesayangannya, Mohammad Rasyid Ridha, ia mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk menyunting kitab tersebut dan menyebar-luaskannya di tengah-tengah masyarakat Muslim sehingga bisa dimanfaatkan oleh para pemikir lainnya untuk kajian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;maqâshid al-syarî’ah&lt;/i&gt;. Kita tahu seberapa besar hasrat atau antusiasme yang dimiliki oleh pembaharu besar Mesir ini, serta besarnya upaya yang dikerahkannya untuk menghidupkan karya-karya yang merupakan representasi dari rasionalisme dan pemikiran bebas dalam tradisi Islam. Kontribusinya sangat besar dalam “mengentaskan” karya-karya tersebut dari “dari lumpur-lumpur sejarah” dan menyebarkannya di lingkungan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-6070632079561136774?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/6070632079561136774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=6070632079561136774' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/6070632079561136774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/6070632079561136774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/06/metode-penelitian-naskah-filologi.html' title='Metode Penelitian Naskah (Filologi)'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ecM27JROmTw/TfCe37s-HoI/AAAAAAAAAIU/haEU4B6F4Ak/s72-c/dick%2Bvan%2Bder%2Bmeij_1_200x0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7014976094638859480</id><published>2011-05-31T09:08:00.004+02:00</published><updated>2011-05-31T09:24:22.656+02:00</updated><title type='text'>Martin van Bruinessen dan Kitab Kuning</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fHo1jD40h1c/TeSWDAg_R_I/AAAAAAAAAII/COIfSRMJxMw/s1600/Kitab_Kuning.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 202px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fHo1jD40h1c/TeSWDAg_R_I/AAAAAAAAAII/COIfSRMJxMw/s320/Kitab_Kuning.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612776014032619506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;MARTIN van Bruinessen adalah seorang tokoh yang di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya NU, sangat tidak asing. Bukunya yang berjudul “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Kitab Kuning; Pesantren dan Tarekat&lt;/i&gt;” yang merupakan hasil penelitiannya di tahun 80-an sudah sangat dikenal oleh para tokoh pesantren, bahkan mungkin menjadi buku babon yang harus dibaca oleh siapa saja yang melakukan penelitian tentang kitab kuning.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada tanggal 20 Mei 2011 lalu, secara khusus Ibu Lies Marcoes, direktur Rumah Kitab, mengundangnya untuk memberikan kuliah perdana dalam kegiatan “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Training Metode Penelitian Sosial untuk Kajian Keagamaan&lt;/i&gt;”. Dalam ceramahnya yang berdurasi kurang lebih 1 jam itu, Martin banyak sekali menceritakan pengalamannya dalam dunia penelitian, khususnya tentang kuning, sejak pertama kali ia bekerja di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sebagai konsultan metodologi dalam suatu proyek penelitian mengenai sikap dan pandangan hidup ulama Indonesia. Baginya, proyek LIPI itu adalah suatu kesempatan yang sangat unik yang tidak pernah diperoleh oleh para peneliti lainnya. Sebagai konsultan ia juga mendapat kesempatan untuk penelitian dalam rangka mendampingi peneliti-peneliti Indonesia. Dan untuk itu, ia mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Martin—seperti dikatakannya sendiri—tidak ingat lagi kenapa ia tertarik untuk melakukan kitab kuning. Ia hanya menyebutkan salah seorang sahabat dekatnya yang juga konsultan dalam proyek ini yang merupakan peneliti senior dari Departemen Agama, Djohan Effendi, memperkenalkannya pada kajian tentang kitab kuning. Ketika itu Djohan menulis satu daftar kitab-kitab penting yang pernah dikajinya. Dari sinilah Martin kemudian berpikir dan mulai tertarik untuk melihat apakah ada perbedaan kitab-kitab yang ada di dalam pesantren. Ia berasumsi pesantren ibarat kerajaan, dan karenanya tentu punya budaya tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Muncul pertanyaan, apakah melalui kitab-kitab yang dipakai itu ia bisa melihat perbedaan antara suatu daerah dengan daerah lain atau antara pesantren yang eksklusif dengan pesantren yang inklusif? Apakah melalui kitab-kitab itu ia bisa melihat terjadinya proses islamisasi Nusantara yang berbeda-beda misalnya antara di Aceh dengan di Sumatera Utama, dan apakah di setiap daerah mempunyai sejarah yang berbeda? Sebab terkadang Islam datang dari negara lain atau dari arah lain dan ada beberapa tokoh yang mempunyai pengaruh sangat besar di daerahnya masing-masing; di daerah-daerah itu kadang-kadang ditemukan kitab yang ditulis oleh tokoh lokal, seperti Nafis al-Banjari atau Muhammad Arsyad al-Banjari di Banjarmasin, atau beberapa kiyai Betawi yang sangat terkenal, seperti Kyai Masri Betawi. Kalau semua kitab kuning yang ada itu dikumpulkan, apakah bisa menyimpulkan tentang perbedaan budaya-budaya itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Martin mengumpulkan kitab-kitab kuning. Dia datangi seluruh provinsi di Indonesi, dan di setiap kota ia selalu mencari toko kitab dan membeli semua kitab yang berhuruf Arab; bahasanya bisa Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Madura, Aceh. Dari hasil petualangannya itu terkumpul lebih dari 1000 kitab. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Martin, sekitar 100 tahun lalu, ada seorang ahli hukum asal Belanda, yaitu L.W.C. Vandenberg, yang juga mengetahui bahasa Arab dengan baik, pernah menulis artikel pendek mengenai kitab-kitab yang dipakai di pesantren. L.W.C. Vandenberg ini membuat suatu kesimpulan, setelah mengoleksi sekian banyak kitab kuning, bahwa kitab kuning yang dipakai di pesantren hanyalah kitab fikih. Di sini Martin berpikir, apakah setelah 100 tahun kemudian terjadi pergeseran atau perkembangan? Apakah kitab yang dipakai sekarang berbeda, kajiannya lebih canggih, lebih bervariasi, atau malah ada penurunan? Atau mungkin terjadi satu pergeseran dari satu ilmu keagamaan kepada ilmu yang lain? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari 1000 kitab kuning yang dikoleksinya, Martin kemudian membuat klasifikasi. Dan dari klasifikasi ini kesimpulan yang dia dapatkan adalah, bahwa kitab fikih masih mendominasi di pesantren. Tetapi kitab kumpulan hadits dan kitab tafsirnya justru mulai banyak dipelajari di pesantren dibandingkan 100 tahun sebelumnya. Sebagai salah satu kesimpulan sementara, ia berpendapat bahwa gerakan reformis yang menekankan “kembali ke al-Qur`an dan hadits” juga mempunyai dampak di pesantren. Tidak mengherankan jika di pesantren mulai banyak menekankan studi hadits dan studi tafsir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Temuan lainnya, terutama di daerah Jawa, dan ini yang tidak dilihat oleh L.W.C. Vandenberg, namun sangat menonjol, adalah bahwa ternyata banyak sekali kitab fikih dari bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Kemudian Martin juga menemukan satu kitab fikih dalam bahasa Jawa dengan huruf &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Honocoroko&lt;/i&gt;. Sebelumnya ia menyangka huruf &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Honocoroko&lt;/i&gt; hanya dipakai untuk budaya Jawa non-Islam, atau pra-Islam, atau bahkan yang Kejawen anti-Islam, tetapi ternyata ada kitab ringkasan dari “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;fah al-Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tâj&lt;/i&gt;” karya Ibn Hajar yang ditulis dalam bahasa Jawa &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Honocoroko&lt;/i&gt; dan dicetak oleh Belanda. Adalah menarik karena Belanda mencetak kitab tersebut. Sebagai seorang antropolog, Martin curiga barangkali ada usaha untuk mempengaruhi orang Islam supaya lebih menghargai &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Honocoroko&lt;/i&gt; atau upaya mengislamkan orang Jawa yang masih dalam budaya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Honocoroko&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia juga menemukan hal lain di daerah Sunda. Dalam pengetahuannya, kitab kuning lebih banyak ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab (Arab Pegon). Dan katanya, dari dulu bahasa pengantar di tataran Sunda adalah bahasa Jawa; kalau ada kitab ‘jenggotan’, itu jenggotannya bukan bahasa Sunda tetapi bahasa Jawa. Tetapi dari hasil koleksinya, Martin menemukan beberapa kitab kuning yang ditulis dalam bahasa Sunda. Dan ia menduga ini merupakan sebentuk pemberontakan terhadap tradisi Sunda yang selalu takluk kepada tradisi Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah selesai dengan upaya mengkoleksi kitab-kitab kuning, langkah selanjutnya adalah memahami isi dari semua kitab itu. Nah, dalam hal ini ada dua nama tokoh yang—menurutnya—sangat berjasa baginya. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Pertama&lt;/i&gt;, adalah Carl Brockelmann, seorang ilmuan asal Jerman, yang menulis buku lima jilid bertajuk “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sejarah Sastra Arab&lt;/i&gt;”. Buku ini oleh Martin digunakan untuk memahami hubungan antara satu kitab dengan kitab lain yang terdapat dalam koleksinya. Dengan buku karya Carl Brockelmann ini Martin menjadi tahu tentang tradisi dalam dunia kitab kuning. Sebut saja, misalnya, tentang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;syarah&lt;/i&gt; atau komentar; ada seorang penulis, kemudian setiap orang yang menyalin merasa punya hak untuk memperbaiki atau menambah, dan kalau tambahannya banyak maka itu bisa disebut &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;syarah&lt;/i&gt;. Sebagai salah satu contoh, Martin menyebutkan kitab “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;fah al-Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tâj&lt;/i&gt;”. Di Eropa banyak sekali terdapat naskah “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;fah al-Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tâj&lt;/i&gt;”, dan ia melihat banyak sekali &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;syarah&lt;/i&gt; terhadap “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;fah al-Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tâj&lt;/i&gt;” yang di antaranya diajarkan di beberapa pesantren di Indonesia. Dari sini, Martin kemudian paham mengenai genealogi atau silsilah dari kitab ke kitab. Misalnya kitab fikih; bahwa kitab fikih itu terdiri dari beberapa keluarga atau silsilah, yang semuanya hampir dimulai dengan “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;fah al-Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tâj&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, adalah Fuad Sezgin, seorang ilmuwan berkebangsaan Turki yang menulis buku 18 jilid tentang sejarah penulisan berbahasa Arab. Bukunya ini oleh Martin digunakan untuk mengetahui tulisan yang lebih awal, yaitu pada abad ke-1, 2, 3, 4, dan 5 Hijriyah. Namun Martin menekankan, bahwa informasi dari buku ini tidak begitu penting baginya. Sebab dia hanyalah seorang antropolog sekaligus sosiolog yang ingin memahami kitab kuning tidak dari segi pandangan seorang kyai atau pandangan seorang ahli sastra atau ahli akidah, tetapi melihat sejauh mana kitab kuning yang ada itu mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya kitab “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;I’ânah al-Thâlibîn&lt;/i&gt;” karya al-Malibari, yang di dalamnya terkandung beberapa hal yang bukan dari Arab, tetapi dari India. Tetapi ada satu kumpulan fatwa dari Syaikh Muda Wali, seorang ulama besar di Aceh, yang banyak mengutip al-Malibari. Di sini Martin melihat, bahwa memang ada kesesuaian antara isi kitab “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;I’ânah al-Thâlibîn&lt;/i&gt;” dengan adat istiadat di Aceh. Dan ini membawa indikasi bahwa antara fikih dan adat bisa ada kesesuaian; satu kitab fikih bisa lebih sesuai dengan suatu adat daripada kitab yang lain. Artinya, menurut pengamatan Martin, fikih itu tidak semua sama dari &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sono&lt;/i&gt;-nya, tetapi juga mengikuti perkembangan, mengikuti tradisi-budaya masyarakat. Dan ini tidak aneh kalau fikih dilihat sebagai sumber pemahaman, karena makna fikih adalah pemahaman dan pengertian; kita memahami budaya kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pandangan Martin yang demikian itu tidak bisa dilepaskan dari pandangan Ilmuwan ternama dari Pakistan, Muhammad Khalid Mas’ud, seorang ilmuwan besar yang melakukan penelitian bertajuk “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;The Social Production of Syari’ah&lt;/i&gt;”, atau “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Produksi Sosial Syariat&lt;/i&gt;”. Ia mengatakan bahwa syariat, dan terutama pemahaman syariat (fikih), adalah suatu produk sosial—syariat dibentuk oleh masyarakat. Artinya, syariat itu bukanlah suatu produk ilahiyah yang turun dari langit, tetapi merupakan hasil dari proses masyarakat dalam menerapkan wahyu ilahi. Jadi, di sana ada interaksi antara al-Qur`an dan hadits yang diproses dalam kitab fikih yang mencerminkan kondisi-kondisi masyarakat. Ini tentu saja membuat kitab fikih menjadi menarik bagi Martin; bahwa kitab fikih itu adalah kitab yang ditulis pada masa tertentu, oleh orang tertentu, yang hidup di dalam masyarakat tertentu, yang punya persoalan tertentu, dan itu barangkali mempengaruhi sedikit hal-hal mana yang sangat ditekankan. Ambil contoh misalnya masalah “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Thahârah&lt;/i&gt;” (bersuci). Dalam hal ini, antara satu daerah dengan daerah lainnya, sebetulnya tidak terjadi banyak perbedaan. Katakalah walaupun mungkin di suatu daerah persediaan airnya sedikit, tetapi &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;toh&lt;/i&gt; para mufti di sana akan menekankan aspek yang lain di dalam “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;thahârah&lt;/i&gt;”. Demikian juga, lebih-lebih, dalam masalah mu’amalah. Karena yang paling kontekstual adalah fikih mu’amalah sebab terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi sayangnya—berdasarkan koleksi Martin tahun 80-an tentunya—, kitab-kitab fikih yang ada di Indonesia hampir-hampir tidak ada fikih mu’amalahnya, yang banyak justru fikih ubudiyah. Namun belakangan, menurut Martin, sudah terjadi perkembangan, bahwa pesantren mulai mengkaji fikih mu’amalah. Tetapi ada keluhan lain dari koleksinya di LIPI, bahwa di pesantren tidak ada fikih siyasah. Padahal siyasah (politik) adalah bagian dari tradisi Islam. Apakah karena pesantren tidak mau berpolitik? Kenapa karya-karya al-Mawardi, misalnya, kurang atau bahkan sama sekali tidak diajarkan di pesantren? Ini adalah pertanyaan yang wajar dan layak diajukan. Sebab para kiyai, khususnya belakangan ini, diketahui punya naluri politik yang sangat luar biasa tinggi. Tetapi kenapa politik yang memang merupakan bagian dari tradisi Islam itu tidak diajarkan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-7014976094638859480?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/7014976094638859480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=7014976094638859480' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7014976094638859480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7014976094638859480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/05/martin-van-bruinessen-dan-kitab-kuning.html' title='Martin van Bruinessen dan Kitab Kuning'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fHo1jD40h1c/TeSWDAg_R_I/AAAAAAAAAII/COIfSRMJxMw/s72-c/Kitab_Kuning.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-6290959070988127277</id><published>2011-05-31T08:59:00.004+02:00</published><updated>2011-05-31T10:56:28.989+02:00</updated><title type='text'>Metodologi Penelitian Agama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-0uNZIHxqnkA/TeSS_YFapfI/AAAAAAAAAH4/JCdXiK2uA9Q/s1600/pel_anas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 204px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0uNZIHxqnkA/TeSS_YFapfI/AAAAAAAAAH4/JCdXiK2uA9Q/s320/pel_anas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612772653105063410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;KENAPA penelitian menjadi penting? Inilah pertanyaan pertama yang dilontarkan Pak Anas Saidi, MA. mengawali ceramahnya dalam kegiatan “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Training Metode Penelitian Sosial untuk Kajian Keagamaan&lt;/i&gt;” di Rumah Kitab pada tanggal 20 Mei 2011 yang lalu. Kepada para peserta Pak Anas mengatakan bahwa era ke depan ini bukanlah era advokasi, melainkan era penelitian. Di kalangan LSM-LSM, program advokasi terlihat semakin menyusut. Ia mencontohkan, sebuah lembaga dana internasional baru-baru ini memberikan dana untuk penelitian sampai 1 M, sementara untuk advokasi hanya 150 juta. Dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;trend&lt;/i&gt; ini terjadi di hampir semua lembaga dana. Sebagai tambahan, saat ini beberapa lembaga internasional sedang menyelenggarakan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;reseach&lt;/i&gt; tentang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;knowledge sector&lt;/i&gt;. Intinya dalah meneliti tentang kemampuan lembaga-lembaga penelitian dalam memproduksi penegetahuan melalui &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;reseach&lt;/i&gt; yang tujuannya adalah untuk mensuplay pengetahuan kepada para pengambil kebijakan.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Jelas sekali bahwa trend untuk memperkuat lembaga riset sekarang sedang tumbuh kembali.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Belakangan ini, menurut Pak Anas, banyak program penelitian yang ditawarkan oleh founding-founding secara individual, bukan rombongan. Dalam hal ini, dia mengambil contoh, misalnya, Suaidi, seorang—yang menurutnya—cukup menarik karena mempersiapkan diri sebagai peneliti secara berjenjang. Sebelumnya Suaidi bekerja di sebuah LSM sampai akhirnya bergabung dan bekerja di TAF (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;The Asian Foundition&lt;/i&gt;). Ternyata, gaji di TAF yang lumayan besar tidak membuatnya betah. Justru, dalam pikirannya, bekerja sehari-hari di dalam sebuah ruangan yang sama adalah rutinitas yang menjenuhkan. Akhirnya dia meminta TAF membiayainya untuk kursus bahasa Inggris di Australia selama 1 tahun. Sekembalinya dari Australia, dengan bekal pengalaman tulis-menulis yang memadai dan bahasa Inggris yang bagus, dia punya keinginan untuk menjadi peneliti. Untuk itu, dia mengajukan lamaran ke sebuah lembaga penelitian, namanya API, dan langsung diterima.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti yang dialami oleh Pak Anas sendiri, diterima di API berarti mempunyai kesempatan untuk meneliti di berbagai kawasan di seluruh dunia. Untuk di Jepang, misalnya, sebulan bisa mendapat gaji 6000 sampai 7000 dollar, dan kalau masih junior biasanya mendapatkan minimal 4500 dollar. Dapat dibayangkan kalau sampai setahun meneliti di sana, kalau selama melakukan penelitian hanya makan mie instan, misalnya, pulang bisa membawa kurang lebih setengah Milyar. Tentu, ini sangat menjanjikan sekali. Suaidi adalah contoh nyata dalam hal ini. Dia sudah pernah ke Jepang selama 6 bulan, bahkan sudah berkeliling Asia selama setahun. Dengan modal yang cukup besar, sekarang dia sudah membuka toko Meubel. Sementara, Pak Anas sendiri sudah pernah menjadi peneliti tamu di KYOTO University di Jepang, UPHI (Universitas Philipina), Jerman, Belanda, dll. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Itu artinya, lanjut Pak Anas, menekuni profesi sebagai peneliti dipastikan mempunyai “masa depan”—jangan hanya diterjemahkan uang, kata Pak Anas, tetapi kesempatan. Makanya dia berpesan kepada para peserta &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;training&lt;/i&gt;, mumpung masih muda, untuk tekun dalam tiga hal: (1). Tulis menulis; (2) Bahasa Inggris; dan (3). Penelitian. Dengan tiga modal ini, keliling dunia menjadi hal yang amat mudah. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Minclok&lt;/i&gt; sana, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;minclok&lt;/i&gt; sini, dan terlalu banyak beasiswa yang ditawarkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, satu hal yang sangat ditekankan Pak Anas, bahwa menjadi peneliti itu tidak bisa instan. Membutuhkan ketekunan dan sebagian besar ditentukan oleh diri sendiri. Mengikuti berbagai kuliah dan pelatihan, itu sama sekali tidak cukup untuk bekal menjadi seorang peneliti. Penelitian, menurut Pak Anas, itu seperti belajar berenang, bukan hanya teori yang dikuasai, tetapi juga praktek; berenang, berenang, dan berenang. Sama halnya dengan seks, misalnya, yang secara teori dimulai dari pemanasan, cara membuka baju begini, cara membuka celana begitu dan seterusnya. Anehnya, begitu sampai praktek, terutama penganten baru, misalnya, teori itu langsung hilang. Tetapi, bagaimanapun praktek tanpa teori adalah nonsen. Artinya, orang yang tidak mengerti teori seks, maka yang akan terjadi adalah egoisme dan subyektivisme; selalu mengobyektivikasi istri. Istri belum panas tetapi dia sudah selesai. Ini karena dia egois.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cerita yang disampaikan Pak Anas tersebut tidak lain hanya untuk merangsang gairah para peserta &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;training&lt;/i&gt; agar lebih rajin belajar menjadi peneliti. Selanjutnya, apa dan bagaimana penelitian agama itu? Di sini, terlebih dahulu Pak Anas menjelaskan apa itu agama. Menurutnya, agama itu dibagi menjadi dua: &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertama&lt;/i&gt;, agama &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wadh’îy&lt;/i&gt;, agama alam, agama kebudayaan, agama primitif, dll., yaitu sistem kepercayaan dan ritus yang tumbuh dari kearifan lokal, budaya tempatan, tradisi, leluhur, dsb. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, agama &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;samawîy&lt;/i&gt;, agama profetik, yaitu agama yang diturunkan oleh al-Khaliq melalui nabi dan rasul untuk menjadi pedoman hidup manusia. Dari sini bisa dipetakan agama sebagai obyek penelitian. Menurut perspektif ilmu agama, agama dilihat dari sudut normatifnya. Sementara menurut kaca mata ilmu pengetahuan umum/ilmu sosial, agama dilihat dari sudut empiriknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian, harus jelas apa yang dimaksud dengan penelitian agama. Tanpa kejelasan bisa menimbulkan kemarahan para penganut agama. Sebab, meneliti agama berarti meragukan kebenarannya. Bukankah penelitian itu berarti mencari kebenaran? Penelitian agama bermakna ambigu: di satu sisi penelitian agama adalah cara untuk mencari/menemukan kebenaran agama, di sisi lain penelitian agama adalah cara untuk memahami realitas empiris. Yang pertama menyangkut agama sebagai sesuatu yang diyakini dan dihayati, sedangkan yang kedua menyangkut agama sebagai &lt;i&gt;subject matter &lt;/i&gt;penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebenarnya, dalam tradisi Islam, kedua makna penelitian itu sudah ada. Beberapa tokoh bisa disebutkan di sini. Imam al-Bukhari, misalnya, meneliti hadits untuk menemukan kebenaran hadits, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;î&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; apa tidak, dengan metode sanad; Imam al-Syafi’i meneliti sumber-sumber agama untuk menentukan dan menetapkan hukum; Imam al-Ghazali meneliti untuk menemukan sikap hidup beragama yang benar; Ibn Khaldun meneliti agama untuk menemukan realitas yang sebenarnya dari umat beragama. Nah, apa yang dilakukan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Syafi’i, dan Imam al-Ghazali adalah contoh usaha untuk mendapatkan pesan yang benar dari doktrin yang diyakini. Sedangkan yang dilakukan Ibn Khaldun adalah contoh dari upaya memahami realitas sosial atau sejarah dari umat yang meyakini suatu doktrin agama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun pada titik tertentu, menurut Pak Anas, harus ada kesadaran dalam diri peneliti bahwa penelitian agama adalah menjadikan agama sebagai sasaran penelitian. Makanya, harus ada jarak antara peneliti sebagai subyek dan agama sebagai obyek. Agama harus dipandang sebagai fenomena yang riil, sekalipun mungkin terasa abstrak. &lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;Sebagai fenomena riil, menurut Taufik Abdullah, agama mengandung tiga kategori:&lt;/span&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;pertama&lt;/i&gt;, agama sebagai doktrin. Apa substansi keyakinan religius itu? Apakah yang diyakini adalah kebenaran yang hakiki? Apa makna ajaran bagi para pemeluknya? &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kedua&lt;/i&gt;, struktur dan dinamika masyarakat agama. Agama adalah dasar terbentuknya komunitas kognitif, komunitas yang dibentuk oleh pengetahuan/keyakinan yang sama. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, sikap masyarakat pemeluk terhadap doktrin, sebab dalam realitas keterikatan setiap orang terhadap agamanya tidaklah sama. Nah, dari tiga kategori ini bisa disimpulkan dua hal terkait dimensi keagamaan, seperti pernah diuraikan oleh &lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;Durkheim:&lt;/span&gt; (&lt;span style="mso-bidi-font-style:italic"&gt;1).&lt;i&gt; Biliefs, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;kepercayaan, ajaran, norma agama; (2). &lt;i&gt;Practices, &lt;/i&gt;keberagamaan, yakni perilaku yang bersumber dari ajaran agama, atau disebut juga sebagai religiusitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari uraian tersebut, lanjut Pak Anas, jelaslah bahwa sebelum melakukan penelitian agama, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan &lt;i&gt;subject matter &lt;/i&gt;atau materi (fakta, gejala) yang dikaji, dan &lt;i&gt;subject formal &lt;/i&gt;atau aspek apanya (segi tertentu) yang dikaji dari obyek itu. &lt;i&gt;Subject matter &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;maksudnya adalah pokok-pokok ajaran agama, sejarah perkembangan agama dan religiusitas umatnya.&lt;/span&gt; Adapun &lt;i&gt;subject formal&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt; maksudnya adalah mengkaji masalah di atas dari sudut pandang agama itu sendiri, bukan dari segi kemasyarakatan atau psikologi, yaitu dari usaha para penganut agama mempertahankan, mengamalkan, mengembangkan agama mereka di tengah peradaban yang terus berubah dan berkembang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi, penelitian agama bukan penelitian sosiologi agama, bukan penelitian psikologi agama, bukan penelitian komunikasi agama, bukan antropologi agama dan seterusnya. Penelitian agama adalah mengkaji pokok ajaran, sejarah perkembangan, dan tingkah laku orang yang beragama menurut pandangan agama itu sendiri. Karena itu, penelitian agama tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak mengerti agama itu. Dan umat beragama dipandang sebagai aktor sejarah, aktor kebudayaan, sebagai subyek yang berjuang untuk tujuan cita-cita kehidupan agamis yang diyakini kebenarannya di tengah masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka, dalam penelitian agama, menurut Pak Anas, ada empat hal yang bisa dekati: (a).&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Pokok-pokok ajaran agama (dokrin); (b). Hasil-hasil pemikiran filosofis, yang dalam dalam agama disebut hasil-hasil ijtihad (tafsir); (c). Tingkah laku/kehidupan keagamaan umat beragama; (d). Sosial budaya yang mempengaruhi perkembangan pemikiran/kehidupan agama. Pada bagian (a), penelitian agama hanya bisa meneliti sejarah kitab suci itu dan memahami isinya/ajaran-ajarannya. Bagian (b) bisa diteliti dengan metode philosofis dan historis. Bagian (a)&lt;b&gt; + &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;(d) &lt;/span&gt;bisa diteliti dengan metode empiris-sosiologis. Bagian (&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold"&gt;b)&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;dan &lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;(c),&lt;/span&gt; sebagai pancaran interaksi antara (&lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;a)&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;dan (&lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;d)&lt;/span&gt;, hanya bisa dimengerti dalam hubungan interaksi (&lt;span style="mso-bidi-font-weight:bold"&gt;a)&lt;/span&gt; dan (b).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah menjelaskan sekilas tentang metodologi penelitian agama, Pak Anas kemudian menggaris bawahi, bahwa tidak ada penelitian yang tingkat kerumitannya melebihi penelitian agama sebagai pesan ilahiyah yang diyakini oleh para pemeluknya memiliki unsur kesakralan dan kemutlakan yang sifatnya paska-empiris (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;beyond reality&lt;/i&gt;), yang dibenarkan sebelum dibuktikan. Agama, selain sebagai bagian dari realitas, juga bisa menjadi produsen realitas. Maksudnya begini: orang seperti Martin, kalau datang ke Indonesia untuk memahami pesantren, mau tidak mau dia harus belajar NU. Sebab, pemahaman keagaman di pesantren yang akan ditelitinya itu sebenarnya merupakan refleksi dari NU. Demikian juga Clifford Geertz&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt; &lt;/b&gt;yang meneliti tentang Priyai, Santri, dan Abangan, tidak boleh tidak dia harus belajar tentang bahasa dan budaya Jawa. Karena yang ditelitinya sebenarnya adalah refleksi dari ideologi yang paling dalam, yang dalam agama itu disebut doktrin. Makanya, dalam penelitian agama, kita tidak akan pernah bisa melihat agama kecuali pemahaman terhadap doktrinnya. Kita tidak akan pernah mengerti Iran tanpa mengerti Syi’ah, kita tidak akan pernah mengerti Indonesia tanpa mengerti NU, misalnya. Syi’ah dan NU, itu hanyalah refleksi dari tafsir terhadap doktrin, tetapi bukan doktrin itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Agama, katakanlah Islam, diyakini sebagai kehendak Tuhan yang termaktub di dalam al-Qur`an. Tetapi apa sesungguhnya yang diinginkan Tuhan kita tidak pernah tahu kecuali melalui Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi wafat, kita tidak bisa bertanya tentang al-Qur`an kecuali melalui mufasir—tafsir, sementara doktrin agama itu sendiri kita tidak pernah tahu. Misalnya Tuhan berfirman, “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Yadullâh fawqa aydîhim&lt;/i&gt;”, atau ayat-ayat &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;mutasyâbihât&lt;/i&gt;, kita hanya bisa mengira-ngira, dan kita tidak pernah tahu persis apa makna sesungguhnya. Karena itu, di dalam definisi yang namanya tafsir itu tidak mutlak. Nah, akibat dari tafsir itu tercermin di dalam realitas. Misalnya, penafsiran terhadap al-Qur`an yang menekan tekstualitas melahirkan kelompok Khawarij. Sementara penafsiran terhadap al-Qur`an yang menekankan rasionalitas melahirkan kelompok Muktazilah. Baik Khawarij, Muktazilah, dan lainnya, itu adalah dampak tafsir terhadap kitab suci. Karena itu, yang bisa dipahami oleh penelitian agama adalah yang kedua ini, yaitu tafsir dengan segala seluk-beluknya. Tentu saja kalau tafsir ini menggunakan ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu balaghah, maka ilmu-ilmu ini juga bisa diteliti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang-orang sekuler cenderung memandang agama tidak bisa menjadi nilai atau etika universal. Sebab mereka mempunyai pikiran, bahwa agama dibenarkan atau diyakini dulu, baru kemudian dibuktikan. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang bersifat induktif, dibuktikan dulu, baru kemudian diyakini. Misalnya, Tuhan mengatakan bahwa setelah kita mati ada kehidupan lagi, bagaimana ini mau diteliti? Diverifikasi juga tidak mungkin, kecuali &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;belive or not&lt;/i&gt;. Misalnya lagi, Tuhan mengatakan, “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Berdoalah kepada-Ku niscaya aku kabulkan&lt;/i&gt;,” ini juga tidak bisa diteliti dan diverifikasi. Misalnya kemudian dilakukan eksperimen; yang satu disuruh berdoa selama 24 jam sampai mencret, sementara yang lain hanya disuruh belajar tanpa berdoa sama sekali. Ketika itu keduanya sedang menghadapi ujian semester. Ternyata yang berdoa malah tidak lulus. Berarti doa itu tidak ada. Ini &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;kan&lt;/i&gt; tidak mungkin?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nah, hal-hal seperti ini memberikan pengertian kepada kita bahwa hal-hal yang bersifat doktrinal tidak bisa diteliti. Inilah yang kemudian menyebabkan sekolompok orang sekuler terkadang hanya mempercayai sesuatu yang ghaib tetapi tidak mempercayai agama. Karena bagi mereka agama seringkali menjadi sumber konflik, menjadi sub-ikatan primordial, dan seterusnya. Makanya sekarang ada jargon yang sedang populer “kesalehan tanpa beragama”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-6290959070988127277?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/6290959070988127277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=6290959070988127277' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/6290959070988127277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/6290959070988127277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/05/metodologi-penelitian-agama.html' title='Metodologi Penelitian Agama'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0uNZIHxqnkA/TeSS_YFapfI/AAAAAAAAAH4/JCdXiK2uA9Q/s72-c/pel_anas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-1177568871673001697</id><published>2011-05-31T08:48:00.003+02:00</published><updated>2011-05-31T08:56:52.157+02:00</updated><title type='text'>Pelajaran Dari Negeri India*</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VlmxAuGDD8s/TeSQtn50x8I/AAAAAAAAAHw/7F-ba6OdSpU/s1600/india_tajmahal_2003_06_2521.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 197px; height: 205px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VlmxAuGDD8s/TeSQtn50x8I/AAAAAAAAAHw/7F-ba6OdSpU/s320/india_tajmahal_2003_06_2521.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612770149090510786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;SEBUAH mitos di India mengatakan:&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah menciptakan alam Tuhan duduk untuk beristirahat. Saat itu Dia mulai berpikir tentang kehidupan makhluk-makhluk-Nya, dan bagaimana kehidupan ini nantinya. Kemudian satu masalah muncul, yakni berapa umur setiap makhluk-Nya. Akhirnya Dia memutuskan umur setiap makhluk-Nya adalah 30 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian Dia memanggil para hewan satu per satu. Awalnya Dia memulai dari Keledai. Dia berkata, “Aku tetapkan umurmu 30 tahun. Bagaimana menurutmu?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keledai berkata, “Wahai Tuhanku, apa yang Engkau buat itu? Sungguh, itu lama sekali, pasti hanya akan aku gunakan seluruhnya untuk bekerja dan berjuang keras. Aku mohon, kurangilah, aku tidak sanggup bekerja selama itu. Aku mohon, kurangilah...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tuhan pun menetapkan umurnya hanya 18 tahun. Setelah itu Dia memanggil anjing. Dia berkata, “Umurmu aku tetapkan 30 tahun. Bagaimana menurutmu?” Seketika itu anjing menggonggong sambil berkata, “Wahai Tuhanku, ini banyak sekali! Alangkah sangat panjang umurku kalau begitu! Aku tidak mau. Aku tidak sanggup menanggungnya. Apakah Engkau rela aku gunakan keseluruhan umurku itu hanya untuk menggongong, menjaga dan mengusir manusia? Aku mohon, pendekkan umurku..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tuhan pun menetapkan umurnya hanya 12 tahun. Kemudian tiba giliran kera. Tetapi ketika mendengar umurnya 30 tahun ia langsung menangis. Katanya, “Wahai Tuhanku, ini tidak boleh! Banyak sekali! Apakah Engkau rela aku hanya untuk melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan mengikatkan ekorku selama 30 tahun? Aku mohon, sekiranya Engkau sudi, kurangilah umurku...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tuhan pun menetapkan umurnya hanya 10 tahun. Terakhir, Tuhan memanggi manusia. Dia berkata, “Bagaimana pendapatmu bila Aku aku tetapkan umurmu 30 tahun? Ini banyak atau sedikit?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mendengar itu manusia langsung menangis. Lalu katanya, “Engkau katakan 30 tahun, wahai Tuhanku? Sungguh, alangkah pendeknya kehidupanku kalau begitu! Dengan umur yang hanya sebegitu aku tidak memulai kehidupanku kecuali pada saat terakhir di mana aku belum selesai membangun rumahku, menanam pohon-pohon, dan setelah itu aku ingin sekali beristirahat. Umur 30 tahun sangat tidak cukup. Bagaimana nantinya nasib istriku? Bagaimana nasib anak-anakku ketika mereka sudah dewasa dan mereka tidak melihat ayah mereka ada di antara mereka? Apa yang akan mereka lakukan?! Aku mohon, bila Engkau sudi, berilah aku umur yang lebih panjang supaya aku bisa mendidik anak-anakku dan aku menjadi tenang akan masa depan mereka. Aku mohon...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tuhan berkata, “Baik, akan Aku berikan kamu 30 tahun lagi yang Aku ambil dari umur keledai dan anjing. Apakah ini cukup?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Manusia menjawab, “Tuhanku, tidak...itu tidak cukup. Sebab anak-anakku nanti akan punya anak juga. Aku sangat ingin melihat cucu-cucuku. Aku ingin hidup bersama mereka. Aku ingin memeluk dan mengasuh mereka. Aku mohon, Tuhan...aku mohon...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tuhan berkata, “Aku telah memberikanmu umur yang banyak, akan tetapi kamu adalah makhluk yang sangat tamak dan tidak pernah puas. Baik, Aku kasih kamu 20 tahun lagi yang Aku ambil dari umur kera, apakah ini cukup?!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Manusia berterima kasih kepada Tuhan. Kemudian ia kembali ke tengah-tengah hutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;30 tahun pertama adalah kehidupannya. Di tahun-tahun ini ia merasa puas dan menikmati kehidupannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu datang 12 tahun yang diambil dari umur keledai. Di tahun-tahun ini ia bekerja dan berusaha siang-malam demi keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu datang 18 tahun yang diambil dari umur anjing. Di tahun-tahun ini ia menjadi sosok yang menari dan bermain bersama cucu-cucunya sehingga tidak bergaul dengan manusia lainnya kecuali hanya sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu datang 20 tahun yang diambil dari umur kera. Di tahun-tahun ini ia tampak lemah. Ia menyesali hari-hari petualangannya dari satu pohon ke pohon lain. Dari pohon-pohon itu ia tidak menemukan apa-apa selain kekasaran pada tangannya!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian, setiap manusia adalah campuran dari keledai, anjing dan kera.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;  &lt;span style=" line-height: 115%; "&gt;* &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Diambil dari buku &lt;/i&gt;“&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;awla al-‘Âlam fî 200 Yawm”&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; (200 Hari Keliling Dunia) karya Anis Mansur.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-1177568871673001697?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/1177568871673001697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=1177568871673001697' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/1177568871673001697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/1177568871673001697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2011/05/pelajaran-dari-negeri-india.html' title='Pelajaran Dari Negeri India*'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VlmxAuGDD8s/TeSQtn50x8I/AAAAAAAAAHw/7F-ba6OdSpU/s72-c/india_tajmahal_2003_06_2521.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7222922813728380400</id><published>2010-09-17T16:18:00.003+03:00</published><updated>2010-09-17T20:36:01.900+03:00</updated><title type='text'>Menembus Dinding Pembatas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/TJNss6qKDVI/AAAAAAAAAHc/oYdjUPnB97E/s1600/Spirit+3+jadi.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 196px; FLOAT: left; HEIGHT: 247px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517873487375109458" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/TJNss6qKDVI/AAAAAAAAAHc/oYdjUPnB97E/s320/Spirit+3+jadi.JPG" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[Pengantar Untuk Buku "&lt;em&gt;Spirit Islam Sufistik&lt;/em&gt;"]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;PADA awal Januari yang lalu, sahabat karib saya, Mukti Ali el-Qum, menawarkan kepada saya untuk menyunting naskah buku ini. Ketika itu judulnya masih “&lt;em&gt;Agama Sufistik Agama Mencerahkan; Tasawuf Sebagai Instrumen Pembacaan Terhadap Islam&lt;/em&gt;”. Tetapi KH. Husein Muhammad dan Mas Imdadun Rakhmat—keduanya adalah pemikir garda depan Indonesia—menyarankan agar judul itu diubah. Sebab, menurut keduanya, kurang mencakup keseluruhan isi buku. Untuk itu, setelah berdiskusi panjang lebar dengan Mukti Ali, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan judul “&lt;em&gt;Spirit Islam Sufistik; Tasawuf Sebagai Instrumen Pembacaan Terhadap Islam&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi saya ingin segera menyelesaikan suntingan naskah buku ini agar cepat terbit dan langsung dapat dinikmati oleh para pembaca di tanah air. Namun yang menjadi persoalan adalah, dari Januari hingga Mei saya—bersama kawan-kawan—disibukkan oleh program Yayasan Rumah KitaB, yaitu menyusun “&lt;em&gt;Ensiklopedi Kitab Kuning&lt;/em&gt;” yang memuat lebih dari tujuh ratus anotasi kitab kuning hasil survei pendahuluan di beberapa pondok pesantren tradisional di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang diberi amanah untuk menyunting, saya sudah membaca naskah buku ini dari awal sampai akhir. Saya melihat beberapa persoalan yang diangkat, seperti humanisme, demokrasi, toleransi, pluralisme agama, &lt;em&gt;wihdah al-adyân&lt;/em&gt;, feminisme, adalah isu-isu yang sebetulnya sudah sering diwacanakan oleh para pemikir kita. Hanya saja, kaca mata yang digunakan berbeda. Bila mayoritas pemikir kita melihat persoalan-persoalan tersebut melalui fikih, atau teologi, filsafat, atau bahkan politik, maka buku ini secara khusus menggunakan tasawuf sebagai instrumen pembacaannya. Sebuah upaya yang relatif masih langka dalam dinamika pemikiran Islam saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tasawuf? Sebenarnya, ini adalah pertanyaan pertama yang muncul di benak saya ketika pertama kali membaca judul buku ini. Dan penulis sudah memberikan jawaban panjang lebar di dalam pengantar dan di bab awal. Dia menjelaskan bahwa selama ini tasawuf dianggap sebagai ‘kambing hitam’ penyebab kemunduran peradaban manusia, khususnya Islam. Adanya sekelompok orang yang dengan sengaja menjauhkan diri dari kehidupan sosial hanya demi untuk mendalami tasawuf sebagai upaya pendekatan diri kepada Tuhan, adalah bukti paling nyata yang dapat menjustifikasi anggapan tersebut. Juga, menjamurnya majlis-majlis tarekat yang hanya diisi dengan dzikir-dzikir tanpa gerakan-gerakan konkret-signifikatif untuk menyelesaikan problem-problem sosial yang dihadapi masyarakat menjadi alasan cukup kuat bagi banyak kalangan untuk mengkambinghitamkan tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, anggapan negatif tersebut tidaklah sesuai dengan doktrin tasawuf sesungguhnya yang telah dibangun oleh para sufi agung atas dasar semangat untuk mengajak manusia kembali ke jati dirinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sejarah telah menunjukkan kepada kita kiprah mereka dalam perjuangan membangun moralitas kemanusiaan. Di masa sahabat, misalnya, kita mengenal Abu Dzar al-Ghifari, sosok sahabat yang disebut-sebut menjalani kehidupan asketik. Ketika kemewahan duniawi mewabah di Madinah karena melimpahnya hasil rampasan perang, dia dengan gagah berani mendatangi khalifah dan menasehati agar umat Muslim kembali kepada kehidupan prihatin, menjadikan dunia hanya sebagai halte pemberhentian sementara dan tidak hanyut dalam tipuan glamoritasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa dinasti Bani Umayyah, ketika pergolakan politik dan kekuasaan serta perluasan wilayah kekuasaan yang diwarnai atau lebih didominasi oleh kepentingan duniawi, maka para sahabat yang benar-benar menghayati makna-makna moralitas agama menarik diri dan memfokuskan perhatian untuk mengajarkan nilai-nilai agama yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan-kekuasaan otoriter yang sewenang-wenang atau penjajahan terhadap hak dan derajat kemanusiaan adalah lawan-lawan nyata bagi kaum sufi. Berita tentang perlawanan atau kepemimpinan mereka dalam menentang kesewanang-wenangan para penguasa sudah biasa ditemui dalam buku-buku sejarah atau cerita kehidupan para sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat itu, tidak diragukan lagi, bahwa tasawuf pada hakikatnya adalah perjuangan dan pemberontakan. Ia adalah perjuangan untuk meninggikan kehendak Tuhan, baik dalam realita kehidupan nyata secara umum, atau yang lebih diutamakan, di dalam hati manusia secara khusus. Ia adalah pemberontakan terhadap segala bentuk dan ragam kepentingan yang dipaksakan masuk, menggoda, dan menguasai hati manusia. Dari sisi ini, maka medan perjuangan tasawuf terletak dalam hati. Ia adalah pertempuran antara keinginan dan keinginan, antara kehendak dan kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia kita saat ini dipenuhi dengan produk-produk eksplorasi dan evolusi keinginan dan kehendak manusia. Alam dan makhluk-makhluk lain porak-poranda oleh keinginan manusia untuk mendapatkan fasilitas kehidupan. Sains dan teknologi serta pengembangannya berjalan demi untuk memenuhi keinginan-keinginan dan cita-cita manusia menikmati kehidupan yang serba mewah di dunia ini. Permainan, informasi, prestise, kekayaan, pemuasan nafsu-syahwati yang selalu dipancing setiap saat, kekuasaan dan hak milik, menjadi santapan harian bagi manusia zaman sekarang. Penemuan baru, gaya dan style baru, penampilan baru dan bahkan kehidupan baru, selalu menggoda hati dan jiwa manusia setiap saat. Tidak ada detik yang terlewati tanpa kehadiran godaan dan keinginan-keinginan tersebut. Pikiran dan hati manusia saat ini sibuk mengikuti perkembangan-perkembangan yang merayu hatinya yang memang selalu berbolak-balik dan jiwanya yang memang memiliki tabiat ke arah keburukan. Semua itu menumpuk dan berakumulasi menjadi penghalang perhatian hati dari Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan demikian tasawuf bertentangan dengan semangat zaman? Atau bertentangan dengan kemajuan dan modernitas? Atau berlawanan dengan kemajuan dan perkembangan sains dan teknologi? Atau bersebrangan dengan seluruh perkembangan kehidupan manusia berikut segenap dimensi kehidupannya? Atau bermusuhan dengan pembentukan sekaligus pengembangan budaya dan peradaban manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menyaksikan, di masa-masa awal, tepatnya pada fase-fase benih, kelahiran dan pembentukannya, tasawuf memang menitis pada ranah-ranah zhahir dan batin secara nyata. Dalam artian, spirit, norma, dan etika tasawuf, yang berada pada wilayah batin, terejawantahkan secara faktual dalam realita kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, norma menjauhkan diri dari dunia tidak hanya tertanam dalam hati, akan tetapi juga terimplementasikan secara riil dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, generasi pertama sufi lebih identik dengan zuhud (asketisme), yaitu sebuah ajaran yang menuntun manusia untuk menjauhi dunia. Zuhud merupakan benih awal sebelum kata tasawuf dikenal di dunia Islam. Generasi pertama ini lebih cenderung memiskinkan diri mereka ketimbang berusaha mendapatkan kehidupan yang mapan. Pakaian dan baju mereka pun seadanya, dari yang dapat mereka peroleh tanpa harus menyibukkan diri dan hati mereka dengan upaya untuk memperolehnya. Kehidupan mereka tenggelam dalam ibadah, perenungan, pemahaman, dan penghayatan ajaran-ajaran agama. Kesibukan dan kebahagian mereka terletak dalam kedekatan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresapan makna dan pengejewantahan moral tasawuf pada fase keterbentukannya mencakup wilayah-wilayah zhahir dan batin secara nyata sebagai sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan di dalam buku ini, tercantum cerita perdebatan pada abad pertengahan, tentang siapakah yang paling mulia atau tinggi derajatnya; orang fakir ataukah orang kaya? Dan orang fakir, dengan makna kalimat, disepakati mendapatkan derajat yang lebih tinggi dari orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu kemudian diikuti dengan pergeseran-pergeseran paradigma. Frekuensi shalat dan puasa yang banyak tidak lagi menjadi jaminan untuk mendapatkan identitas jati diri sufi, namun ia didapati dengan keamanan hati dan kedermawanan jiwa. Kondisi hati, kecenderungan, kebahagiaan, ketundukan, kepatuhan, rasa takut, harapan, cinta, dan bahkan sujudnya hati kepada Tuhan, menjadi standar pencapaian derajat dan level-level spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna batin terkesan cenderung lebih mendominasi, di mana pengejawantahan norma dan moral tasawuf lebih dititik pusatkan di dalam hati dan batin, bukan dalam bentuk-bentuk luar. Hal ini tidak diartikan sebagai penafian atau pengabaian ibadah-ibadah mahdhah. Sebab pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah ini justru menjadi jalan utama menuju Tuhan yang kemudian diikuti ibadah-ibadah sunnah. Namun makna spiritual yang ada atau yang seharusnya ada di dalam ibadah-ibadah tersebut lebih ditekankan mengiringi bentuk-bentuk luar ritual itu sendiri. Demikian pula halnya di luar ibadah murni. Ragam bentuk kehidupan yang direpresentasikan dengan pakaian, makanan, minuman, kekayaan, pangkat, kedudukan, dan sebagainya, tidak lagi menjadi standar atau wajah identitas seorang sufi. Seorang sufi bisa saja menjadi seorang presiden, menteri, pejabat, pengusaha, pedagang, petani, nelayan atau apa saja selama norma-norma ajaran sufistik terejawantahkan dalam hati, etika dan moral tingkah lakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat pergeseran-pergeseran paradigma yang terjadi, dapat dipahami bahwa tasawuf sejatinya tidak bertentangan dengan budaya dan peradaban manusia. Secara lebih konkret, tasawuf tidak berlawanan dengan kemajuan sains dan teknologi yang telah dicapai oleh kemajuan akal manusia. Tasawuf berada dalam wilayah moral dan etika yang mengarahkan manusia dalam seluruh perbuatannya. Tasawuf adalah pendidikan dan pergerakan moral yang menjadikan hati manusia lebih mengutamakan Tuhan dalam seluruh dimensi kehidupannya. Adapun pangkat, jabatan, baju, kekuasaan, hak milik, dan segala macam perangkat duniawi yang ada padanya, tidak lain hanyalah bentuk-bentuk zhahir yang dijadikan sebagai media pendekatan diri kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SAYA pernah membaca sebuah artikel pendek yang ditulis oleh seorang perempuan yang dimuat dalam sebuah surat kabar mengenai problem &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; seorang muslimah. Dalam artikel itu, si penulis mengutarakan keluh-kesah dalam upayanya menjadi muslimah yang &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;. Dia mengatakan amat susah untuk ber-Islam secara &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; sebagaimana konsep yang diterimanya. Sejak lama dia belajar hidup Islami, tetapi betapa sulitnya. Dia dilahirkan dari keluarga yang non-agamis. Dia baru mengenal Islam ketika di SMA, itupun setelah belajar secara otodidak. Dia harus menghadapi ibunya yang berbeda pemahaman agamanya. Dari keturunan ayahnya, kebanyakan adalah non-Islam. Sementara ibunya sendiri adalah Islam Kejawen; sebuah lingkungan yang sangat sinkretis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melanjutkan, kadang dia mengalami benturan budaya dalam upayanya ber-Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;. Sebagai contoh dia menyebutkan jilbab yang dianggap wajib bagi para perempuan. Tetapi ketika dia mengenakannya, ibunya malah menentang habis-habisan. Sebab, katanya, di lingkungannya jilbab tidak umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca artikel itu, saya mencoba mereka-reka apa sebenarnya makna Islam kâffah yang ada di benak perempuan tersebut. Apakah seseorang dapat dikatakan telah ber-Islam kâffah hanya karena dia mengenakan jilbab (perempuan), atau jenggot (laki-laki)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur`an disebutkan, “&lt;em&gt;Yâ ayyuh-a al-ladzîna âmanû udkhulû fî al-silm-i kâffah&lt;/em&gt;.” Menurut Abu Ishaq, makna “&lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;” dalam ayat ini adalah “&lt;em&gt;jamî’&lt;/em&gt;” (semuanya) dan “&lt;em&gt;ihâthah&lt;/em&gt;” (pencakupan). Maka, menurutnya, ayat ini boleh diartikan, “&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh, atau dalam seluruh syariatnya&lt;/em&gt;.” (Ibn Mandur, &lt;em&gt;Lisân-u al-‘Arab&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, makna yang disebutkan Abu Ishaq adalah sebuah ‘kemungkinan’. Sebab dia masih menyebut kata-kata “&lt;em&gt;fayajûz-u an yakûn-a ma’nâh-u&lt;/em&gt;” yang berarti “maka boleh jadi maknanya”. Dengan kata lain, dia tidak menetapkan makna &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; secara pasti. Itu sebabnya, kita juga bisa mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam memaknai kâffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas ada beberapa kata yang mesti kita pahami, yaitu “&lt;em&gt;al-ladzîna âmanû&lt;/em&gt;”, “&lt;em&gt;al-silm&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;”. Saya mengamati, al-Qur`an tidak pernah menyebut “&lt;em&gt;yâ ayyuh-a al-ladzîna aslamû&lt;/em&gt;” (hai orang-orang yang beragama Islam), ia lebih sering menyebut “&lt;em&gt;yâ ayyuh-a al-ladzîna âmanû&lt;/em&gt;” (hai orang-orang yang beriman). Sebab kata-kata “&lt;em&gt;orang-orang yang beriman&lt;/em&gt;” lebih dalam maknanya ketimbang “&lt;em&gt;orang-orang yang beragama Islam&lt;/em&gt;”. Dan Allah tidak menghendaki umat Muslim disebut ‘Muslim’ hanya karena beragama Islam, tetapi lebih dari itu Dia menghendaki keberislaman mereka dilandasi keimanan mendalam kepada-Nya. Maka di sini, yang dimaksud “&lt;em&gt;orang-orang yang beriman&lt;/em&gt;” oleh al-Qur`an tidak lain adalah umat Muslim sendiri. Sehingga kata “&lt;em&gt;al-silm&lt;/em&gt;” tidak perlu lagi diartikan “agama Islam”. Kata “&lt;em&gt;al-silm&lt;/em&gt;” lebih tepat dimaknai “kedamaian” sebagaimana termaktub di dalam kamus-kamus bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tentang kata “&lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;”, secara umum ia lebih populer diartikan “&lt;em&gt;jamâ’ah&lt;/em&gt;” (kelompok), atau “&lt;em&gt;jamâ’at-un min-a an-nâs&lt;/em&gt;” (sekelompok orang), atau “&lt;em&gt;jamî’&lt;/em&gt;” (semua). Namun dalam konteks ayat ini, kata “&lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;” tidak menunjukkan makna “&lt;em&gt;jamâ’at-un min-a an-nâs&lt;/em&gt;”, tetapi lebih bermakna “totalitas”. Dengan demikian, ayat itu bisa diartikan, “&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman (umat Muslim), masuklah kalian ‘semua’ ke dalam ‘kedamaian’ secara total&lt;/em&gt;.” Jelas, ini merupakan seruan kapada umat Muslim untuk selalu terlibat dalam penyebaran kedamaian secara total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya salah satu kemungkinan. Kemungkinan lain, bisa saja Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; lebih mengarah pada segi wawasan keislaman. Sebab “&lt;em&gt;al-ladzîn-a âmanû&lt;/em&gt;” (keberimanan) mensyaratkan rasionalisasi seluruh aspek yang ada dalam agama, dan rasionalisasi menuntut pengayaan nomenklatur keilmuan Islam. Di sini, Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; merupakan sebuah proses pembacaan yang terus-menerus guna menciptakan inklusivitas keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kemungkinan makna yang saya paparkan di atas barangkali masih banyak yang lain. Dan bagi saya, setiap kemungkinan itu dibutuhkan menurut konteks serta tuntutan zamannya. Abu Ishaq memaknai &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; dengan “menjalankan keseluruhan syariat [atau hukum] Islam”. Sebab, mungkin saja, wacana yang berkembang pada masanya memanglah demikian. Namun pada masa sekarang, menurut saya, kita lebih membutuhkan dua kemungkinan makna lain yang juga saya sebutkan setelahnya, yaitu “totalitas sikap dalam kedamaian” dan “totalitas semangat memperkaya wawasan keislaman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca buku yang ditulis Mukti Ali el-Qum ini, saya banyak sekali menemukan indikasi yang mengarah kepada dua kemungkinan makna di atas. Meski tidak secara langsung menyebut terma “&lt;em&gt;Islam kâffah&lt;/em&gt;”, tetapi ajaran-ajaran para sufi agung yang tersaji di dalam buku ini sarat sekali dengan nilai-nilai kedamaian dan wawasan keislaman agar umat Muslim benar-benar menjadi umat pembawa rahmat kepada seluruh alam sebagaimana dicontohkan baginda Nabi saw. Dan inilah sebenarnya, menurut saya, model Islam kâffah yang ‘dikehendaki’ Allah melalui firman-Nya di dalam al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait kemungkinan makna yang pertama, harus disadari, bahwa saat ini kedamaian merupakan kebutuhan urgen umat Muslim; kedamaian di dalam diri sendiri dan kedamaian menyangkut hubungan mereka dengan orang lain (baca; non-Muslim). Umat Muslim perlu menanamkan ‘sikap jenuh’ di dalam jiwa mereka terhadap segala bentuk pertikaian di antara mereka sendiri; yang berjilbab mencela yang tidak berjilbab, dan begitu sebaliknya; yang berjenggot memandang rendah kepada orang yang tak berjenggot, dan begitu sebaliknya; yang Ahl al-Sunnah mengkafirkan yang Syi’ah, dan begitu sebaliknya. Belum lagi pertentangan-pertentangan dengan para penganut agama-agama lain, khususnya Kristen dan Yahudi. Demikianlah kondisi umat Islam dari dulu hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sufi hadir membawa ajaran yang berbeda dengan kebanyakan ajaran pada umumnya. Perdamaian manusia adalah misi utama yang harus mereka perjuangkan tanpa peduli akan membentur otoritas yang lebih besar, baik dari kalangan para tokoh ulama atau bahkan para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa klasik, melihat maraknya perdebatan teologis di kalangan ulama kalam sebagai upaya untuk memperjuangkan kepentingan kelompok, para sufi mengatakan, “Ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan membukakan pintu amal dan menutup pintu perdebatan teologis.” Perdebatan dan kefanatikan terhadap mazhab fikih tak ayal telah memunculkan kritik dari para sufi yang mencela para figur mazhab yang tidak mengajarkan dan menanamkan ajaran moral dalam tingkah laku ritual ibadah zhahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hayyan al-Tauhidi, misalnya, tokoh sufi terbesar pada abad ke-4, mencela para tokoh mazhab yang suka mengobarkan api perpecahan di kalangan umat Muslim. Seperti dikatakannya sendiri dalam karya besarnya, “&lt;em&gt;Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu`ânasah&lt;/em&gt;”, para tokoh mazhab sudah terjangkiti virus yang menghantarkan mereka ke puncak perpecahan. Mereka saling mengeluarkan pernyataan “kafir”, saling menuduh “fasik” (menyimpang dari doktrin agama), bahkan menghalalkan darah sesama. Mulut mereka amat doyan melontarkan kata-kata menyakitkan, mencaci-maki, memfitnah, dan memutuskan tali silaturrahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulah para ulama kalam dan mazhab-mazhab fikih itu ternyata membawa akibat sangat fatal bagi mayoritas umat Muslim yang tidak hanya mengabaikan pesan-pesan kedamaian al-Qur`an, tetapi juga telah melupakan ajaran persatuan antarsesama sebagaimana digalakkan oleh Nabi saw. semasa beliau hidup. Demi melihat kualitas pluralisme internal, sedikit sekali dari umat Muslim yang berupaya untuk hidup selaras dengan spirit inklusivisme al-Qur`an sebagai rujukan utama mereka. Perbedaan tak terelakkan terhadap rujukan ini adalah pemahaman mereka dan kondisi di mana mereka tinggal. Pengabaian ambiguitas bahasa al-Qur`an, reduksi sejarah dan pengaruhnya terhadap penafsiran membawa konsekuensi tidak adanya perbedaan efektif antara moral normatif Islam dan perspektif mereka mengenai hal itu. Dan yang pasti, masing-masing mazhab atau aliran akan mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang memahami al-Qur`an secara benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga menyangkut hubungan dengan para penganut agama-agama lain. Sikap mayoritas umat Muslim dalam menjaga keimanan tidak pernah sekalipun tersentuh oleh rasa kemanusiaan dari orang-orang yang berbeda agama dengan mereka. Mereka, selain tidak merasa tergugah untuk menemukan ‘kelapangan’ dan ‘keluasan’ di dalam ranah eksklusif keimanan mereka sendiri, tidak mampu secara penuh ber-istiqâmah menyaksikan kemurahan dan kasih-sayang Tuhan, juga tidak mampu memahami pluralisme eksternal sehingga menimbulkan kekeliruan dalam memahami kemampuan para penganut agama lain untuk mendengarkan mereka sebagai bukti bahwa mereka benar dan para penganut agama-agama lain salah, selain tentunya kedalaman tekad mereka untuk mendengarkan para penganut agama-agama lain itu. Tak mengherankan kiranya bila kedamaian hanya menjadi ‘hiburan’ di alam mimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimanapun, “totalitas sikap dalam kedamaian” tidak akan mungkin terwujud tanpa “totalitas semangat memperkaya wawasan keislaman”. Wawasan keislaman yang saya maksud bukan sebatas wawasan yang dihasilkan melalui pergulatan diskursif di dalam tradisi Islam, tetapi juga wawasan progresif yang dapat mendorong kita untuk mempertanyakan kembali relevansi keimanan kita secara kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sufi, dalam hal ini, telah melakukan upaya-upaya yang layak untuk diteladani. Al-Hallaj, al-Tauhidi, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, dll. adalah tokoh-tokoh sufi yang telah berjuang demi tegaknya perdamaian antarumat beragama. Al-Hallaj, misalnya, sebagaimana termaktub di dalam buku ini, selama pengembaraannya ke beberapa negeri, telah banyak bergaul dan belajar dari orang-orang non-Muslim. Pada 899 M., dia memulai pengembaraan spiritual pertamanya ke perbatasan laut timur, lalu menuju ke selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902 M. Dalam pengembaraannya itu, dia bertemu dengan guru-guru spiritual dari berbagai agama. Dari mereka dia mempelajari banyak terminologi yang mereka gunakan untuk kemudian dia tuangkan dalam karya-karyanya. Di India, dia menyerap ilmu pengetahuan yang sedang semarak dan sangat digandrungi oleh masyarakat di sana. Sebagai konsekuensi mempelajari dan menyerap ilmu esoteris-gnosis dari banyak tradisi dan budaya dengan berlandaskan rasa kemanusiaan yang tinggi, di dalam dirinya lahir spirit inklusif dalam menyikapi perbedaan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai dialog spiritual dan tukar-menukar pengalaman spiritual pun telah dilakukan secara egaliter oleh para sufi Muslim dengan para tokoh agama-agama lain. Mereka membudayakan dialog dan saling menghargai subyektivitas spiritual masing-masing. Mereka juga saling bertukar pengalaman untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Sehingga dengan sendirinya dalam diri mereka terpatri sebuah sikap yang kerapkali diabaikan oleh mayoritas umat Muslim, yaitu ‘sikap bijak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sikap bijak’, demikianlah kira-kira—sebagaimana dipaparkan oleh Farid Esack dalam bukunya, “&lt;em&gt;On Being Muslim&lt;/em&gt;”—kita menerjemahkan kata “&lt;em&gt;al-hikmah&lt;/em&gt;”. Menurut sebuah hadits, al-hikmah atau sikap bijak adalah barang yang hilang dari orang beriman, barang yang perlu diambil kembali, dari mana pun ia berasal. Bila ‘sikap bijak’ itu ternyata adalah hasil dari keterlibatan dengan para penganut agama-agama lain, dalam hal ini adalah umat Kristiani dan umat Yahudi, itu jauh lebih baik daripada sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah permainan cantik yurisprudensis para ulama di mimbar-mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, para sufi senantiasa mendorong kepada pencarian kebenaran secara terus menerus demi terciptanya pluralisme yang sehat. Dalam pencarian kebenaran itu mereka tidak lagi mempersoalkan apakah sebuah pemikiran berasal dari Timur atau Barat, Kristen atau Yahudi. Sebab, bagi mereka, tidak ada seorang pun yang memiliki semua kebenaran, sehingga pengalaman dari tempat-tempat, bangsa-bangsa dan agama-agama lain sangat diperlukan guna membuka perspektif-perspektif kebenaran yang variatif. Dari sini, dapat dikatakan bahwa para sufi telah melakukan semacam revolusi yang mampu menciptakan rangsangan dalam pikiran mereka untuk berupaya menghimpun kebenaran-kebenaran pihak lain dan kebenaran yang mereka yakini di bawah tenda yang sama guna memecahkan problem-problem umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model keberislaman mereka itulah yang menurut saya lebih layak disebut &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; dan sangat dibutuhkan oleh umat Muslim, terutama untuk saat ini. Dengan berpijak pada ajaran-ajaran kedamaian dan pluralisme para sufi, saya katakan bahwa Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; sejatinya adalah komitmen ‘menyeluruh’ mengenai peningkatan kualitas diri melalui keterlibatan-keterlibatan bersama orang lain, dalam upaya mewujudkan dunia damai yang lebih manusiawi dan adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt;, dengan demikian, bukanlah—meminjam bahasa Abdul Karim Soroush dalam bukunya, “&lt;em&gt;Menggugat Otaritas dan Tradisi Agama&lt;/em&gt;”—sebentuk upaya ideologisasi agama, artinya mengubah agama menjadi alat fanatisme dan kebencian. Ideologisasi agama ini merupakan penyakit pemikiran agama yang kalau dibiarkan akan menjadi virus membahayakan. Dan yang membuat kita perihatin, para ulama tidak saja merasa puas diri, tetapi bahkan secara sadar terus mempropagandakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem ideologisasi agama mengajak kita untuk membedakan antara Islam sebagai identitas dan Islam sebagai kebenaran. Islam model pertama adalah alat ideologis untuk identitas sekaligus respon terhadap apa yang kita kenal saat ini “krisis identitas”. Sementara Islam model kedua menunjuk kepada Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; seperti yang saya paparkan tadi, yaitu Islam sebagai sumber kebenaran yang menunjukkan jalan kedamaian. Oleh karena itu, saya sangat mengamini perkataan Abdul Karim Soroush, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah pembawa kebenaran dan kedamaian. Para nabi, seperti yang kita tahu, pada mulanya menyeru manusia kepada kebenaran yang membawa kedamaian. Mereka mengemban misi mempercepat proses evolusi spiritual manusia, menyempurnakan kebaikan moral, memudahkan dan menafsirkan pengalaman spiritual, memperbaiki akhlak, mengajarkan hikmah dan ajaran esoteris, mengingatkan manusia akan asal-usul mereka yang sebenarnya. Nah, manakala orang-orang menerima itu dan mereka ‘disetir’ oleh disiplin agama, secara bertahap mereka membangun identitas. Tetapi, perlu digarisbawahi, membangun identitas bukanlah tujuan para nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, lagi-lagi kata Abdul Karim Soroush, salah satu penyakit teoritis di dunia Islam yang paling berat saat ini adalah, bahwa pada umumnya umat Muslim lebih suka memahami Islam sebagai identitas ketimbang sebagai kebenaran. Adalah benar bahwa mereka mempunyai identitas, tetapi mereka tidak boleh memperalat Islam demi kepentingan identitas. Identitas muncul sebagai konsekuensi tak terencana dari aksi-aksi sadar para pelaku sosial. Identitas adalah keseluruhan pencapaian materi dan pemikiran dari banyak generasi. Identitas tidak bisa muncul dari upaya sadar segelintir orang. Identitas adalah desain spontanitas. Upaya apa pun yang direncanakan justru akan merobohkan desain tersebut. Namun tidak berarti bahwa umat Muslim tidak mempunyai identitas, melainkan bahwa Islam jangan sampai disalahgunakan demi kepentingan identitas. Di sini dapat dikatakan, bahwa Islam kâffah adalah Islam yang mencakup segala macam kebenaran. Artinya, kebenaran apapun dapat duduk harmonis di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Islam kâffah juga berarti pengakuan bahwa Allah menciptakan manusia dengan keragaman. Ada yang beragama Islam, Yahudi, dan Kristen. Kalau kita membaca al-Qur`an, kita akan dapati bahwa Islam telah ada sejak Nabi Adam, tetapi bukan sebagai agama. Islam dideklarasikan sebagai agama resmi sejak adanya Nabi Muhammad saw. Sebelum beliau, Islam hanya merupakan nilai-nilai universal Tuhan sebagai petunjuk kebenaran. Dan manusia sebagai makhluk, oleh Tuhan telah dikaruniai kelebihan khusus berupa akal yang berpotensi untuk berikhtilaf. Maka, Islam sebagai nilai-nilai Tuhan itu ditafsirkan beragam oleh manusia. Orang-orang Israel (keturunan Ya’qub) menafsirkan Islam itu begini, para anggota gereja menafsirkannya begitu, dan Nabi saw. juga tidak ketinggalan memberikan penafsiran berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, mereka memilih nama-nama kesukaan masing-masing untuk disematkan kepada hasil penafsiran mereka terhadap Islam. Keturunan Ya’qub yang sangat fanatik terhadap ikatan suku Yehuda memberi nama ‘Yudaisme’. Para pengikut Isa yang tergabung dalam kelompok Messiah Yahudi memberinya nama ‘Kristiani’ yang berasal dari ‘Xristos’, terjemahan Yunani untuk ‘Meshicha’ yang merupakan istilah Aramaik yang berarti ‘yang diberi ucapan perminyakan suci’. ‘Masihi’ merupakan sebutan Arab untuk orang-orang Eropa yang disebut ‘Xristianos’. Sementara itu, Nabi Muhammad saw. nampaknya lebih menyukai nama yang mempunyai makna cukup luas dan berarti. Makanya kemudian beliau memilih nama ‘Islam’ yang berarti ‘keberserahan’. Nama tersebut diambil dari nama pertamanya sebagai jalan berserah diri kepada Tuhan demi meraih kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan historis yang demikian menuntut kita membuang jauh-jauh keinginan untuk menghina para penganut agama-agama lain. Ketika masih menjadi mahasiswa di universitas al-Azhar Mesir, saya sering mengunjungi International Books Fair yang diselenggarakan di kota Cairo. Di beberapa stand Pemeran saya menemukan puluhan bahkan ratusan buku yang berisi penghinaan terhadap agama Kristen yang dipamerkan secara terang-terangan, buku-buku yang secara sengaja ditulis untuk menyerang agama Kristen dengan menuduhnya sebagai agama kesyirikan. Bahkan terdapat CD yang dibagikan secara cuma-cuma yang memuat puluhan naskah buku, seperti “&lt;em&gt;Limâdzâ Kassarû al-Shalîb?”, “al-Ilâh al-ladzîy lâ Wujûd-a Lah-u”, “al-Nashrânîyyah min al-Wahîd Ilâ al-Muta’addid”, “Hârûnîy am Dawûdîy al-Jins”, “al-Jins fî al-‘Ahd al-Yahûdîy al-Qadîm”, “al-Kanîsah wa al-Inhirâf”, “Ummah Bilâ Shalîb”, “al-‘Aqâ`id al-Watsanîyyah fî al-Diyânah al-Nashrânîyyah&lt;/em&gt;”, dan beberapa buku lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang mengherankan, penerbitan buku-buku tersebut justru atas dukungan dari negara. Ini sangat kontras dengan kehidupan di Mesir sehari-hari. Kalau dilihat, Mesir terlihat sangat damai. Antara umat Muslim dan umat Kristiani terjadi toleransi yang sangat tinggi, terjalin solidaritas yang begitu kuat. Saya sering melihat masjid berhadap-hadapan atau berdampingan dengan gereja. Saya bahkan hampir tidak bisa membedakan mana yang Muslim atau Kristiani. Di Mesir banyak perempuan Muslim pakai kerudung, tetapi banyak juga yang tidak memakainya. Para perempuan Kristiani juga banyak yang memakai kerudung. Bagi mereka, pemakaian kerudung tidak murni semata-mata karena agama, akan tetapi karena kerudung merupakan pakaian tradisional yang dipakai secara turun-temurun. Jadi, siapapun boleh memakai kerudung, perempuan Muslim atau Kristiani. Tetapi kenapa masih ada saja orang yang berusaha memutus tali pengikat yang sudah sejak lama terjalin itu dengan menyebarkan buku-buku yang antipatif terhadap agama-agama lain. Tidak hanya di Mesir, di Indonesia pun kita sering melihat buku-buku yang berisi penghinaan terhadap Kristen dan agama-agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menolak orang lain menghina agama kita, kenapa kita mesti menghantam keyakinan orang lain yang hidup dengan dan di tengah-tengah kita? Sebelum melemparkan tuduhan kepada orang lain, kita harus yakin terlebih dahulu bahwa kita terbebas dari tuduhan yang sama. Inilah sebenarnya makna dari hadits Rasulullah saw. yang berbunyi, “&lt;em&gt;Berbahagialah bagi orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga ia melupakan aib orang lain&lt;/em&gt;.” Kalau hadits ini kita tarik kepada konteks yang lebih luas, bukan sebatas hubungan manusia dengan manusia, tetapi menyangkut hubungan antarumat beragama, maka akan bermakna, “&lt;em&gt;Berbahagialah bagi para pengikut suatu agama yang disibukkan dengan aib-aib mereka sendiri sehingga mereka melupakan aib-aib para pengikut agama lain&lt;/em&gt;.” Wajar kiranya bila umat Muslim tidak maju-maju, karena mereka selalu disibukkan dengan aktivitas mencari-cari kesalahan orang lain, tidak mau mengoreksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan menghina para penganut agama-agama lain yang dilakukan sebagian besar umat Muslim, tidak lain merupakan salah satu dampak negatif dari ideologisasi agama. Dan saya kira, problem ideologisasi agama itu tidak hanya terjadi di dunia Islam, agama Kristen, Yahudi dan agama-agama lainnya juga mengalami problem serupa. Para penganut dari masing-masing agama, dengan dalih menjaga kesucian agama, dengan serta-merta menolak bantuan orang lain. Akibatnya, agama menjadi terisolasi dan kaku. Ideologisasi agama selalu menuntut idealisme dan dogmatisme sehingga berlawanan dengan obyektivitas yang pada gilirannya mendorong seseorang memandang dunia melalui celah tunggal yang sempit. Hal ini menampakkan kesan adanya kecacatan dalam agama, padahal kecacatan itu justru terjadi dalam perspektif manusia. Sebab, pikiran manusia memang tidak bisa lepas dari pengaruh kebutuhan dan kecenderungan, sehingga pemahamannya menjadi tidak sama dengan pemahaman manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan renungan, saya ingin katakan bahwa, tidak ada agama yang ditumbuh-kembangkan dalam sebuah ‘tabung kaca’ yang tertutup dari dinamika luarnya; sejarah justru menunjukkan betapa agama merupakan sebuah pergulatan tanpa henti terhadap beragam masalah sosial dan sejumlah keterlibatan lainnya. Makanya, perbedaan pemahaman, atau lebih spesifiknya perbedaan agama, jangan sampai menjadi penghalang bagi kita untuk terlibat secara aktif bersama para penganut agama-agama lain menciptakan dunia yang damai. Sudah saatnya kita berusaha memahami para penganut agama-agama lain dengan tetap meneguhkan kepercayaan—meminjam bahasa Farid Esack—bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang berdasarkan pintu keyakinan sendiri sementara jendelanya terbuka lebar bagi yang lain. Sudah waktunya kita memperkuat diri dengan komitmen bersama guna mewujudkan tatanan hidup penuh keadilan di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, rasanya memang sangat sulit untuk menumbuhkan sikap terbuka terhadap orang lain yang berbeda agama dengan kita ketika, sekilas pandang, seolah-olah mereka hendak menghancurkan keyakinan agama kita, sementara kita berpikir bahwa agama kita adalah yang paling benar. Tetapi, akan lebih baik bila kita mengabaikan cerita-cetita menyeramkan tentang agama-agama lain dan para penganutnya, mestinya kita mendekatinya secara langsung sebagai upaya membangun sebuah ruang, meskipun kecil, yang memungkinkan orang lain ada di antara kita. Inilah makna Islam kâffah yang sebenarnya, yaitu Islam yang sejalan dengan semangat inklusivisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk permusuhan perlu segera dihindarkan. Dan kedamaian harus senantiasa ditebarkan. Sebagai umat yang secara kâffah menjalankan ajaran-ajaran Islam, kita mestinya lebih suka berdamai. Kata-kata santun yang jauh dari unsur cacian, makian dan hinaan, harus kita kedepankan demi menghormati para penganut agama-agama lain yang juga manusia seperti kita dan mempunyai hak yang sama dengan kita. Untuk saat ini, tidak relevan lagi kita memandang identitas keagamaan seseorang. Justru yang harus kita lihat adalah sisi kemanusiaannya. Sebab, masuk dan tidaknya seseorang ke dalam surga tidak ditentukan oleh agama, kelompok atau apalah namanya, melainkan ditentukan oleh kelakuan dan sepak terjangnya di muka bumi; sejauh mana kontribusinya terhadap sesama, dan apa saja yang telah diperbuatnya untuk perdamaian, ketenteraman dan kemajuan manusia. Nabi saw. pernah bersabda, “&lt;em&gt;Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita merenungkan hadits Nabi di atas. Nabi tidak mengatakan, “&lt;em&gt;Sebaik-baiknya manusia adalah yang beragama Islam&lt;/em&gt;.” Persis seperti di dalam al-Qur`an, di mana banyak di antara ayat-ayatnya yang menekankan “perbuatan baik” (&lt;em&gt;al-‘amal al-shâlih&lt;/em&gt;) sebagai syarat mutlak masuk surga. Kata “iman” dan “islam” itu lebih bermakna “kepercayaan” dan “kepasrahan” kepada Tuhan semata, bukan bermakna “afiliasi” dan “kepenganutan” terhadap agama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepercayaan” dan “kepasrahan” terhadap Tuhan pun tidak memperdulikan siapa Tuhan yang disembah. Yang penting “kebertuhanan” itu menumbuhkan sifat-sifat yang luhur di dalam diri manusia untuk kemudian diejawantahkan di dalam kehidupannya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang ingin saya tekankan di sini, bahwa model Islam &lt;em&gt;kâffah&lt;/em&gt; yang terjebak pada simbol-simbol kesalehan—yang menurut saya sama sekali tidak signifikatif—seperti jilbab dan jenggot, di samping eksklusivitas keimanan dan kungkungan ideologisasi Islam sebagai sebuah identitas, hanyalah bentukan wacana dominan yang ditopang oleh tradisi. Sebagai realitas, keberagamaan bukanlah sesuatu yang statis dan konstan. Ibarat air, ia selalu berubah bentuk, kendatipun esensinya sama. Tidak ada satu pun yang tetap dalam proses keberagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA buku mahakarya Mukti Ali el-Qum ini bagaikan menyelam ke dalam samudera dan tidak ingin muncul ke permukaan. Begitu masuk, kesejukan dan kenyamanan langsung menyambut antusiasme kita dalam membacanya. Paling tidak, itulah yang saya rasakan. Cerita-cerita kehidupan para sufi yang disuguhkan dengan bahasa yang sederhana dan tidak ‘melangit’ seperti kebiasaan para pemikir pada umumnya, membuat saya ingin sekali mempelajari tasawuf secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini, sekali lagi, membuat saya mampu menembus dinding yang selama ini menghalangi saya untuk mengetahui banyak hakikat. Maksud saya, hakikat bahwa tasawuf bukan hanya ajaran dzikir, melainkan ajaran yang hendak mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang suci sebagai khalifah Tuhan yang diberi amanah untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi; hakikat bahwa para sufi bukanlah para pertapa ‘suci’ yang mengisolasi diri dari kehidupan manusia, melainkan orang-orang yang tulus berjuang untuk tegaknya keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan manusia secara universal; hakikat bahwa Kasih-sayang Tuhan sangat luas, lebih luas daripada langit dan bumi beserta segala isinya, bahkan menenggelamkan Murka-Nya. Bila Kasih-sayang-Nya adalah samudera tak bertepi, maka Murka-Nya adalah setetes air yang larut ke dalam samudera tersebut; hakikat bahwa keragaman aliran dan agama adalah bagian dari sunnatullâh yang tak terbantahkan, selaras dengan keragaman manusia yang hidup mewarnai kehidupan ini; hakikat bahwa segala perbedaan yang tampak di dunia dunia ini tak lain adalah satu dan bersumber dari Tuhan Yang Mahasatu; dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini telah menyadarkan saya dari keterlenaan akibat buaian teks-teks yurisprudensial yang cenderung membatasi antara diri saya dan hakikat-hakikat yang saya sebutkan tadi. Sekarang jiwa saya terasa lapang. Bongkahan batu eksklusivisme iman dan radikalisme sikap yang sejak lama menindih jiwa saya kini terangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah saya alami sebelumnya, banyak dari umat Muslim yang menjadi eksklusif dan radikal karena hanya terpaku pada teks-teks yurisprudensial semata. Sangat jarang dari mereka yang mau mengkaji teks-teks hasil kerja keras dan eksperimentasi para tokoh sufi agung seperti al-Hallaj, Abu Yazid al-Busthami, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, al-Tauhidi, Suhrawardi, al-Ghazali, Mulla Shadra, dll. Mereka adalah pewaris para nabi. Mewarisi para nabi bukan hanya ilmunya, tetapi juga penderitaannya. Lihat saja al-Hallaj dan al-Tauhidi, keduanya sengsara karena ulah para ahli fikih yang menjadi budak-budak pemerintah. Demikian juga Suhrawardi yang dipenjara hanya karena mengatakan bahwa Allah dengan Kemahamampuan-Nya bisa mengutus nabi lain setelah Nabi Muhammad saw. Para ahli fikih menentang keras pendapat tersebut dengan dalih bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir. Bermodal kedekatan dengan pemerintah, mereka berhasil memenjarakannya, sampai akhirnya dia meninggal karena dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sependapat dengan Suhrawardi. Tuhan Mahamampu, hak Dia untuk mengutus nabi lain selain Nabi Muhammad saw. Hanya saja, Dia tidak akan mengingkari janji-Nya bahwa Nabi Muhammad adalah rasul yang terakhir. Namun ini tidak berarti menghilangkan Kemahamampuan Tuhan. Justru orang-orang yang menentang Suhrawardi, bagi saya, adalah orang-orang yang mengingkari Kemahamampuan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, 08 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-7222922813728380400?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/7222922813728380400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=7222922813728380400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7222922813728380400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7222922813728380400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2010/09/menembus-dinding-pembatas.html' title='Menembus Dinding Pembatas'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/TJNss6qKDVI/AAAAAAAAAHc/oYdjUPnB97E/s72-c/Spirit+3+jadi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7907843368486930286</id><published>2010-09-17T14:59:00.009+03:00</published><updated>2010-09-22T14:09:25.664+03:00</updated><title type='text'>Al-Qawâ’id al-‘Asyrah(*)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;10 Kiat Mendekati Tuhan dan Meraih Cinta-Nya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Sekilas Tentang Perjalanan Pemikiran al-Ghazali&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;HAMPIR pasti, tidak ada umat Muslim yang tak kenal Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali atau al-Imam al-Ghazali. Kalangan Ahl al-Sunnah atau biasa disebut kaum Sunni tidak sah seseorang mengaku muslim tanpa mengenal Imam al-Ghazali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa buku sejarah digambarkan, bahwa al-Ghazali, hidup di saat peradaban Islam mengalami perpecahan. Kala itu, kekhilafahan Islam di Baghdad tidak lagi menjadi pemerintahan sentral umat Muslim. Pemerintahan Islam di Baghdad harus menghadapi ancaman dari berbagai kesultanan Islam di luarnya, terutama dari dinasti Syi’ah Fathimiyah dan dinasti Buwaihiyah. Keduanya merupakan kekuatan besar yang membahayakan posisi dan otoritas kekhalifahan di Baghdad. Tidak hanya melakukan penggerusan politik melalui kekuatan militer, keduanya melakukan perlawanan melalui hegemoni budaya dan pemikiran. Cukup bisa dimengerti jika pemikiran keagamaan dianggap sebagai jalan keluar yang benar-benar dibutuhkan saat itu. Selain untuk meredam emosi masyarakat, pemikiran keagamaan dianggap dapat menjinakkan arus gelombang oposisi yang kontra terhadap pemerintahan. Dengan kerangka serupa itu, maka semua tindakan penguasa akan dianggap netral jauh dari kepentingan individu dan kelompok karena ditampilkan untuk dan atas nama agama.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justifikasi agama terhadap kekuasaan merupakan sebuah keniscayaan pada saat agama dilibatkan dalam pertarungan politik. Tak ayal, pertarungan politik kemudian menjelma menjadi pertarungan ideologi dan pemikiran. Tiap-tiap kekhalifahan berusaha menafikan legalitas pemerintahan oposan melalui wacana dan pemikiran. Pada akhirnya pemikiran dianggap sebagai senjata paling ampuh untuk merebut kekuasaan selain kekuatan militer. Dalam situasi seperti ini, peran para pemikir sangat menentukan bahkan dominan. Mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari kekuasaan. Mereka sangat dibutuhkan untuk melindungi ideologi negara dan memerangi segala bentuk pemikiran yang lahir dari pihak oposisi. Kenyataan inilah yang kemudian menobatkan gerakan intelektualitas tidak lagi sepenuhnya demi kebenaran. Mayoritas akademisi hanya berorientasi untuk mendapatkan popularitas dan kenikmatan duniawi yang diperoleh dari kedekatan dengan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kira-kira konteks sosial politik di masa al-Ghazali hidup. Karenanya bisa dimengerti, bahwa perpindahannya dari Naisabur menuju Mu’askar tidak lain untuk meraih popularitas dan mendapatkan kedudukan penting di dalam pemerintahan. Kala itu ia memposisikan diri sebagai pemikir yang getol mempertahankan ideologi resmi pemerintah. Ia merasa tertuntut menghadapi berbagai ancaman pemikiran dari kekuasaan oposan. Ia harus mampu melawan pemikiran Muktazilah di Buwaih dan pemikiran Batiniyah di Mesir. Lemahnya kekhalifahan Islam di Baghdad telah membuat aliran Sunni tercabik-cabik. Dibutuhkan upaya baru untuk menyelamatkannya dari kepunahan sekaligus untuk mengatasi krisis akibat tidak adanya kesesuaian antara metodologi dengan identitas pemikirannya. Pengingkaran aliran pemikiran yang dikembangkan kalangan Sunni terhadap kausalitas telah menabrak efektivitas metodologi Muktazilah yang sangat menuntut kepercayaan terhadap rasio. Di sinilah letak strategis kontribusi al-Ghazali. Keberhasilannya menyempurnakan metode “&lt;em&gt;qiyâs al-ghâ`ib ‘alâ al-syâhid&lt;/em&gt;” yang digunakan Muktazilah dengan cara memasukkan ilmu logika ke dalam metode tersebut. Hal itu telah membuahkan konsekuensi berupa pemaduan antara ilmu kalam dan filsafat dalam ilmu kalam Sunni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ini merupakan bukti dari kemampuan al-Ghazali membuka lembaran baru dalam dinamika pemikiran Islam. Ia mampu membawa aliran Sunni sebagai pemenang dalam dialektika pemikiran Islam klasik. Bahkan pemikirannya mampu melampaui pemikiran semua akademisi Muslim di masanya. Dalam perlawanan terhadap filsafat, al-Ghazali tidak sekedar sebagai jelmaan dari al-Juwaini. Al-Juwaini melawan filsafat hanya pada unsur-unsur eksternalnya saja, sehingga perlawanan al-Juwaini tak mampu melawan kekuatan medodologi pemikiran Muktazilah. Sedangkan al-Ghazali langsung menyentuh unsur-unsur internalnya sehingga metodenya sangat mematikan. Demikian pula dalam masalah usul fikih, al-Ghazali tidak sebatas sebagai jelmaan dari al-Syafi’i. Rumusan metodologi usul fikihnya tidak hanya berkutat pada tataran kebahasaan sebagaimana al-Syafi’i, tetapi juga merambah ke ilmu logika sebagai sebuah keharusan dalam perumusan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait ilmu logika, pendekatan al-Ghazali tidak sama dengan para akademisi lain yang konsen dalam ilmu tersebut. Promosi al-Ghazali akan urgensi ilmu logika jauh berbeda dengan promosi Ibn Hazm. Promosi al-Ghazali hanya ditujukan untuk menggantikan metodologi &lt;em&gt;‘irfânîy-bâthinîy&lt;/em&gt;, namun tidak menyentuh &lt;em&gt;‘irfânîy-shûfîy&lt;/em&gt; sebagaimana Ibn Hazm. Tidak hanya itu, dia juga tidak seperti al-Farabi yang menggunakan ilmu logika sebagai metodologi pencapaian temuan-temuan ilmiah. Al-Ghazali memfungsikan ilmu tersebut justru sebagai instrumen dalam mempertahankan pemikiran Sunni dari serangan pemikiran oposan. Dan akhirnya ia pun mampu menyudahi perangan pemikiran masa klasik dengan menjadikan Sunni sebagai pemenang, sekaligus menjadi penyebab terjadinya perpaduan antara paham Sunni dengan tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tak berlebihan kiranya bila al-Ghazali diklaim sebagai simbol intelektualitas Islam di masanya. Dalam dirinya mengalir berbagai macam intelektualitas, mulai dari ilmu fikih, ilmu kalam, filsafat, hingga tasawuf. Penguasaannya terhadap ilmu-ilmu itu sangat mendalam. Ia mampu menyaingi para akademisi yang membidangi ilmu-ilmu tersebut. Ia adalah pakar Asy’ariyah ketika mendiskusikan ilmu kalam, seorang sufi saat merumuskan metodologi tasawuf, sekaligus seorang filsuf kala membantah kerancuan-kerancuan pemikiran para filsuf.[2] Hal itu menunjukkan bahwa penguasaannya terhadap ilmu-ilmu tersebut merupakan tuntutan realitas. Posisinya sebagai akademisi dinasti Saljuk menuntut dirinya untuk menguasai segala kecenderungan pemikiran. Ia harus menguasai ilmu kalam agar mampu memberangus pemikiran Muktazilah, menguasai filsafat dan tasawuf guna melawan pemikiran Syi’ah Bathiniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf merupakan fase terakhir dari perkembangan pemikiran al-Ghazali. Pada fase ini, al-Ghazali menemukan apa yang dinamakannya ‘hakikat kebenaran’. Hakikat kebenaran itu diperolehnya setelah mengalami skeptisme berat. Ia menceritakan pengalamannya itu di dalam sebuah kitab berjudul “al-Munqidz min al-Dhalâl”. Kitab ini memaparkan bagaimana al-Ghazali keluar dari derita skeptisme yang membuatnya mempertanyakan setiap kebenaran sampai membuat tubuhnya menjadi lemah dan tidak dapat melakukan apa-apa. Al-Ghazali berhasil mengakhiri penderitaan itu setelah mendapatkan cahaya Tuhan yang memercik ke dalam lubuk hatinya. Dengan cahaya Tuhan itulah dia mampu menemukan hakikat kebenaran.[3] Rupa-rupanya, kembali kepada Tuhan adalah solusi terbaik setelah mengalami kebingungan dalam menentukan kebenaran. Kebenaran telah terpecah-pecah akibat perbedaan akal manusia. Hal ini tentu saja menuntut adanya ‘campur tangan’ Tuhan yang terjewantahkan dalam wujud sebuah ilham yang tidak bisa ditalar oleh rasio.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kitab “&lt;em&gt;al-Munqidz min al-Dhalâl&lt;/em&gt;” adalah biografi al-Ghazali dalam menemukan hakikat kebenaran, maka kitab “&lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt;” merupakan pemaparan mengenai hakikat kebenaran itu sendiri. Kitab ini telah memicu laju perkembangan tasawuf dalam peradaban Islam. Kelebihan kitab ini tidak hanya terletak pada materi tasawufnya semata, melainkan juga pada mekanisme penanaman materi itu di dalam peradaban Islam. Al-Ghazali menanamkan pemikiran-pemikiran tasawuf tersebut melalui jalur resmi pemikiran Sunni, yaitu fikih.[5] Di sini, ia menganggap ibadah tidak hanya berupa praktek zhahiriyah semata, tetapi juga mencakup aspek bathiniyah. Ia berusaha memberikan signifikasi spiritual lebih mendalam terhadap semua ibadah wajib dalam Islam. Bersuci, shalat, puasa, zakat, dan haji bukan hanya merupakan amal zhahir, tetapi juga merupakan amal batin. Selain itu, al-Ghazali juga berusaha memperlebar arti ibadah hingga tidak hanya mencakup hal-hal yang wajib. Semua aktivitas manusia dapat pula dianggap sebagai ibadah asalkan disisipi dengan makna-makna spiritual.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lain dari kitab tersebut terletak pada metodologi tasawuf yang ditawarkan al-Ghazali. Tidak seperti para filsuf yang mencukupkan diri pada capaian keilmuan, juga tidak seperti para ahli fikih yang mencukupkan diri pada praktek amaliah, al-Ghazali justru berusaha membangun metodologi tasawufnya melalui penyatuan antara ilmu dan amal. Menurutnya, mempelajari ilmu tasawuf harus didahulukan sebelum menceburkan diri ke dalam dunia tasawuf. Ilmu sangatlah dibutuhkan dalam dunia tasawuf dan lebih utama dari semua ibadah yang dijalankan tanpa ilmu.[7] Ini menandakan bahwa al-Ghazali memasuki dunia tasawuf setelah menguasai ilmunya. Ilmu itu diperolehnya melalui kitab-kitab karya para imam sufi. Al-Ghazali telah mempelajari kitab “&lt;em&gt;Qût al-Qulûb&lt;/em&gt;” karya Abu Thalib al-Makki dan “&lt;em&gt;al-Risâlah al-Qusyayrîyyah&lt;/em&gt;” karya Imam al-Qusyairi, dll. Kitab-kitab inilah yang banyak mempengaruhi lahirnya kitab “&lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt;”.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ilmu tasawuf sebenarnya hanyalah sebatas pengantar dalam mengarungi samudera spiritualitas. Melalui ilmu tasawuf segala ketentuan dalam menjalani dunia kesufian akan diketahui, juga hal-hal yang semestinya didahulukan dan hal-hal yang seharusnya diakhirkan. Ilmu tasawuf akan memberikan informasi mengenai tata-cara membersihkan hati dari entitas selain Tuhan. Namun, selain penguasaan terhadap ilmu, olah diri juga harus dilakukan dengan banyak berbuat amal kebajikan dan selalu lebur dalam dzikir-dzikir Tuhan agar jiwa menjadi suci. Apabila itu terjadi, maka akan terwujudlah &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;musyâhadah&lt;/em&gt;, yang nantinya akan berujung pada tingkatan &lt;em&gt;fanâ&lt;/em&gt;`.[9] &lt;em&gt;Mukâsyafah&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;musyâhadah&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;fanâ&lt;/em&gt;` hanya bisa terjadi di saat seorang sufi mampu menyatukan &lt;em&gt;zhâhir &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;bâthin&lt;/em&gt;, syariat dan hakikat, dengan keimanan yang benar kepada Tuhan serta selalu berbuat baik kepada ciptaan-Nya. Apabila ia tidak mampu melakukan hal itu, maka tatanan kesufian di dalam dirinya akan hancur. Sehingga ia tidak bisa menobatkan diri sebagai seorang sufi, karena tidak akan mungkin mendapatkan &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;musyâhadah&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;fanâ`&lt;/em&gt; sebagai anugerah dari Tuhan.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mukâsyafah&lt;/em&gt; adalah penampakan pengetahuan dalam hati sufi. Semua hati manusia sebenarnya mempunyai potensi yang sama dalam menerima &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt;. Tetapi, &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt; hanya bisa dicapai kalau antara hati manusia dan &lt;em&gt;lawh al-mahfûzh&lt;/em&gt; tidak terhalangi oleh apapun. Penghalang hanya mampu disirnakan oleh para nabi dan wali melalui olah diri dan pensucian. Perbedaan antara keduanya hanya teletak pada kemampuan dalam menyaksikan kehadiran sang pembawa pengetahuan. &lt;em&gt;Mukâsyafah&lt;/em&gt; dalam diri nabi disebut dengan wahyu, sedangkan pada diri wali disebut ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mukâsyafah&lt;/em&gt; tidak didapatkan melalui pengkajian atau penalaran. &lt;em&gt;Mukâsyafah&lt;/em&gt; adalah buah dari olah diri dan pensucian yang dilakukan para sufi. Itu semua bagaikan kajian keilmuan yang dilakukan para ulama. Dalam hal ini, kajian keilmuan juga mendapatkan pengetahuan dari &lt;em&gt;lawh al-mahfûzh&lt;/em&gt;. Perbedaan antara kajian keilmuan dengan &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt; hanya pada mekanisme pencapaian pengetahuan. Para sufi mendapatkan itu melalui olah diri dan amal saleh yang bertumpu pada hati, sedangkan para ulama melalui pengkajian yang bertumpu pada nalar. Para sufi akan terhalangi di saat melakukan kemaksiatan, sedangkan ulama akan terhalangi oleh kelupaan.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi al-Ghazali,&lt;em&gt; mukâsyafah&lt;/em&gt; adalah kebenaran Ilahi. Argumentasinya dapat dimengerti melalui mimpi yang terkadang memberikan informasi berupa kepastian terjadinya peristiwa di masa depan. Hal ini terjadi karena di saat tidur manusia tidak lagi memperhatikan tuntutan-tuntutan jasmaninya. Namun, pengabaian terhadap tuntutan-tuntutan jasmani tidak hanya terjadi pada saat-saat tidur. Dalam kondisi sadarpun manusia mampu menepisnya dengan melakukan puasa, olah diri, dan pensucian hati. Sehingga dalam kondisi sadar, manusia juga mampu mengetahui peristiwa masa depan tersebut. Tidak ada perbedaan antara &lt;em&gt;mukâsyafah &lt;/em&gt;melalui mimpi dengan &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt; dalam kondisi sadar. Yang terpenting adalah kemampuan manusia dalam meminimalisir seluruh tuntutan jasmaninya.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mendapatkan &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt;, para sufi juga mencapai &lt;em&gt;musyâhadah&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Musyâhadah &lt;/em&gt;menjadikan para sufi mampu menyaksikan semua fenomena menakjubkan yang tidak bisa disaksikan di alam nyata. Mereka mampu menyaksikan para malaikat, arwah para nabi, serta dapat mengambil manfaat dari persaksian itu. Klimaks dari itu semua adalah &lt;em&gt;fanâ&lt;/em&gt;`. Tahapan ini merupakan tahapan paling akhir dari upaya pendekatan para sufi dengan Tuhan. Dalam tahapan ini, meraka senantiasa akan menyaksikan dan merasakan kehadiran Tuhan. Tak ada lain kecuali hanya Tuhan yang tampak oleh mereka. Ini merupakan empati tertinggi para sufi. &lt;em&gt;Fanâ`&lt;/em&gt; hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah merasakan empati itu. Mempublikasikan empati tersebut kepada masyarakat umum akan melahirkan tuduhan kafir terhadap mereka.[13] Ketidakpahaman terhadap empati itu akan memunculkan klaim panteisme dan inkarnasi. Klaim tersebut muncul akibat ketidakpahaman masyarakat umum mengenai arti &lt;em&gt;fanâ`&lt;/em&gt; dalam dunia sufisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengingkaran al-Ghazali terhadap panteisme dan inkarnasi tidak berarti ia mengkafirkan para imam sufi yang mempunyai teori itu. Ia hanya melarang jika teori itu dijalankan oleh masyarakat biasa yang tidak memahami kaidah-kaidah sufisme. Tetapi, itu pun tidak berarti bahwa al-Ghazali merestui teori penteisme dan inkarnasi. Artinya, dia tidak melihat bahwa statemen-statemen para tokoh sufi mengandung arti penyatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Statemen-statemen mereka tidak bisa dipahami hanya melalui peranti-peranti tekstual. Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh Abu Yasid al-Busthami, “Maha suci aku dan tidak ada entitas yang lebih agung dariku,” tidak boleh diklaim sebagai bentuk kekufuran. Statemen tersebut tidak berarti bahwa dirinya telah menyatu dengan Tuhan. Justru itu merupakan sebuah ungkapan atas kebesaran Tuhan yang sedang disaksikannya. Artinya, Abu Yazid menganggap dirinya telah mencapai tingkatan paling atas dalam dunia sufisme, sehingga posisinya di hadapan Tuhan tidak tertandingi oleh entitas apapun.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah konsep tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali di dalam dinasti Saljuk yang berpaham Sunni. Jelas, konsep ini jauh berbeda dengan konsep tasawuf Syi’ah Batiniyah yang sangat identik dengan panteisme dan inkarnasi. Kerhadiran konsep tasawuf al-Ghazali diharapkan menjadi alternatif untuk menggatikan tasawuf Batiniyah. Namun, akibat bias ideologi Sunni pemikiran al-Ghazali nampak paradoks. Pemikiran-pemikirannya terkesan tidak selaras dan saling berbenturan. Ini bisa dilihat dari konsep tasawuf rumusannya yang bertolak belakang dengan ilmu logika yang dipromosikannya. Himbauan untuk bertasawuf hingga mencapai &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt; akan menghantam himbaunnya untuk mempelajari ilmu logika. Antara ilmu &lt;em&gt;mukâsyafah &lt;/em&gt;dengan ilmu logika adalah dua hal yang saling berlawanan. Memang, keduanya sama-sama mendapatkan pangetahuan dari &lt;em&gt;lawh mahfûzh&lt;/em&gt;. Akan tetapi keduanya tetap berbeda, perbedaannya adalah pada mekanisme pancapaian pengetahuan. Ilmu logika bersandar pada pijakan-pijakan akal, sedang ilmu &lt;em&gt;mukâsyafah&lt;/em&gt; justru menihilkan penalaran. &lt;em&gt;Mukâsyafah &lt;/em&gt;tidak hanya akan membentur himbauannya akan urgensi ilmu logika, tetapi juga akan membentur pelarangannya terhadap filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, bila diamati lebih jauh, paradoksalitas pemikiran al-Ghazali lebih disebabkan karena beratnya beban ideologi aliran Sunni yang menindih pundaknya. Himbauannya untuk mempelajari ilmu logika sebenarnya merupakan upayanya untuk menggantikan konsep ‘pembimbing suci’ aliran Syi’ah Batiniyah. Sementara, rumusan tasawufnya sengaja dicanangkan untuk menjadi pengganti atas bangunan spiritualitas Syi’ah Batiniyah. Begitu pula pengkafirannya terhadap filsafat tidak lain adalah untuk mematikan landasan filsafat Syi’ah Batiniyah tersebut. Dalam pandangan al-Ghazali, filsafat Batiniyah adalah perwujudan dari filsafat Neoplatonisme yang dikembangkan oleh al-Farabi dan Ibnu Sina. Sehingga, pengkafiran terhadap al-Farabi dan Ibn Sina diharapkan akan dapat meruntuhkan dasar-dasar filsafat Syi’ah Batiniyah.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Kandungan Kitab “&lt;em&gt;al-Qawâ’id al-‘Asyrah&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;SEPERTI disinggung di atas, kitab “&lt;em&gt;al-Munqidz min al-Dhalâl&lt;/em&gt;” merupakan biografi al-Ghazali dalam menemukan hakikat kebenaran, sedangkan kitab “&lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt;” merupakan pemaparan mengenai hakikat kebenaran itu sendiri. Maka kitab “&lt;em&gt;al-Qawâ’id al-‘Asyrah&lt;/em&gt;” ini, selain juga kitab “&lt;em&gt;Kîmiyâ` al-Sa’âdah&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;al-Adab fî al-Dîn&lt;/em&gt;”, sejatinya merupakan kelanjutan dari kedua kitab tadi, yang secara khusus membahas tentang kaidah-kaidah dan kiat-kiat mendekati Allah SWT guna merengkuh cinta-Nya, khususnya—tentu saja—di dunia tarekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, seperti kebanyakan kitab keagamaan lainnya, al-Ghazali membuka kitab ini dengan pujian kepada Tuhan semesta alam atas segala karunia dan hidayah-Nya kepada para pecinta-Nya, yang mana hati mereka digerakkan oleh-Nya untuk mengikuti tuntunan al-Qur`an dan al-Sunnah. Kemudian al-Ghazali menyebutkan salah satu pilar tasawuf, yaitu &lt;em&gt;qiyâm al-layl&lt;/em&gt;, yang menjadi ciri khas para pecinta-Nya. Mereka, seperti juga disinyalir di dalam al-Qur`an, menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur di malam hari untuk beribadah dan memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan perasaan takut dan harap, selain juga banyak berbuat amal saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, al-Ghazali memberikan isyarat bahwa para murid dapat mendorong jiwa mereka untuk menanjaki tangga-tangga cinta jika mereka mampu membiasakan diri dengan dzikir-dzikir seperti yang diamalkan para sufi yang sudah mencapai puncak kematangan jiwa-ruh karena kedekatan mereka dengan Allah SWT. Kematangan jiwa-ruh mereka telah menghantarkan mereka memasuki istana tauhid, di mana mereka melepaskan dahaga kerinduan dengan minuman cahaya yang memasuki tenggorokan, jasad dan ruh mereka. Saat itulah mereka berdialog secara rahasia dengan Sang Kekasih Abadi yang menjamu mereka dengan hidangan cahaya-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bagi mereka yang mempunyai gairah untuk menjalani dunia tarekat supaya merasakan nikmatnya berdekatan dan mencintai-dicintai Allah SWT, di bawah ini terdapat beberapa kaidah—bisa juga diistilahkan dengan ‘kiat’—yang harus perhatikan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama: Niat yang Tulus (&lt;em&gt;al-Nîyyah al-Shâdiqah&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Nabi saw. bersabda, “&lt;em&gt;Sesungguhnya [perbuatan] setiap orang tergantung niatnya&lt;/em&gt;.” ‘Niat’ mempunyai makna tekad atau keinginan kuat di dalam hati, sedangkan ‘tulus’ mempunyai makna dikerjakan atau ditinggalkan hanya karena Allah. Sebagai seorang sufi, al-Ghazali meletakkan niat di peringkat pertama. Karena, sesuai kandungan hadits tadi, apapun pekerjaan seorang tergantung niatnya. Sehingga tak berlebihan bila ia menjadi pilar pertama di dalam tarekat, yaitu arah atau tujuan yang baik untuk mencapai apa yang diinginkan dan keteguhan untuk aktif di tarekat tanpa memperdulikan aral-aral yang datang menghalang-halangi jalan menuju kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguatkan pilar tersebut, para salik dianjurkan membaca kisah-kisah para pecinta Tuhan (al-muhibbûn) di dalam kitab-kitab tasawuf lama, seperti “&lt;em&gt;al-Risâlah&lt;/em&gt;” karya al-Qusyairi, “&lt;em&gt;al-Hulyah” karya Abu Na’im&lt;/em&gt;, “&lt;em&gt;Thabaqât al-Awliyâ&lt;/em&gt;`”, dll. Dengan membaca kitab-kitab itu para salik diharapkan dapat menumbuhkan keinginan kuat di dalam diri mereka untuk menempuh jalan tarekat. Sebab tanpa keinginan kuat untuk meraih kedudukan-kedudukan tinggi sebagaimana yang berhasil diraih oleh para generasi terdahulu, sangat tidak mungkin dalam diri seorang salik tertanam niat yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua: Melakukan Amal Ibadah Hanya Karena Allah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menyangkut kaidah ini, al-Ghazali menyitir sebuah hadits yang berbunyi, “&lt;em&gt;Sembahlah Allah seolah kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu&lt;/em&gt;.” Tanda bahwa seseorang melakukan amal ibadah hanya karena Allah adalah ia tidak mengikatkan hatinya dengan selain-Nya dan tidak menghendaki apapun selain keridhaan-Nya. Dia, selain menggantungkan harapan-harapannya hanya kepada Allah SWT, juga meninggalkan hal-hal &lt;em&gt;syubhât&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, melakukan amal ibadah hanya karena Allah tidaklah mudah. Makanya setiap salik dituntut untuk menanamkan dan memupuk keikhlasan di dalam hatinya. Dan keikhlasan bukanlah sesuatu yang muktasab, akan tetapi sebagaimana yang dikatakan Suhrawardi merupakan salah satu dari rahasia Allah SWT yang diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga: Hidup Selaras dengan Kebenaran dan Mengesampingkan Hawa Nafsu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Maksud dari kaidah ini adalah, berupaya menundukkan dan mengikutkan hawa nafsu kepada ajaran-ajaran yang telah digariskan oleh syariat. Menurut al-Ghazali, kebenaran harus senantiasa diikuti dengan kesungguhan, dan hawa nafsu harus dihadapi dengan kesabaran. Dengan kata lain, sabar untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang merupakan tuntutan hawa nafsu. Sebab, perbuatan apapun yang didasarkan pada hawa nafsu hanya akan menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang merusak dan mencelakai dirinya sendiri. Allah berfirman, “&lt;em&gt;Janganlah kamu menjerumuskan diri kalian kepada kehancuran&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebenarnya, apa yang disebutkan oleh al-Ghazali di atas hanyalah efek, keadaan, sekaligus konsekuensi perbuatan tanpa menguraikan secara jelas dasar-dasar tarekat yaitu: &lt;em&gt;tawbah, khawf, rajâ`, huzn, qanâ’ah, zuhd, wara’, tawakkul, shabr, syukr, jihâd al-nafs, ridhâ bi al-qadhâ`, tark al-‘ibâd&lt;/em&gt; (dalam artian tidak memalingkan hati kepada keadaan para hamba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat: Melakukan Amal Ibadah Sesuai Syariat Tanpa Membuat-buat Berdasarkan Hawa Nafsunya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di sini al-Ghazali menekankan agar seorang salik tidak menjadikan syariat sebagai permainan akal pikirannya. Ajaran apapun dari syariat harus dipatuhi dan tidak dibantah, sekalipun itu disampaikan oleh seorang budak yang hina. Nabi saw. bersabda, “&lt;em&gt;Hendaknya kalian mendengarkan dan mentaati [ajaran-ajaran syariat], meskipun seorang budak bangsa Habsyi yang menyampaikannya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali, dengan kaidah ini, berupaya menjauhkan para salik dari keterjemusan ke dalam jurang bid’ah yang dilarang oleh agama. Maksud bid’ah di sini adalah membuat sesuatu yang baru di dalam agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebuah hadits menyebutkan, “&lt;em&gt;Setiap sesuatu yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan [tempatnya] adalah di dalam neraka&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hadits tersebut jangan serta-merta dipahami bahwa setiap hal baru yang dilakukan oleh sekelompok orang adalah bid’ah yang menyesatkan. Menurut Syaikh Mukhtar, seorang tokoh sufi di Mesir, definisi bid’ah yang benar adalah “&lt;em&gt;Taqyîd mâ athlaqahullâh wa rasûluh-u, wa ithlâq mâ qayyadahullâh wa rasûluh-u&lt;/em&gt;” (me-&lt;em&gt;muqayyad&lt;/em&gt;-kan apa yang di-&lt;em&gt;muthlaq&lt;/em&gt;-kan oleh Allah dan rasul-Nya, dan me-&lt;em&gt;muthlaq&lt;/em&gt;-kan apa yang di-&lt;em&gt;muqayyad&lt;/em&gt;-kan oleh Allah dan rasul-Nya). Contoh sederhananya adalah shalat Ashar. Shalat Ashar muqayyad dari segi rakaat dan waktunya. Kalau kita tambah atau mengurangi rakaatnya dan mengerjakannya kapan saja semau kita, ini baru bid’ah yang harus dijauhi. Berbeda dengan dua kalimat syahadat sebagai pondasi awal agama yang bersifat &lt;em&gt;muthlaq&lt;/em&gt;. Artinya tidak terikat oleh zaman dan tempat. Kapan saja kita mau, kita boleh melafalkannya. Demikian juga dzikir (menyebut nama Tuhan), di mana saja kita boleh berdzikir, dengan model atau bentuk apapun. Bisa dengan tarian—seperti dilakukan oleh para pengikut Jalaluddin Rumi—, pakai musik, berdiri, tidur-tiduran, di bioskop, di cafe, di masjid, di rumah, di kuburan, atau dalam bentuk tahlilan—seperti tradisi masyarakat NU—dll. Pendek kata, di manapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun dzikir boleh dilakukan. Sebab, Allah SWT hanya menyuruh para hamba-Nya untuk banyak-banyak menyebut-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu digaris bawahi, bahwa bid’ah ada dua, yaitu: bid’ah yang baik (&lt;em&gt;bid’ah hasanah&lt;/em&gt;) dan bid’ah yang buruk (&lt;em&gt;bid’ah sayyi`ah&lt;/em&gt;). Bid’ah yang baik contohnya seperti anggur yang dibuat khamr. Perubahan anggur menjadi khamr disebut bid’ah. Menurut syariat, khamr kalau diminum hukumnya haram, karenanya disebut bid’ah yang buruk. Dari dulu hingga saat ini banyak orang suka meminumnya, sehingga ini bisa disebut sunnah yang buruk (&lt;em&gt;sunnah sayyi`ah&lt;/em&gt;). Demikian halnya dengan anggur yang dibuat kismis. Seperti yang pertama, perubahan anggur menjadi kismis juga disebut bid’ah. Menurut banyak orang, kismis enak kalau dibuat camilan. Sedangkan menurut syariat kismis tidak apa-apa kalau dimakan, karenanya ia disebut bid’ah yang baik. Dari dulu sampai sekarang banyak orang yang mengkonsumsinya, maka ini bisa disebut sunnah yang baik (&lt;em&gt;sunnah hasanah&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima: Memiliki Keinginan Kuat (&lt;em&gt;al-Himmah al-‘Ulyâ&lt;/em&gt;) yang Jauh Dari Hal-hal Merusak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di sini, yang dimaksud al-Ghazali adalah bahwa tidak dibenarkan bila seorang hamba menunda-nunda suatu perbuatan sampai hari esok. Contoh yang bisa disebutkan di sini—sebagaimana juga disebutkan al-Ghazali sendiri di dalam kitab &lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt;—adalah taubat. Seorang hamba kalau merasa banyak melakukan dosa dan kesalahan, hendaknya dia segera bertaubat, tidak boleh menunggu hari tua. Sebab ajal manusia tidak diketahui kapan datangnya. Sehingga dengan demikian, setiap hamba harus menyegerakan taubat selagi Allah masih memberikan kesempatan baginya. Kesempatan, seperti jamak kita tahu, tidak datang dua kali. Nabi saw. bersabda, “Lakukan sesuatu untuk duniamu seolah engkau akan hidup selamanya. Dan lakukanlah sesuatu untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keenam: Merasa Lemah (&lt;em&gt;al-‘Ajz&lt;/em&gt;) dan Hina (&lt;em&gt;al-Dzillah&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di sini al-Ghazali tidak memaksudkan bahwa para salik boleh malas dan mengabaikan usaha. Justru sebaliknya, dia menghendaki para salik menumbuhkan kesadaran di dalam diri mereka bahwa apapun yang mereka lakukan semuanya adalah atas kekuasaan Allah SWT. Para salik harus berusaha semaksimal mungkin melakukan segala bentuk ketaatan kepada Allah SWT dengan tetap menyadari bahwa tanpa kekuasaan dan kehendak-Nya mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa. Mereka harus merasa lemah dan hina di hadapan-Nya. Dengan begitu mereka tidak akan menjadi sombong dan memandang makhluk-makhluk Tuhan yang lain dengan pandangan menghargai sekaligus menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salik harus mengetahui Kemahakuasaan Allah supaya mereka tidak mudah melakukan hal-hal yang melampaui batas. Allah senantiasa menyayangi seorang hamba yang mengetahui kekuasaan-Nya, tidak melampaui batas dan tidak keluar dari jalan yang dikehendaki-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT mempunyai kekuasaan paripurna yang tidak dapat dilemahkan oleh apapun, dan tidak terikat dengan sebab apapun. Dia-lah yang menentukan nasib hamba-hamba-Nya, dan Dia pulalah yang mengatur kejadian-kejadian alam menurut ukuran dan kebijaksanaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh: Menumbuhkan Rasa Takut (&lt;em&gt;al-Khawf&lt;/em&gt;) dan Harap (&lt;em&gt;al-Rajâ&lt;/em&gt;`)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam kaidah ini, al-Ghazali tidak memberikan paparan lebih jauh mengenai &lt;em&gt;al-khawf&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;al-rajâ&lt;/em&gt;`. Hal ini kemungkinan karena dia telah membahasnya secara gamblang di dalam kitab &lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt; yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai representasi rujukan tasawuf aliran Ahl al-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai &lt;em&gt;al-khawf&lt;/em&gt;, misalnya, al-Ghazali mengatakan dalam kitab &lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt;, “Ketahuilah bahwa hakikat &lt;em&gt;khawf&lt;/em&gt; adalah penderitaan hati karena mewaspadai kemungkinan terjadinya keburukan di masa depan. Terkadang terjadi karena mengalirnya banyak dosa, dan terkadang juga karena takut kepada Allah SWT dengan mengetahui sifat-sifat-Nya yang tentu saja akan menimbulkan perasaan takut, inilah yang paling sempurna (yang paling baik). Sebab, siapapun yang mengetahui Allah, niscaya dia akan takut kepada-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan al-Ghazali di atas kiranya selaras dengan firman Allah SWT yang berbunyi, “&lt;em&gt;Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama [yang mengetahui kekuasaan dan kebesaran Allah]&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ayat tersebut, terdapat ayat-ayat lain di dalam al-Qur`an yang menyinggung masalah &lt;em&gt;al-khawf&lt;/em&gt; atau perasaan takut kepada Allah SWT. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyeru hamba-hamba-Nya agar takut hanya kepada-Nya. Dia berfirman, “&lt;em&gt;Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk)&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memuji orang-orang beriman karena sifat takut mereka kepada-Nya, “&lt;em&gt;Mereka takut kepada Tuhan mereka yang kuasa atas mereka&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menjadikan &lt;em&gt;al-khawf&lt;/em&gt; sebagai syarat kesempurnaan iman, “&lt;em&gt;Dan takutlah kepada-Ku jika kamu adalah orang-orang yang beriman&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menjadikan dua surga bagi orang yang takut akan saat menghadap-Nya; surga pengetahuan-pengetahuan di dunia, dan surga hiasan-hiasan di akhirat. Dia berfirman, “&lt;em&gt;Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menjadikan surga sebagai tempat bagi orang yang takut akan kebesaran-Nya, “&lt;em&gt;Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggal baginya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai &lt;em&gt;al-rajâ`&lt;/em&gt; atau mengharapkan pahala dan ridha dari Allah SWT, al-Ghazali mengatakan, “&lt;em&gt;Al-rajâ`&lt;/em&gt; adalah ketenangan hati karena menantikan sesuatu yang sangat diinginkan.” Di sini, yang dimaksud al-Ghazali dengan sesuatu yang diinginkan adalah pahala dan ridha dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali membedakan antara &lt;em&gt;al-rajâ`&lt;/em&gt; (berharap kepada Allah) dan &lt;em&gt;al-tamannîy&lt;/em&gt; (berandai-andai). Orang yang berharap kepada Allah adalah orang yang melakukan ketaatan dengan memohon ridha-Nya, sedangkan orang yang berandai-andai justru mengabaikan usaha karena sifat malas yang menggerogotinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu, seorang salik yang mengaku benar-benar mengharapkan ridha dari Allah hendaknya dia menyingsingkan lengan bajunya untuk berusaha secara sungguh-sungguh dan ikhlas sehingga dia mendapatkan apa yang diinginkannya, bukan hanya berpangku tangan. Allah SWT berfirman, “&lt;em&gt;Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali menambahkan, &lt;em&gt;al-rajâ`&lt;/em&gt; perlu disertai dengan &lt;em&gt;husn al-zhann&lt;/em&gt; (baik sangka) kepada Allah SWT dengan menjauhkan keputusasaan akan rahmat-Nya. Dalam tulisan ini tidak akan disebutkan contoh seperti disuguhkan al-Ghazali di dalam kitab &lt;em&gt;Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn&lt;/em&gt; tentang kisah Nabi Yusuf as. yang diceburkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Tetapi akan disebutkan kisah lain yang menyiratkan kesamaan pesan dengan kisah yang disebutkan al-Ghazali di dalam karyanya tersebut mengenai pentingnya berbaik sangka kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja memiliki seorang menteri yang bijaksana. Hubungan keduanya sangat dekat sekali. Di mana pun raja berada sang menteri selalu setia menemaninya. Setiap kali raja terkena sesuatu yang membuatnya kesal, sang menteri berusaha menghiburnya dengan berkata, “Semoga itu menjadi kebaikan,” dan raja kemudian menjadi tenang. Pada suatu waktu, ketika sedang latihan berperang, salah satu jari sang raja putus terkena sabetan pedang. Sang menteri berkata, “Semoga itu menjadi kebaikan.” Mendengar ini, tentu saja sang raja marah tak terkira, lalu katanya, “Hai tolol, apa baiknya ini?” Kemudian dia menyuruh para pengawalnya untuk menjebloskan sang menteri ke dalam penjara. Dengan tenang sang menteri berkata, “Semoga ini menjadi kebaikan,” dan tinggallah dia di dalam penjara untuk beberapa lama. Pada suatu hari, bersama beberapa pengawalnya sang raja pergi ke hutan untuk berburu. Ketika di hutan dia menjauh dari para pengawalnya mengejar hewan buruannya. Dia terus berlari sampai akhirnya bertemu dengan suatu kaum penyembah berhala. Mereka lalu menangkapnya untuk dijadikan kurban bagi berhala sesembahan mereka. Namun ketika mereka melihat salah satu jarinya putus, dengan serta-merta mereka melepaskannya. Dengan hati diliputi kebahagiaan sang raja kemudian pergi, dia bersyukur kepada Allah SWT karena telah menyelamatkannya dari menjadi kurban bagi berhala yang tidak dapat berbuat apa-apa. Begitu sampai di istana, hal pertama yang dia lakukan adalah menyuruh para pengawalnya membebaskan sang menteri untuk dibawa ke hadapannya. Ketika menteri itu telah berada di hadapannya, sang raja langsung meminta maaf atas apa yang telah dilakukan terhadapnya. Sekarang dia menyadari kebaikan pada jarinya yang putus. Dia haturkan puja dan puji kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya. Kemudia dia bertanya kepada menterinya, “Ketika aku menyuruhmu untuk dipenjara, kau berkata, ‘Semoga ini menjadi kebaikan,’ apa kebaikan itu?” Sang menteri menjawab sambil tersenyum, “Seandainya hamba tidak dipenjara lalu ikut paduka berburu, sudah tentu hambalah yang akan menjadi kurban bagi berhala tersebut menggantikan paduka. Sesungguhnya apapun yang telah digariskan oleh Allah SWT semuanya adalah kebaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbaik sangka dan keyakinan terhadap rahmat Allah SWT merupakan sifat-sifat orang mukmin. Allah berfirman, “&lt;em&gt;Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shuhaib menyebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “&lt;em&gt;Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi pada siapapun kecuali orang mukmin; bila hidup makmur dia bersyukur [kepada Allah], maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan bila hidup susah dia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik yang ingin menghadap dan mendekatkan diri dengan Allah SWT harus mampu menggabungkan dan menyeimbangkan antara &lt;em&gt;al-khawf&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;al-rajâ&lt;/em&gt;`; tidak melebihkan al-khawf di atas &lt;em&gt;al-rajâ&lt;/em&gt;` sehingga dia berputus asa dari rahmat Allah SWT dan ampunan-Nya, juga tidak melebihkan &lt;em&gt;al-rajâ&lt;/em&gt;` di atas &lt;em&gt;al-khawf&lt;/em&gt; sehingga dia mudah terjerumus ke dalam jurang maksiat dan keburukan. Dia harus berupaya untuk terbang dengan sayap &lt;em&gt;a-khawf&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;al-rajâ&lt;/em&gt;` mengikuti hembusan angin kebenaran yang bersih, sehingga dia senantiasa berdekatan dengan hadirat Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut berjauhan dari-Nya dan berharap untuk selalu dekat dengan-Nya. Takut bila Dia meninggalkannya dan berharap memperoleh ridha-Nya. Takut bila Dia mengabaikannya dan berharap untuk terus berhubungan dengan-Nya. Takut dari siksa api neraka dan berharap mendapatkan nikmat surga. Demikianlah mestinya seorang salik dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali menegaskan, bahwa orang-orang yang takut (&lt;em&gt;al-khâ`ifûn&lt;/em&gt;) tidak hanya satu tingkatan. Menurutnya, ada beberapa tingkatan &lt;em&gt;al-khâ`ifûn&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;khawf al-‘awâm&lt;/em&gt; (takutnya orang awam), yaitu takut akan hukuman dan keterlambatan pahala;&lt;em&gt; kedua&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;khawf al-khâshshah&lt;/em&gt; (takutnya orang khusus), yaitu takut akan keterlambatan teguran; &lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;khawf al-khâshshah al-khâshshah&lt;/em&gt; (takutnya orang paling khusus), yaitu takut akan ketertutupan dengan nampaknya keburukan budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan orang-orang yang berharap (&lt;em&gt;al-râjûn&lt;/em&gt;) yang juga ada beberapa tingkatan: &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;rajâ` al-‘awâm&lt;/em&gt; (harapan orang awam), yaitu harapan mendapatkan sebaik-baiknya tempat kembali dan meraih sebanyak-banyaknya pahala; &lt;em&gt;kedua&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;rajâ` al-khâshshah&lt;/em&gt; (harapan orang khusus), yaitu harapan memperoleh ridha dan selalu dekat dengan Allah SWT; &lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;rajâ` al-khâshshah al-khâshshah&lt;/em&gt; (harapan orang paling khusus), yaitu harapan kemungkinan untuk &lt;em&gt;syuhûd&lt;/em&gt; (menyaksikan) dan meningkatnya pengetahuan mengenai rahasia-rahasia Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedelapan: Selalu Melakukan Wirid dan Dzikir&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam dunia tasawuf, wirid dan dzikir merupakan salah satu pilar tegaknya sebuah tarekat. Dan al-Ghazali menyadari betul hal ini. Bahkan dia secara terang-terangan menyatakan bahwa dia sudah sampai pada tingkatan dzikir dengan &lt;em&gt;al-ism al-a’zham&lt;/em&gt; “Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya al-Ghazali, para ulama tarekat secara umum mengamalkan wirid dan dzikir, di samping untuk meningkatkan kematangan jiwa, juga untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebut saja misalnya Sayyid Abdul Karim al-Jili yang telah menyusun dzikir-dzikir untuk diamalkannya sendiri dan para pengikutnya. Dzikir-dzikir yang disusunnya itu terdiri dari tiga belas nama Allah, yang mana setiap nama disebut sebanyak 100 ribu kali. Ketiga belas nama itu adalah: &lt;em&gt;Lâ Ilâh-a illâ Allâh, Huw-a, Hayy-un, Wâjid-un, ‘Azîz-un, Wadûd-un, Haqq-un, Qahhâr-un, Qayyûm-un, Wahhâb-un, Muhaymin-un, dan Bâsith-un&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama tersebut ternyata juga banyak dijadikan dzikiran oleh para ulama dan para pengikut tarekat yang lain. Dalam beberapa kitab tarekat disebutkan bahwa para pengikut Sayyid Ahmad Rifa’i mengamalkan nama-nama tersebut sebagai dzikir. Juga para ulama tarekat al-Bayumiyah yang menjadikan ketiga belas nama Allah SWT tersebut sebagai dzikir. Namun, hal ini tidak lantas berarti bahwa para sufi tidak mempunyai dzikiran dan wiridan lain selain ketiga belas nama tadi. &lt;em&gt;Al-adzkâr al-nabawîyyah&lt;/em&gt; (dzikir-dzikir Nabi saw.) dan &lt;em&gt;tilâwah al-qur`ân&lt;/em&gt; (membaca al-Qur`an) terbuka seluas-luasnya bagi para ‘pencari akhirat’ yang dalam pengamalannya tidak membutuhkan izin dari para syaikh tarekat sebagaimana pemahaman orang-orang awam selama ini. Berdzikir dengan selain ketiga belas nama tadi bahkan disunnahkan dan sangat dianjurkan oleh Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu diketahui, bahwa para ulama tarekat mengamalkan ketiga belas nama tersebut sebagai dzikiran berdasarkan ilham setelah sekian lamanya mereka bergelut di dunia spiritual. Di samping ketiga belas nama tadi, setiap tokoh tarekat juga mengamalkan dzikir khusus yang sesuai dengan keadaan (&lt;em&gt;al-hâl&lt;/em&gt;) masing-masing. Setiap nama Allah yang tergabung dalam &lt;em&gt;al-Asmâ` al-Husnâ&lt;/em&gt; mempunyai keistimewaan dan epifani yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan masing-masing tokoh. Adapun bagi para pemula atau murid yang baru memasuki dunia tarekat, hendaknya mereka mengamalkan dzikir nama-nama yang diajarkan oleh para syaikh sampai akhirnya Allah SWT membuka jalan bagi mereka dan memberikan ilham kepada mereka untuk mengamalkan dzikir-dzikir yang sesuai dengan keadaan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesembilan: Selalu Merasa Diawasi Allah (&lt;em&gt;al-Murâqabah&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Murâqabah&lt;/em&gt; (pengawasan) juga merupakan salah satu pilar tarekat terpenting yang harus selalu ditegakkan oleh para salik. Terdapat dua &lt;em&gt;murâqabah&lt;/em&gt; atau pengawasan yang secara umum diyakini di dalam tarekat, yaitu pengawasan Allah SWT (&lt;em&gt;murâqabatullâh&lt;/em&gt;) dan pengawasan pembimbing spiritual (&lt;em&gt;murâqabah al-musyrif al-rûhîy&lt;/em&gt;) terhadap hati para salik. Menurut para sufi, maksud dari pengawasan Allah SWT adalah melakukan&lt;em&gt; munâjât&lt;/em&gt; (dialog rahasia dengan memohon ampunan, rahmat dan ridha dari Allah) seolah-olah kita sedang melihat-Nya. Para sufi mengatakan bahwa pengawasan jenis ini merupakan dasar utama bagi para pecinta Allah (&lt;em&gt;al-muhibbûn&lt;/em&gt;) agar selalu dekat dengan-Nya. Sedangkan pengawasan pembimbing spiritual adalah pengawasan ‘teman spiritual hati’, yang dalam dunia tarekat disebut syaikh atau maha guru. Pengawasan syaikh sangat penting untuk menghindari tipuan setan. Sebab, tipuan setan yang kerapkali membayangi para murid di awal mula perjalanan mereka di dunia tarekat memerlukan ‘penolakan’ (&lt;em&gt;muthâradah&lt;/em&gt;) yang sangat keras. Sementara spiritualitas para murid di awal perjalanan mereka terkadang tidak mampu memikul perjuangan melawan tipuan setan sendirian, sehingga mereka sangat memerlukan ‘teman spiritual hati’ guna mengawal perjalanan mereka. Kematangan jiwa-ruh dan pengaruh syaikh di dalam dunia spiritual akan sangat membantu perjalanan para murid agar mereka dapat menyaksikan kilatan-kilatan cahaya Tuhan. Seperti halnya pengawasan Nabi Muhammad saw. terhadap para sahabat di awal-awal mereka masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan berpendapat, terutama generasi belakangan, bahwa syaikh bisa menjadi wasilah untuk sampai kepada Allah. Pendapat ini bisa dianggap benar kalau yang dimaksud adalah orang-orang awam yang benar-benar tidak memahami al-Qur`an dan al-Sunnah sehingga mereka tidak mampu mencapai Allah kecuali dengan mengkuti para syaikh. Akan tetapi pendapat tersebut bisa salah kalau yang dimaksud adalah bahwa ikatan spiritualitas seorang murid dengan syaikhnya dapat menghantarkannya untuk sampai kepada Allah SWT. Sebab, ikatan spiritualitas murid dengan syaikhnya justru akan menjadi hijab antara dia dan Allah. Bila ini terjadi, maka murid yang demikian selamanya akan bergantung kepada syaikhnya sehingga dia akan sangat kesulitan untuk mencapai keinginannya dalam mengarungi dunia spiritual. Makanya, alangkah akan lebih baik bila seorang murid, terutama kalau dia sudah mencapai tingkatan ahli ilmu dan makrifat, untuk secara langsung ‘menuju’ Allah dengan sendirinya sebagaimana dilakukan oleh al-Ghazali dan para sufi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik yang sudah lepas dari ikatan spiritualitas syaikhnya, untuk selanjutnya ia harus mampu mempertahankan kondisi hatinya di bawah pengawasan Allah SWT tanpa sekejap pun berpaling dari-Nya. Ketika ia konsisten dengan itu dan berhasil menafikan sama sekali entitas selain Allah dari hatinya, berarti ia telah mencapai level pertama murâqabatullâh, yaitu &lt;em&gt;‘ilm al-yaqîn&lt;/em&gt;. Kemudian, ketika ia sudah mampu melihat Kemahakuasaan Allah dalam menggerakkan dan mendiamkan segala sesuatu tanpa membutuhkan topangan entitas apapun selain Dzat-Nya, berarti ia telah mencapai level kedua, yaitu &lt;em&gt;‘ain al-yaqîn&lt;/em&gt;. Selanjutnya, kalau ia berhasil melampaui semua itu dan &lt;em&gt;fanâ`&lt;/em&gt; dengan Allah, di mana ia tidak lagi melihat sesuatu apapun kecuali ia melihat Allah padanya, berarti ia telah mencapai level terakhir, yaitu &lt;em&gt;haqîqah al-yaqîn&lt;/em&gt;. Pada level ini seorang salik akan menyaksikan keindahan rahasia-rahasia dan cahaya Allah melalui musyâhadah. Ia menjadi sangat dekat dengan Allah karena ikatan cinta yang tanpa batas. Allah akan menjadi mata yang ia gunakan untuk melihat. Allah akan menjadi lisan yang ia gunakan untuk bicara. Allah akan menjadi tangan yang ia gunakan untuk memegang. Allah akan menjadi kaki yang ia gunakan untuk berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesepuluh: Mengetahui Lahir dan Batin Apa yang Harus Dilakukan dengan Usaha&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;KETAATAN apapun yang harus dilakukan oleh seorang salik dalam upayanya mendekatkan diri dengan Allah dan meraih cinta-Nya, harus diketahui terlebih dahulu ilmunya. Al-Ghazali selalu mengajarkan untuk mencari tahu mengenai seluk-beluk suatu amal sebelum dikerjakan, baik lahir maupun batinnya, terutama sekali menyangkut masalah ibadah. Contohnya sederhananya adalah shalat. Secara lahir, yang harus dipelajari dari shalat adalah tata-caranya, mulai dari niat sampai tahiyat akhir. Lalu secara batin, yang mesti diketahui dari shalat adalah sebab kenapa Allah mensyariatkan shalat, juga hikmah berikut faedahnya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengetahui ini semua, setiap hamba akan termotivasi untuk mengerjakannya semaksimal mungkin. Dan ia akan terus berusaha konsisten guna meraih banyak faedah dan hikmah sebagai bekal hidup di dunia dan di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Tulisan ini adalah hasil ngaji mingguan terhadap karya-karya Imam al-Ghazali di Rumah KitaB&lt;br /&gt;[1] Sulaiman Dunya, &lt;em&gt;al-Haqîqah fî Nazhr al-Ghazâlîy&lt;/em&gt;, Cairo: Dar al-Ma’arif, 1994, hal. 15&lt;br /&gt;[2] Muhammad Yasin Arabi, &lt;em&gt;Mawâqif wa Maqâshid fî al-Fikr al-Falsafîy al-Islâmîy al-Muqârin&lt;/em&gt;, Dar al-Arabiyah li al-Kitab, 1991, hal. 271&lt;br /&gt;[3] Al-Ghazali, &lt;em&gt;al-Munqidz min al-Dhalâl&lt;/em&gt;, Beirut: al-Maktabah al-Sya’biyah, t. th. hal. 11&lt;br /&gt;[4] Majdi Muhammad Ibrahim, &lt;em&gt;al-Tashawwuf al-Sunnîy; Hâl al-Fanâ` Bayn-a al-Junaydîy wa al-Ghazâlîy&lt;/em&gt;, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, 2002, hal. 506&lt;br /&gt;[5] Muhammad Abed al-Gabiri, &lt;em&gt;Nahn-u wa al-Turâst&lt;/em&gt;, Beirut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-Arabiyah, hal. 169-170&lt;br /&gt;[6] Yohana Qamer,&lt;em&gt; al-Ghazâlîy&lt;/em&gt;, Beirut: Katholik, 1947, hal. 24&lt;br /&gt;[7] Majdi Muhammad Ibrahim, &lt;em&gt;op.cit&lt;/em&gt;, hal. 476&lt;br /&gt;[8] Zakiy Mubarak, &lt;em&gt;al-Akhlâq ‘ind-a al-Ghazâlîy&lt;/em&gt;, Cairo: Daar al-Kitab al-Arabi, 1968, hal. 74&lt;br /&gt;[9] Umar al-Faruk, &lt;em&gt;Târîkh al-Fikr al-‘Arabîy ilâ Ayyâm ibn Khaldûn&lt;/em&gt;, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1972, hal. 512&lt;br /&gt;[10] &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;., hal. 507&lt;br /&gt;[11] Sulaiman Dunya, op. cit., hal. 129&lt;br /&gt;[12] &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;., hal. 139&lt;br /&gt;[13] Majdi Muhammad Ibrahim, &lt;em&gt;op. cit.&lt;/em&gt;, hal. 514&lt;br /&gt;[14] Al-Ghazali, &lt;em&gt;al-Muqshid al-Asnâ fî Syarh Asmâ` Allâh al-Husnâ&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;[15] Muhammad Abed al-Gabiri,&lt;em&gt; Nahwu wa al-Turast&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;op.cit.,&lt;/em&gt; hal. 147&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-7907843368486930286?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/7907843368486930286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=7907843368486930286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7907843368486930286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7907843368486930286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2010/09/al-qawaid-al-asyrah.html' title='Al-Qawâ’id al-‘Asyrah(*)'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-3854389654149687412</id><published>2010-08-21T18:42:00.004+02:00</published><updated>2010-08-21T18:58:11.674+02:00</updated><title type='text'>LAILATUL QADAR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“&lt;em&gt;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan (qadr). Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan Ruh (Jibril) turun dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar&lt;/em&gt;,” [QS. al-Qadr: 1 – 5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN Ramadhan adalah bulan penuh berkah karena banyak pahala yang dibagi-bagikan secara mudah. Banyak momen penting yang terjadi di bulan ini. Di antaranya adalah malam Lailatul Qadar yang diyakini oleh seluruh umat Muslim kualitasnya lebih baik dari seribu bulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejak malam pertama Ramadhan, ribuan umat Muslim memadati masjid-masjid untuk melaksanakan ibadah &lt;em&gt;qiyâm&lt;/em&gt;. Seperti biasa, jumlah mereka yang melaksanakan &lt;em&gt;qiyâm al-layl&lt;/em&gt; meningkat hingga lima kali lipat. Di bulan-bulan lain, jumlah mereka tidak sebanyak itu. Hal ini lebih dimotivasi karena malam Ramadhan mempunyai banyak keistimewaan, terutama sekali malam Lailatul Qadar. Tak ayal, hati mereka tergerak untuk lebih tekun beribadah di malam hari selama bulan Ramadhan. Alangkah ruginya orang selama bulan suci ini tidak memaksimalkan dirinya untuk berpuasa dan beribadah. Di akhirat kelak dia akan menyesal melihat umat yang wajahnya bersinar cerah karena mendapatkan curahan berkah Lailatul Qadar. Dia akan meratapi dirinya sendiri seraya bertanya-tanya, kenapa ketika masih di dunia tidak tekun beribadah sebagaimana umat Muslim pada umumnya selama bulan Ramadhan? Dia ingin sekali mendapatkan berkah Lailatul Qadar, tetapi sayang waktu telah membawanya ke akhirat, tanda bahwa segalanya sudah terlambat. Berkah Lailatul Qadar hanya akan diberikan kepada mereka yang selama bulan Ramadhan rajin berdzikir melaksanakan shalat malam guna mendekatkan diri kepada Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan dalam kitab “&lt;em&gt;Murâh Labîd li Kasyf Ma’nâ Qur`ân Majîd&lt;/em&gt;” karya Imam Nawawi al-Jawi, bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang di dalamnya Allah SWT menurunkan al-Qur`an dari &lt;em&gt;lawh al-mahfûzh&lt;/em&gt; berdasar tulisan para malaikat langit dunia ke &lt;em&gt;bayt al-‘izzah&lt;/em&gt;. Makna “&lt;em&gt;al-qadr&lt;/em&gt;” sendiri sebetulnya adalah “&lt;em&gt;al-taqdîr&lt;/em&gt;” (penentuan). Artinya, ia dinamakan Lailatul Qadar karena di dalamnya Allah menentukan segala urusan hingga tahun mendatang, seperti kematian, ajal, rizki, dll. untuk kemudian memasrahkannya kepada empat malaikat pengatur (&lt;em&gt;mudabbirât al-umûr&lt;/em&gt;), yaitu Israfil, Mika`il, Izra`il, dan Jibril as.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kendatipun para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar hanya ada di bulan Ramadhan, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai penentuan kapan malam mulia itu berlangsung. Mayoritas dari mereka mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didasarkan pada pernyataan Ibn Abbas, “&lt;em&gt;Bilangan yang paling disukai Allah adalah bilangan ganjil (al-witr), dan bilangan ganjil yang paling disukai-Nya adalah angka tujuh&lt;/em&gt;.” Kemudian Ibn Abbas menyebutkan tujuh lapisan langit, tujuh lapisan bumi, tujuh hari dalam seminggu, tujuh tingkatan neraka, jumlah tawaf, jumlah sa’i, dan tujuh anggota badan. Semua bilangan ini, menurutnya, menunjukkan bahwa Lailatul Qadar berlangsung pada malam ke-27 Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, lagi-lagi menurut Ibn Abbas, bahwa Lailatul Qadar—dalam bahasa Arabnya—terdiri dari sembilan huruf, dan disebutkan dalam surat al-Qadr sebanyak tiga kali. Sehingga kalau dijumlah menjadi 27.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Riwayat lain menyebutkan, bahwa Utsman bin Abi al-Ash mempunyai seorang budak. Budak itu berkata kepadanya, “Tuan, air laut akan menjadi tawar pada suatu malam dari bulan ini (Ramadhan).” Utsman bin Abi al-Ash berkata kepadanya, “Kalau malam yang kau maksud itu tiba, segera beri tahu aku.” Dan ternyata itu adalah malam ke-27.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sebagai malam yang amat sangat diistimewakan, Lailatul Qadar mempunyai banyak keutamaan. Secara garis besar, seperti disebutkan dalam surat al-Qadr yang penulis kutip di atas, ada tiga keutamaan Lailatul Qadar, yaitu: &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan di malam itu lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama seribu tahun yang di dalamnya tidak ada Lailatul Qadar. Diceritakan oleh Imam Mujahid bahwa seorang laki-laki dari Bani Isra’il rajin bangun malam melakukan shalat hingga pagi. Setelah itu dia bekerja hingga sore hari. Hal itu dia lakukan selama seribu bulan sampai ia meninggal. Rasulullah saw. sendiri merasa takjub mendengar ceritanya. Hingga kemudian Allah menggariskan untuk umat Nabi Muhammad saw. satu malam di bulan Ramadhan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan orang Isra’il itu. Dalam artian, siapapun dari umat beliau yang berhasil meraih malam mulia tersebut, maka keberkahan dan pahala yang didapatnya lebih baik dari keberkahan dan pahala yang didapat oleh orang Isra’il tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa ketaatan yang dilakukan selama seribu bulan lebih berat ketimbang ketaatan yang dikerjakan satu malam. Akan tetapi, satu pekerjaan terkadang berbeda kondisinya terkait kebaikan dan keburukannya dikarenakan perbedaan tujuan. Misalnya shalat berjama’ah yang dalam agama dianggap lebih utama daripada shalat yang dikerjakan sendirian. Padahal shalat berjama’ah terkadang terlihat ‘kurang sempurna’ ketika seseorang datang terlambat dan menjadi masbûq sehingga ia ketinggalan satu rakaat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, misalnya, kalau kita mengatakan kepada seseorang yang dirajam karena perbuatan zina, “orang ini adalah pezina,” maka ini tidak menjadi persoalan alias tidak apa-apa. Tetapi kalau itu kita katakan kepada orang Nasrani, maka itu adalah fitnah yang wajib dikenakan &lt;em&gt;ta’zîr&lt;/em&gt; (hukuman). Demikian juga, kalau kita mengatakannya kepada orang yang sudah beristri, jelas itu merupakan fitnah keji sehingga wajib dikenakan &lt;em&gt;hadd&lt;/em&gt; (hukuman). Dan kalau itu kita katakan bagi A’isyah—yang dalam sejarah Islam awal disebutkan pernah diantar pulang oleh Abu Sufyan—, maka itu merupakan sebentuk kekafiran, mengingat A’isyah adalah salah satu dari &lt;em&gt;ummahât al-mu`minîn&lt;/em&gt; yang harus dihormati. Dengan demikian, dalam hal ini, kata-kata “orang ini adalah pezina” yang oleh sebagian orang dianggap ‘ringan’ pada hakikatnya lebih berat daripada gunung. Di sini menjadi jelas, bahwa setiap pekerjaan mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terkait pahala dan hukumannya tersebab perbedaan tujuan masing-masing. Sehingga tidak mustahil ketaatan yang sedikit menjadi sama pahalanya dengan ketaatan yang banyak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, keutamaan lain Lailatul Qadar adalah bahwa pada malam itu para malaikat—mereka adalah para penghuni Sidratul Muntaha—turun ke bumi bersama Jibril as. yang membawa empat panji. Panji pertama ia letakkan di atas kuburan Nabi saw., panji kedua di atas Baitul Muqaddas, panji ketiga di atas Masjidil Haram, dan panji terakhir di atas bukit Sinai. Dan di malam itu juga, tidak ada satu rumah pun yang di dalamnya terdapat laki-laki atau perempuan beriman kecuali Jibril as. akan memasukinya sembari mengucapkan salam, “Wahai laki-laki atau perempuan yang beriman, Yang Mahadamai menyampaikan salam kepadamu, kecuali kepada para pencandu khamr, pemutus tali silaturrahmi, dan pemakan daging babi.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Turunnya mereka ke bumi terkait dengan urusan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk tahun itu dan tahun mendatang. Masing-masing turun untuk urusan yang berbeda. Nabi saw. mensinyalir bahwa Allah memutuskan ketetapan-ketetapan di malam &lt;em&gt;al-Bara`ah&lt;/em&gt;, yaitu malam nisfu Sya’ban. Kemudian pada malam Lailatul Qadar Dia memasrahkannya kepada para malaikat pengatur (&lt;em&gt;mudabbirât al-umûr&lt;/em&gt;) untuk disematkan kepada setiap manusia. Para malaikat itu melihat bermacam-macam ketaatan di bumi yang tidak pernah mereka lihat di alam langit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, termasuk keutamaan Lailatul Qadar adalah bahwa malam itu terbebas dari hembusan angin (&lt;em&gt;riyâh&lt;/em&gt;), menyebarnya penyakit (&lt;em&gt;adzâ&lt;/em&gt;), hentakan petir (&lt;em&gt;shawâ’iq&lt;/em&gt;), dan ancaman setiap marabahaya (&lt;em&gt;ãfah&lt;/em&gt;) seperti dikatakan oleh Abu Muslim dan Ibn Abbas. Satu riwayat mengatakan bahwa malam itu terbebas sama sekali dari segala sesuatu yang menakutkan (&lt;em&gt;amr mukhawwif&lt;/em&gt;) dan segala kejahatan (&lt;em&gt;syurûr&lt;/em&gt;). Sebagaimana riwayat lain juga mengatakan bahwa malam itu terbebas dari perbedaan/ketidaksamaan (&lt;em&gt;tafâwut&lt;/em&gt;) dan kekurangan/cacat (&lt;em&gt;nuqshân&lt;/em&gt;). Kedamaian, ketenangan, dan keseimbangan benar-benar menjadi penghias bagi malam mulia nan agung itu. Para malaikat turun dengan berbondong-bondong ke muka bumi dari permulaan malam sampai terbitnya fajar. Mereka mengucapkan salam kepada para ahli puasa dan ahli shalat dari umat Nabi Muhammad saw. Pendek kata, mereka mengucapkan salam kepada setiap hamba yang benar-benar taat terhadap Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, jelaslah bahwa malam Lailatul Qadar tidak sama dengan malam-malam yang lain. Makanya, di malam itu, setiap muslim dianjurkan untuk mengerjakan ibadah fardhu di sepertiga pertama, ibadah sunnah di pertengahan, dan doa di waktu menjelang terbitnya fajar. Orang yang terjaga di malam itu dengan melakukan shalat wajib dan sunnah serta bermunajat secara khusyuk kepada Allah SWT berdasar keimanannya yang teguh dan semata-mata hanya mengharapkan ridha dari-Nya, maka dosa-dosanya akan diampuni, kesalahan-kesalahannya dihapus, kekeliruan-kekeliruannya dimaafkan, dan doa-doanya dikabulkan. Rasulullah saw. bersabda, “&lt;em&gt;Barangsiapa yang terjaga [melakukan shalat] pada malam al-Qadar dengan keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah semata, maka diampuni segala dosanya&lt;/em&gt;,” [HR. al-Bukhari]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada keutamaan lain dari Lailatul Qadar, dan ini adalah keutamaannya yang &lt;em&gt;keempat&lt;/em&gt;, atau bahkan bisa jadi yang &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;. Keutamaan yang penulis maksud adalah bahwa pada malam itu—seperti telah disinggung di atas—Allah SWT menurunkan al-Qur`an dari &lt;em&gt;lawh al-mahfûzh&lt;/em&gt; berdasar tulisan para malaikat langit dunia ke &lt;em&gt;bayt al-‘izzah&lt;/em&gt;. Dan kita tahu bahwa al-Qur`an merupakan petunjuk bagi manusia sekaligus pembeda antara yang hak dan yang batil. Di samping itu, kita juga tahu, selaras dengan namanya, Lailatul Qadar adalah malam penentuan atau “&lt;em&gt;al-taqdîr&lt;/em&gt;”. Hal ini menyiratkan makna, bahwa pada malam itu, selain menentukan urusan kematian, ajal, rizki, dll., Allah SWT juga menentukan siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang termasuk golongan &lt;em&gt;al-‘Â`idîn wa al-Fâ`izîn&lt;/em&gt; (orang-orang yang kembali suci karena keberhasilan mereka meraih kemenangan setelah berjuang melawan gempuran hawa nafsu selama bulan Ramadhan), yaitu mereka yang senantiasa berjuang menegakkan kebenaran dan memerangi segala bentuk kebatilan dengan berpedoman kepada al-Qur`an sebagai petunjuk. Merekalah yang berhak mendapatkan limpahan kasih-sayang (rahmah) dari Allah. Merekalah yang berhak mendapat curahan ampunan (&lt;em&gt;maghfirah&lt;/em&gt;) dari-Nya. Dan karena itu, merekalah yang dipastikan terbebas dari siksaan api neraka &lt;em&gt;(‘itq min al-nâr&lt;/em&gt;). Maka, tiada balasan yang paling layak bagi mereka kecuali surga Firdaus kelak di kemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk penghormatan kepada hamba-hamba pilihan-Nya itu, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi guna menyampaikan salam dari-Nya kepada mereka. Damailah mereka dengan kasih-sayang-Nya. Tenanglah mereka dengan ampunan dari-Nya. Gembiralah mereka dengan keterbebasan dari ancaman siksa neraka sebagai jaminan dari-Nya. Dan tersenyumlah mereka dengan kedudukan mereka yang tinggi dan mulia di sisi-Nya; surga dan segala kenikmatannya telah disediakan untuk mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-3854389654149687412?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/3854389654149687412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=3854389654149687412' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/3854389654149687412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/3854389654149687412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2010/08/lailatul-qadar.html' title='LAILATUL QADAR'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-140107506807226507</id><published>2010-08-21T18:26:00.004+02:00</published><updated>2010-08-21T18:42:08.957+02:00</updated><title type='text'>MARHABAN YA RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“&lt;em&gt;Wahai segenap manusia, telah datang kepada kalian bulan agung yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa di siang harinya sebagai kewajiban, dan qiyam di malam harinya sebagai sunnah. Barangsiapa yang menunaikan ibadah yang difardhukan, maka pekerjaan itu setara dengan orang yang mengerjakan 70 kewajiban. Ramadhan merupakan bulan kesabaran, dan balasan kesabaran adalah surga. Ramadhan merupakan bulan santunan, bulan yang di dalamnya Allah melapangkan rizki setiap hamba-Nya. Barangsiapa yang memberikan hidangan buka puasa bagi orang yang berpuasa, maka akan diampuni dosanya, dibebaskan dari belenggu neraka, serta mendapatkan pahala setimpal dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut&lt;/em&gt;,” [HR. Khuzaimah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU siang di pinggir jalan raya, penulis bersama seorang kawan sedang menunggu taksi. Kebetulan saat itu kami hendak menuju ke Warung Daun di jalan Cikini untuk mengikuti rapat Yayasan Rumah Kitab. Terasa lama sekali! Tidak ada taksi kosong yang lewat. Semuanya penuh dengan penumpang. Sungguh, ini tidak seperti biasanya, bisik penulis dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Akhirnya kawan penulis yang ketika itu bersandar ke sebuah pohon sedikit bergumam, “Wah, penuh semua &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt;! Maklumlah, besok &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt; puasa. Malam ini shalat tarawih.” Seketika penulis tersadar bahwa besok adalah hari pertama puasa. Pantas saja bila orang-orang hilir-mudik berpacu dengan waktu kembali ke tempat tinggal masing-masing agar dapat menikmati malam pertama Ramadhan bersama keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penulis sendiri merasa waktu memang melaju begitu cepatnya. Ia bergerak mengiringi titian takdir jalan kehidupan kita di muka bumi, kendatipun kita tidak menyadarinya karena lebih sering terlena dan mabuk oleh alunan iramanya sembari terus mengikuti ke mana saja arah perginya sang waktu yang sedemikian bengis itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kalau dilihat dari bawah, awan-awan yang mengambang antara langit dan bumi itu seakan-akan diam saja tak bergerak. Tetapi bila diperhatikan dengan cermat dan mata yang jeli, kita menjadi terkejut dan heran, betapa tiba-tiba ia sudah jauh meninggalkan kita yang duduk terpaku dan terbuai dalam pelukan hangat angin senja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Waktu terus berjalan menggiring kita menuju suatu keadaan di masa depan yang tidak pernah kita ketahui. Ia terus saja memaksa kita, meski terkadang kita mengelaknya. Di suatu saat, ketika tengah dilanda kecemasan akan suatu kejadian buruk yang bakal berlangsung, kita mencoba untuk melawan waktu dengan seluruh kekuatan yang kita miliki. Tetapi, apalah arti besar kekuatan kita di hadapannya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Gunung-gunung yang selama ini kita sangka diam ternyata bergerak mengikuti awan-awan kelabu. Hal ini dibuktikan dengan adanya pernyataan dari Badan Riset di Amerika Serikat setelah mengadakan penelitian bahwa gunung-gunung yang terdapat di kawasan kota Makkah bergerak beberapa mm pertahunnya. Tuhan sendiri menegaskan dalam firman-Nya yang berbunyi, “&lt;em&gt;Dan kamu lihat gunung-gunung yang kamu kira mati (diam), ternyata dia bergerak sebagaimana awan [bergerak]&lt;/em&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika bulan Ramadhan tiba, kita pun terkadang tidak menyadarinya. Wajar kiranya bila dalam penyambutannya umat Muslim tidaklah sama. Ada yang siap, ada pula yang tidak siap. Ada yang bahagia; karena di bulan ini dia bisa meraup banyak pahala. Ada juga yang sedih; karena di bulan ini dia harus meninggalkan kesukaan dan kesenangan yang biasa dilakukannya di siang hari pada bulan-bulan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun bagaimanapun, harus diakui, bahwa di antara dua belas bulan dalam tahun Hijriyah—selain bulan haji—mungkin hanya bulan Ramadhan saja yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh mayoritas umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Jauh-jauh hari berbagai aktivitas penyambutan sudah digelar. Di jalan-jalan raya sudah terpampang baliho-baliho dan spanduk-spanduk besar bertuliskan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” dan “&lt;em&gt;Marhaban Ya Ramadhan&lt;/em&gt;”. Seluruh stasiun televisi tidak henti-hentinya menyuguhkan berbagai iklan dan menu program khusus Ramadhan. Beberapa artis, khususnya kalangan penyanyi, berlomba-lomba membuat lagu-lagu religi dan menyebarkannya di media-media elektronik atau sebagai RBT handphone. Para bintang sinetron sibuk menandatangani kontrak dengan para produser untuk pembuatan film serial Ramadhan. Tak ketinggalan, beberapa da’i kondang juga tak kuasa menolak tawaran untuk tampil di layar televisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Itulah serba-serbi masyarakat Muslim Indonesia dalam menyemarakkan datangnya bulan suci Ramadhan yang mempunyai nilai-nilai tersendiri dan sebagai motivasi awal demi terwujudnya reformasi jiwa yang menjadi angan-angan setiap orang yang berpuasa. Tibanya kita di bulan suci ini menyiratkan tanda bahwa Tuhan masih memberikan kita umur panjang. Kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memperbaiki tingkah laku kita di dunia yang berlumur noda dan dosa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bulan ini adalah momen yang tepat di mana kita harus melakukan instrospeksi dan merenungi setiap cuil kesalahan yang pernah kita lakukan, baik sadar atau tidak sadar. Dikatakan momen yang tepat, karena di bulan ini setiap kebaikan sekecil apapun pasti memiliki arti dan nilai yang tinggi, sebanding dengan cobaan dan godaan yang menyemburat dari segala penjuru untuk menguji sejauh mana kita konsisten melaksanakan ibadah puasa yang teramat berat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Meski para ulama mengatakan bahwa pada bulan ini setan-setan dibelenggu agar tidak mengganggu orang-orang yang berpuasa, tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Di saat kita sedang khusyuk berpuasa, di sana-sini masih ditemukan pengaruh-pengaruh setan, bahkan lebih besar dan lebih banyak. Kita melihat para pendusta, para penipu, orang-orang munafik, serta orang-orang yang dengan sengaja dan secara terang-terangan makan dan minum sehingga mengganggu ketenangan orang-orang yang berpuasa. Semua ini menjadi isyarat bahwa setan-setan masih bersemayam di dalam setiap jiwa. Ini artinya, hadits Rasulullah saw. yang berbunyi, “&lt;em&gt;Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu&lt;/em&gt;,” tidak serta-merta bermaksud bahwa setan-setan diikat sehingga mereka tidak bisa bergerak atau tidak bisa melakukan aktivitas apapun untuk menghalang-halangi menyebarnya kebaikan di tengah-tengah manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Demi melihat kenyataan itu, lantas apa sebenarnya maksud pembelengguan setan-setan sebagaimana tersurat dalam hadits tersebut? Sebagian ulama mengatakan bahwa terdapat jenis setan tertentu yang dibelenggu, sementara yang lainnya tidak dibelenggu. Sebagian yang lain berpendapat, bahwa maksud dari hadits Nabi saw. tersebut sebenarnya adalah bahwa seluruh setan memang dibelenggu, hanya saja orang-orang yang gemar berbuat keji sudah menjadi seperti setan, bahkan sudah menjadi teman-temannya, sehingga tidak lagi memerlukan setan untuk menggoda dan mengajak mereka berbuat keburukan dan melanggar ketetapan-ketetapan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bagi penulis sendiri, hadits tersebut bagaimanapun tetaplah sebuah &lt;em&gt;kalâm&lt;/em&gt; (ucapan). Dalam bahasa Arab &lt;em&gt;kalâm&lt;/em&gt; biasanya terbagi menjadi dua macam. Pertama, &lt;em&gt;kalâm khabarîy&lt;/em&gt; (ucapan informatif) yang menceritakan tentang suatu realitas. Kedua, &lt;em&gt;kalâm khabarîy&lt;/em&gt; yang diucapkan untuk menciptakan sebuah realitas. Misalnya firman Tuhan tentang &lt;em&gt;al-Bayt al-Harâm&lt;/em&gt;, “&lt;em&gt;Barang siapa yang memasukinya, amanlah ia&lt;/em&gt;.” Ayat ini, di samping boleh jadi merupakan informasi dari Tuhan perihal realitas yang sesungguhnya, bahwa di &lt;em&gt;al-Bayt al-Harâm&lt;/em&gt; tidak akan mungkin ada aksi-aksi kejahatan, juga boleh jadi dimaksudkan untuk menciptakan realitas, yang menyiratkan perintah agar manusia tidak berbuat onar demi terciptanya keamanan dan kenyamanan di tempat suci tersebut. Dari itu, kalau kita mendapatkan realitas yang tidak sesuai, misalnya kita temukan di sana tindakan-tindakan yang menyimpang, berarti ini kembali kepada manusianya yang tidak mau berjalan pada jalur yang telah Tuhan gariskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sama halnya dengan firman Tuhan yang berbunyi, “&lt;em&gt;Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji [pula]. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik [pula]&lt;/em&gt;.” Namun apa yang kita lihat, adakah kenyataan yang nampak di hadapan kita selalu demikian? Ternyata tidak! Kita melihat perempuan baik-baik justru mendapatkan suami bejat yang berperilaku bajingan, atau sebaliknya lelaki baik-baik mendapatkan istri kejam yang berperangai buruk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sehubungan dengan itu, maka hadits yang menjelaskan pembelengguan setan-setan itu hakikatnya merupakan &lt;em&gt;kalâm&lt;/em&gt; yang ditujukan untuk menciptakan sebuah realitas atau keadaan. Kalau kita mentaati seluruh perintah Tuhan, maka setan-setan akan terbelenggu dengan sendirinya. Sebaliknya kalau kita tidak mentaatinya, setan-setan tidak akan terbelenggu. Dan kita diperintahkan untuk menciptakan realitas yang demikian di bulan Ramadhan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Memang ada baiknya bila kita menyambut Ramadhan dengan segala kemegahan dan acara-acara besar sebagaimana kita menyambut momen-momen akbar lainnya. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah kesiapan mental dan kepribadian kita untuk ditempa. Sesuai dengan namanya—yang berasal dari kata “&lt;em&gt;ramdhâ`&lt;/em&gt;” (terik panas)—bulan Ramadhan merupakan bulan workshop guna melatih diri dengan berbagai ritual dan amal kebajikan sebagai persiapan menghadapi sebelas bulan berikutnya. Bulan Ramadhan adalah bulan pendadaran jiwa dengan menceburkan diri ke dalam panasnya kobaran api semangat yang menyala-nyala untuk tidak melakukan perbuatan maksiat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Puasa yang kita lakukan di bulan mulai ini harus dapat membuat kita terhindar dari perbuatan dan ucapan yang keji. Nabi saw. bersabda, “&lt;em&gt;Puasa itu adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata keji. Dan jika ada yang mencaci maki, katakanlah,&lt;/em&gt; ‘&lt;em&gt;Sesungguhnya aku sedang berpuasa&lt;/em&gt;,’” [HR. al-Bukhari]. Selain itu, juga harus bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri kita untuk gemar memberi bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Nabi saw. bersabda, “...&lt;em&gt;barangsiapa yang memberikan hidangan buka puasa bagi orang yang berpuasa, maka akan diampuni dosanya, dibebaskan dari belenggu neraka, serta mendapatkan pahala setimpal dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut&lt;/em&gt;,” [HR. Khuzaimah].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terlalu banyak berkah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang berpuasa, baik di dunia dan di akhirat kelak. Berkah di dunia paling tidak adalah kegembiraan saat berbuka. Sedangkan berkah di akhirat adalah kegembiraan saat bertemu Allah SWT. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda, “&lt;em&gt;Orang yang berpuasa itu akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya&lt;/em&gt;,” [HR. al-Bukhari]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Maka, tiada kata yang lebih pantas kita ucapkan dengan penuh kerendahan hati di bulan yang sangat mulia ini kecuali rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Mahaagung atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita. Sehingga untuk yang kesekian kalinya kita bisa menginjakkan kaki di bulan suci Ramadhan yang penuh dengan rahmah dan berkah ini. &lt;em&gt;Marhaban ya Ramadhan...&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-140107506807226507?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/140107506807226507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=140107506807226507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/140107506807226507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/140107506807226507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2010/08/marhaban-ya-ramadhan.html' title='MARHABAN YA RAMADHAN'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-5705327150312485323</id><published>2009-11-29T15:15:00.005+02:00</published><updated>2009-12-08T16:49:13.220+02:00</updated><title type='text'>Fenomena Baru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/Sx5nS2LqaNI/AAAAAAAAAHE/VQcna9HwLxI/s1600-h/Roland+Profil+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 282px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/Sx5nS2LqaNI/AAAAAAAAAHE/VQcna9HwLxI/s400/Roland+Profil+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412877375625652434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;R&lt;/span&gt;asanya seperti mimpi ketika saya memperoleh kabar bahwa saya diterima dan mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi di universitas tertua di dunia, Al-Azhar, Mesir. Keberangkatan ke Mesir seakan membawa saya kepada suatu dunia yang sebelumnya tetutup dari pikiran saya. Di sana, selain aktif menjalankan aktivitas kampus dan kerja-kerja intelektual, saya juga aktif berkecimpung di dunia musik; nge-band. Awalnya saya bergabung dengan “HYMAPRODIT”—sebagai vocalist—, sebuah band asuhan Alex Ramses, salah seorang musisi yang cukup terkenal di kalangan Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang berjumlah kira-kira lima ribu orang. Sekitar empat bulan menjadi vocalist band ini, saya sempat mengikuti beberapa kali latihan untuk tampil di acara-acara kemahasiswaan dan acara HUT RI yang diadakan oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Cairo. Tetapi akhirnya saya terpaksa harus keluar dari band ini setelah merasakan adanya gelagat ketidakcocokan dengan personel lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;O&lt;/span&gt;ktobet 2005 kembali saya terjun ke arena musik, bersama kawan-kawan saya membentuk sebuah group band yang kemudian diberi nama “KRAKATAU”. Dua tahun berjalan (2005 – 2007) ternyata tidak membuat gaung band ini begitu menggema di tengah-tengah Masisir. Hal ini terlihat dari minimnya jadwal tampil guna mengisi acara-acara yang digelar Masisir. Penyebab utamanya adalah ketidakkompakan serta kurangnya semangat para personelnya. Dan pada akhirnya, bubar merupakan bencana yang sepatutnya menimpa band yang tanpa spirit ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;L&lt;/span&gt;ahirnya band-band baru di kalangan mahasiswa membuat gairah bermusik saya kembali bergelora. Sehingga, ketika Dayat, teman sepondok, mengajak untuk membentuk group band, saya langsung menyetujuinya. Maka di awal tahun 2008 lahirlah “METRO BAND” yang beranggotakan: Dayat (gitar I), Baiquni (gitar II), Syarif (bass), Helmy (keyboard), Babe (drum) dan saya sendiri (vocal). Nama “METRO” diambil karena setiap kali menuju tempat latihan di KBRI kami harus naik METRO, kereta bawah tanah yang merupakan salah satu alat transportasi paling mewah di Mesir. Kendati baru berdiri, band ini sangat populer terutama di KBRI. Seringnya kami mengisi even-even penting di KBRI dan beberapa acara kemahasiswaan menunjukkan bahwa eksistensi kami cukup diakui.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;A&lt;/span&gt;da sebuah keinginan kuat di hati saya begitu melihat semangat kawan-kawan, yaitu membuat album. Saya kira ini bukanlah hal mustahil, karena kawan-kawan juga mempunyai keinginan yang sama manakala saya mengajak mereka untuk membincangkannya secara serius. Sebagai tindak lanjutnya, mulailah saya memikirkan dan menyusun materinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;N&lt;/span&gt;amun, nasib jualah yang menentukan semuanya. Di akhir tahun 2008, panggilan kedua orang tua yang menyuruh saya untuk segera balik ke Indonesia membuat METRO BAND harus bubar. Meski demikian, keinginan saya untuk membuat album tidak pernah mati. Justru di Jakarta saya bertemu dengan Arsidi (Didi) yang kebetulan adalah guitarist DERAS BAND. Berkat kerja kerasnya, juga bantuan dari personel-personel DERAS BAND yang lain, mimpi saya untuk membuat album yang diberi judul "FENOMENA BARU" ini bisa terwujud.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;D&lt;/span&gt;an, akhirnya, saya berharap semoga lagu-lagu yang ada di album ini dapat diterima dengan penuh suka-cita oleh para penikmat musik di tanah air. Salam perdamaian...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Influence:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Terinfluence dari beberapa band seperti: Scorpions, Sixpence None the Richer, The Beatles, Dewa 19, The Rock Indonesia, Andra &amp;amp; The Backbone, Ungu, Sheila on 7, dan Peterpan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Genre Musik:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Mengusung pop progresif etnic.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Biodata:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Nama                            : Roland Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Nama Panggilan           : Roland &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tempat Tanggal Lahir    : Sumenep, 08 Januari 1982&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Musisi Idola                   : Alm. Chrisye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Lirik-lirik Lagu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Terbalut Kerinduan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Gundah hati berbisik memanggil namamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Keras jantungku berdetak menggapai sukmamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Di celah malam anganku memburu bayangmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Haus jiwaku mencari setetes kasihmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Perasaanku meraba ikuti jejakmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tanpa bosan mengiringi irama langkahmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Begitulah yang terjadi padaku di sini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Selalu aku berusaha tuk tetap bermimpi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Aku yang tak bisa melupakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;dirimu yang telah meninggalkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;diriku yang telah terpikat oleh indahmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Aku yang terbalut kerinduan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;padamu yang telah menghapuskan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;cintaku yang pernah menghias dalam jiwamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Di sini kuberdiri mencoba bertahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Meski tahu tubuh ini kan lapuk perlahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Biarkan kelelahan datang menghampiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Ku kan setia menemani kerinduan ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;[Aku yang selalu merindukan dirimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Meski engkau hapuskan cintaku]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tak Sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Biarkan aku berpijak tenang di sini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Berteman dengan pahitnya kehidupan ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Mencari kebahagiaan yang sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Meraih kedamaian batinku yang sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Mentari selalu menggambarkan citaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Rembulan senantiasa hamparkan cintaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Bintang-bintang selalu menghiburkan rinduku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kurasakan di sini aku tidaklah sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Apalah arti sepi bagiku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Mentari membiaskan senyumku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Apalah arti gelap bagiku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Rembulan menerangi langkahku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Apalah arti rapuh bagiku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Angin segarkan nafasku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Bicara dengan sekitarku dalam diam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Ciptakan suasana lain yang tak biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Renungi setiap detik waktu yang berlalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Musnahkan semua kerisauan yang kualami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuakui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuakui ku tak bisa menjalani hidup tanpamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuakui ku berdusta kepadamu tentang dirinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Jujur aku tak mengerti di hatiku ada dirinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Namun kini dia pergi membuatku semakin merana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Torehkan duka goreskan luka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Pupus sudah semua asa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Oh betapa sepi kurasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuratapi segala dosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Salahkanlah diriku yang telah tega melukaimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Berikanlah kepadaku kesempatan tuk cintaimu kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Sesal dalam Dada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Saat kau di dekatku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Aku selalu membisu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Saat kau menatapku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Aku selalu meragu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Andai saja kau tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Aku sangat menggebu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Andai saja kau tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Aku sangat menginginkan dirimu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kau buat aku tergila-gila terjerat cinta padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kini kau tak ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Sesal dalam dada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Datang dan menghimpit jiwaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kini ku merindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kenapa tak dulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kupeluk kucium dirimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Lelah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Lelah aku rasa kaki melangkah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Menapaki jalan kerinduan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Yang setiap saat menyesaki jiwa...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Letih aku coba memahami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Getaran hatimu menyeruak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Dari sudut batin yang terjerat resah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Apapun telah aku lakukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Demi cinta dan kasih-sayang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Namun semuanya sia-sia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Lelah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Akupun kini menyadari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Keadaan diriku ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Yang mungkin tiada arti lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Bagi dirimu kekasih...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Jenuh kuakui merasuki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Derasnya darahku yang mengalir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Menghantam jantungku yang berdegup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tenang...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Cinta Sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Besarnya cintaku tiada terkira&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Dalamnya kasihku tiada terduga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Luasnya sayangku tiada bertepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Denganmu hidupku tak kan pernah sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Segala kekurangan yang ada padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Bagiku tunjukkan kemanusiaanmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Usah kau ragukan tulusnya hatiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuterima semua khilaf dan salahmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Dapatkah kau memahami arti cinta ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Coba lihat matahari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Yang tak pandang apa-siapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Semuanya diterangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Cinta yang sejati...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Coba lihat matahari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Yang tak pandang apa-siapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Semuanya diterangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Cintaku padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tiada tujuan kumencintaimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Selain hasratku tuk bahagiakanmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuingin kau selalu tentram di sampingku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tiada derita yang menghantuimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Malu Tuk Nyatakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kepadamu aku jatuh cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Cinta pada pandangan pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tapi aku malu tuk menyatakannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tidak pernahkah engkau rasakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tiap waktu kau selalu kurindukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tapi ku tak tahu harus bagaimana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kau selalu di hatiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;menghiasi mimpiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kau pelita di jiwaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;mengobarkan khayalku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Bergetar rasa seluruh tubuhku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Saat kuberjumpa denganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tergagap rasa keluh lidahku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Saat kubicara denganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;18 Desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Semburat cahaya rembulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Sinari indah malam itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Bintang-gemintang bertaburan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Warnai gundah di hatiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Tak mudah untuk mengungkapkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Hasrat yang telah lama tersimpan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Namun ku tak kuasa menahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Gejolak yang terus menekan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kunyatakan cintaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kau berikan senyummu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kau dengar tutur-sapaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;berbingkai kasih dan rindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Kuingat canda-tawamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;terburai manja dah syahdu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendengarkan lagu-lagu saya, silahkan buka web di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://rolandgunawan.multiply.com/music/item/60/Fenomena_Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-5705327150312485323?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://rolandgunawan.multiply.com/music/item/60/Fenomena_Baru' title='Fenomena Baru'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/5705327150312485323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=5705327150312485323' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/5705327150312485323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/5705327150312485323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2009/11/fenomena-baru.html' title='Fenomena Baru'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/Sx5nS2LqaNI/AAAAAAAAAHE/VQcna9HwLxI/s72-c/Roland+Profil+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7875037789871227849</id><published>2009-11-21T14:49:00.005+02:00</published><updated>2009-11-22T05:08:49.862+02:00</updated><title type='text'>KIAMAT TAHUN 2012?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SwilsuGzTsI/AAAAAAAAAG0/liszBgUPF1c/s1600/2012movietrailer.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 216px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SwilsuGzTsI/AAAAAAAAAG0/liszBgUPF1c/s320/2012movietrailer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406753540367666882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dua hari yang lalu saya nonton film 2012 yang saat ini sedang menjadi kontroversi di kalangan artis, ulama, ilmuan dan masyarakat di seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Film ini mengisahkan tentang bencana besar yang akan mengguncang dunia. Sebetulnya film ini hanyalah prediksi yang didasarkan pada penanggalan Suku Maya yang berakhir di tahun 2012, tepatnya 21 Desember. Tetapi kemudian ditafsirkan secara salah bahwa pada waktu itu bakal terjadi KIAMAT BESAR yang akan mengakhiri kisah hidup manusia di muka bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Benarkah demikian? Saya secara pribadi tidak percaya dengan isu kontroversial ini. Boleh jadi di tahun tersebut akan terjadi bencana tetapi bukan KIAMAT seperti yang digembar-gemborkan saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun terlepas dari percaya atau tidak, kalau dilihat secara teliti, ada kesamaan antara penanggalan Suku Maya tersebut dengan kandungan al-Qur'an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seperti yang disinyalir di beberapa hadits, bahwa kiamat itu akan terjadi pada hari Jum'at, sedangkan tanggal 21 Desember 2012, seperti yang tertulis dalam penanggalan Suku Maya, itu juga hari Jum'at.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan yang lebih mengherankan lagi, ketika saya coba buka Surat al-Qiyamah, saya menemukan sesuatu yang membuat hati saya jungkir-balik. Surat ini terdiri dari 2 "ain" (baca; maqra') dan 40 ayat. Sedangkan huruf-hurufnya mulai dari "Bismillah" sampai akhir ayat kalau dihitung seluruhnya berjumlah 600 huruf. Dan nama al-Qiyamah sendiri, kalau dihitung berdasarkan huruf arabnya, berjumlah 6 huruf (alif, lam, qaf, ya', mim, ta' marbuthah). Nah sekarang mari kita hitung;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena tahun 2012 identik dengan angka 2, maka angka (2) ini kita gunakan untuk membagi (:) dan mengkali (x). Di samping itu surat al-Qiyamah sendiri terdiri dari dua "ain" (maqra').&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. Jumlah ayat ada 40; 40 : 2 = 20&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. Nama al-Qiyamah, kalau dihitung berdasarkan huruf arabnya, berjumlah 6 huruf; 6 X 2 = 12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Huruf-huruf Surat al-Qiyamah, mulai dari "Bismillah" sampai akhir ayat kalau dihitung seluruhnya berjumlah 600 huruf; 600 x 2 = 1200 (1200, kalau dua angka nol di belakang dibuang, maka akan menjadi 12)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4. Hari Jum'at kalau dalam hitungan al-Ayyam al-'Arabiyah (hari-hari arab) adalah hari ke enam (al-ahad [satu], al-itsnani [dua], al-tsulatsa' [tiga], al-arbi'a' [empat], al-khamis [lima], al-Jum'ah); 6 X 2 = 12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sini ada tiga angka 12, kiranya ini adalah penekanan. Sebab 12 menunjukkan bulan Desember (bulan 12), akhir bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nah, itu hanya hitung-hitungan saya, terserah Anda percaya atau tidak. Saya sendiri tidak percaya dengan hitung-hitungan ini...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tetapi saya punya harapan, semoga setiap orang dari kita akan semakin sadar bahwa hidup ini akan berakhir, hanya hanya sementara...TAK ADA YANG ABADI...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-7875037789871227849?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/7875037789871227849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=7875037789871227849' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7875037789871227849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7875037789871227849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2009/11/kiamat-tahun-2012.html' title='KIAMAT TAHUN 2012?'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SwilsuGzTsI/AAAAAAAAAG0/liszBgUPF1c/s72-c/2012movietrailer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-5709011937097436087</id><published>2008-11-09T23:35:00.009+02:00</published><updated>2008-11-10T00:43:40.492+02:00</updated><title type='text'>Ketika Jatuh Cinta (Hanya Sebuah Keisengan)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SRdiXp4QUMI/AAAAAAAAAFE/Hle1FPv6mA0/s1600-h/IMG_0196.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266786447751401666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 186px; CURSOR: hand; HEIGHT: 259px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SRdiXp4QUMI/AAAAAAAAAFE/Hle1FPv6mA0/s320/IMG_0196.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saya punya sahabat karib yang tinggal sekamar, Roy namanya. Dia bercerita tentang pengalamannya ketika jatuh cinta kepada Inna ‘Asinna, seorang wanita cantik bermata sipit dengan paras bak artis Korea.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, katanya, dia menelpon Inna dan dia mengungkapkan cintanya berbingkai kata-kata romantis penuh kemesraan. Saya tahu betul watak Roy, sebab dia adalah sahabat saya yang paling akrab, seorang pria romantis yang suka mengumbar kata-kata mesra penuh rayuan kepada setiap wanita yang dikenalnya. Noera, Maya, Intan, Ayu, Lina, Rina—dan entah siapa lagi—, adalah sederet wanita yang menjadi korban rayuan manisnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan rupa-rupanya, Inna pun tahu hal itu. Sebab sebelum-sebelumnya Roy acap kali “curhat” mengenai hubungannya dengan wanita-wanita tadi. &lt;em&gt;Playboy&lt;/em&gt; kelas kakap, begitu Inna menyebutnya. Sehingga, ketika dia menyatakan cinta, Inna tidak percaya begitu saja; harus ada bukti! Dari itu dia berucap: “Kalau kakak memang benar-benar mencintaiku, aku ingin bukti. Coba kakak bilang &lt;em&gt;I love you&lt;/em&gt; ke Ummi, temanku serumah. Mau aku panggilin dia?” “Aduh, &lt;em&gt;plizzz&lt;/em&gt;, aku hanya mencintai Inna, jadi mana mungkin aku menyatakan cinta kepada wanita lain? Sungguh, aku lebih baik disuruh jalan ke Pyramid daripada disuruh kayak gitu,” kata Roy. “Ya sudah, berarti kakak tidak benar-benar mencintaiku,” kata Inna menimpali. Mendengar Inna bicara seperti itu, Roy pun akhirnya bersedia demi membuktikan ketulusan cintanya. Inna lalu memanggil Ummi, dan Roy langsung melaksanakan apa yang dikehendaki Inna, “&lt;em&gt;I love you&lt;/em&gt;, Ummi,” katanya terbata-bata. Setelah itu Inna berkata, “Ternyata benar, kakak mudah mengucapkan cinta kepada setiap wanita.” “Aduuh, aku dijebak,” gerutu Roy.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Parahnya lagi, beberapa hari kemudian Roy diminta Inna datang ke rumahnya untuk membuang kucing. Aneh, Roy sama sekali tidak keberatan. Padahal setahu saya, dia adalah orang paling ‘gengsi’, apalagi sampai diminta membawa kucing dalam karung untuk dibuang di suatu tempat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya tidak tahu perubahan apa yang terjadi di dalam jiwa Roy. Sangat tidak mungkin Roy mengatakan cinta ke wanita lain di depan wanita yang akan menjadi ‘korbannya’. Lebih-lebih kalau disuruh membuang kucing! Entah kekuatan apa yang mendorongnya melakukan kehendak Inna.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Land, kepada semua wanita aku boleh berbohong tentang cintaku. Perasaanku tak pernah menyertai apapun yang aku katakan kepada mereka. Tapi kepada Inna, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku benar-benar mencintainya. Setiap untaian kata cinta yang kuucapkan adalah apa yang aku rasakan di dalam hatiku. Aku begitu yakin, hanya dia yang dapat mengisi kehampaan sanubariku. Telah kuabadikan cintaku kepadanya dalam sebuah lagu yang kubuat dari rangkaian huruf-huruf namanya. Aku tidak pernah seyakin ini,” tegas Roy.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Waw&lt;/em&gt;, fantastik! Efek jatuh cinta memang benar-benar luar biasa; membuat seseorang tunduk dan patuh kepada sosok dambaan hatinya yang senantiasa menjadi ratu pendampingnya di dalam setiap mimpinya. Seperti ditegaskan beberapa peneliti—yang dimuat di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com—/"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;www.kompas.com—&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, bahwa bagian otak manusia yang mengontrol pikiran-pikiran kritis akan terganggu di kala sedang jatuh cinta. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas di bagian otak yang merespon terhadap &lt;em&gt;reward&lt;/em&gt; atau hal-hal baik. Adapun aktivitas di bagian otak yang biasa membuat penilaian-penilaian negatif mengalami penurunan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, orang yang jatuh cinta seakan buta sehingga penilaian tentang sang pujaan hati tak seobyektif biasanya. Penilaian terhadap orang yang dicintainya lebih cenderung bersifat positif. Sedangkan hal-hal negatif atau kesalahan pasangan kerap diabaikan.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna: Jujur saja, kak! Selama ini kakak kuanggap seperti kakakku sendiri, teman berdiskusi, teman curhat. Wallahi, tak lebih dari itu!!! Tolong, kak, aku mohon, jangan salah tanggap atas sikapku pada kakak!!! Aku tak ingin kakak merasa aku ngerespon kakak, demi Tuhan aku hanya anggap kakak seperti kakakku sendiri. Terserah kakak mau marah ke aku. Yang penting aku sudah jujur pada kakak. Maafkan kalau aku telah banyak berbuat kesalahan. Maafkan aku yang telah mengganggu kehidupan kakak. Mungkin setelah baca ini kakak akan marah padaku, tidak apa-apa, silahkan saja, aku terima apa adanya. Aku tidak GR ketika kakak nyatain cinta ke aku. Tidak akan pernah GR!!!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Roy: Aku tidak pernah salah tanggap mengenai sikap baikmu terhadapku. Aku tahu kau anggap aku sebatas teman berdiskusi dan curhat, tidak lebih dari itu. Bagimu, aku seperti kakakmu sendiri. Sebagaimana aku tidak pernah merasa kau meresponku, aku juga tidak pernah menganggap kau GR ketika kunyakatan cinta kepadamu. Tidak perlu kau jujur kepadaku, aku sudah tahu semuanya. Dan, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah marah kepadamu. Tidak perlu kau minta maaf, kau tidak pernah mengganggu kehidupanku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu; tulus! Kan kubiarkan cinta ini abadi tanpa terusik kehadiran cinta lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-5709011937097436087?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/5709011937097436087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=5709011937097436087' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/5709011937097436087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/5709011937097436087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2008/11/ketika-jatuh-cinta-hanya-sebuah.html' title='Ketika Jatuh Cinta (Hanya Sebuah Keisengan)'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SRdiXp4QUMI/AAAAAAAAAFE/Hle1FPv6mA0/s72-c/IMG_0196.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7963001026946586605</id><published>2008-10-30T03:46:00.007+02:00</published><updated>2008-11-01T02:35:43.103+02:00</updated><title type='text'>Melepas Kepergian Sang Pahlawan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SQkaeccYzfI/AAAAAAAAAEk/N-YcizH-oP8/s1600-h/1_563761173l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262766749892791794" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 181px; height: 241px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SQkaeccYzfI/AAAAAAAAAEk/N-YcizH-oP8/s320/1_563761173l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Roland, maaf saya tidak banyak membantu kamu.” Inilah kata-kata Bapak Slamet Sholeh di malam acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Launching Buku dan Pentas Seni&lt;/span&gt; dalam rangka 10 Tahun IKBAL Korda Kairo, tepatnya di tahun 2005 yang lalu. Dan jujur saja, sampai saat inipun saya masih ingat betul kata-katanya itu, tidak terlupakan. Kata-kata itu begitu saja tergiang di telinga setiap kali saya bertemu dengannya. Hal itu dia utarakan kepada saya karena bantuan yang diberikannya tidak dapat menutupi kekurangan anggaran yang telah ditetapkan panitia. Namun secara pribadi saya cukup memaklumi, sebab pada waktu itu KBRI memang sedang mengalami goncangan keuangan amat serius. Dan paling tidak, kehadirannya di acara itu sedikit banyak telah mengobati kekecewaan kawan-kawan IKBAL secara umum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bersahaja. Itulah mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan penampilannya—kendati tidak ditopang kemampuan retorika memukau layaknya KH. Zainuddin MZ—setiap kali diundang menjadi pembicara di berbagai acara yang dilaksanakan para mahasiswa/i terkait masalah pendidikan, atau di berbagai acara apresiasi karya torehan tangan-tangan kreatif Masisir. Sungguh, betapa kehadirannya di tengah-tengah Masisir telah memunculkan secercah harapan ke arah perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Makanya tidak salah bila kemudian banyak kalangan yang berpendapat bahwa karir diplomatik Pak Slamet di Kairo terbilang cukup berhasil. Kemampuan manajemennya, kepribadiannya yang kharismatik, keramahan serta sikapnya yang bersahabat, itulah yang mampu “menyihir” perhatian Masisir yang tengah menimba ilmu di negeri Kinanah ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebagai pengganti Bapak Dr. M. Nur Samad Kamba, MA, semula memang banyak orang yang menganggap bahwa upaya Pak Slamet dalam membangkitkan semangat akademis Masisir nantinya akan menuai kegagalan. Sebab, di samping tidak lahir secara langsung dari rahim Masisir, juga pengetahuannya tentang kehidupan Masisir sangat kurang. Namun dia acuhkan saja anggapan negatif itu. Justru di dalam jiwanya tertanam kuat sebuah motivasi membela kepentingan akademis bagi sebuah gerakan kemahasiswaan yang mendesakkan perubahan berarti.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Posisinya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan telah menuntutnya menjadi mediator antara KBRI dan para mahasiswa/i, yang secara implisit berupaya menjelaskan berbagai kebijakan baru pendidikan yang dirasa dan nampak kurang sesuai dengan kondisi berikut kultur mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam sebuah dialog yang diadakan FOSGAMA dua tahun yang lalu, dia mengaku bahwa hidup di tengah-tengah Masisir telah membuka matanya. Dia melihat kesenjangan begitu lebar antara kualitas para pelajar Indonesia di Timur Tengah, khususnya di Mesir—terlebih sekali mereka yang kuliah di al-Azhar—, dan Eropa, terutama bila dipandang dari kontribusi dan sepak terjang dalam kancah nasional di tanah air tercinta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dia sangat menginginkan kualitas akademik Masisir mengalami peningkatan, bukan malah sebaliknya. Dari itu, menurutnya, perlu dilakukan dekonstruksi paradigma kebijakan tentang pendidikan. Dengan kata lain, bagaimana agar Masisir sebagai komunitas pelajar tidak lagi mengingkari pentingnya belajar guna meraih prestasi akademik yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Maka demi mewujudkan keinginannya itu, berbagai kegiatan yang mendukung pendidikan kemudian digalakkan. Seminar, dialog dan diskusi tentang pendidikan marak di mana-mana. Dan dia sendiri sangat aktif turut andil di dalamnya, baik sebagai pemberi dana atau sebagai penyumbang ide. Setiap ceramah yang disampaikannya sedemikian sarat dengan motivasi-motivasi akademik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk itulah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arus Kampus&lt;/span&gt;, yang merupakan sebuah kelompok mahasiswa/i yang secara khusus menaruh perhatian terhadap pendidikan Masisir, dengan jargon populernya “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Back to Campus&lt;/span&gt;”, menobatkannya sebagai motivator akademik di tahun 2007 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ya, Pak Slamet telah berhasil membuktikan dirinya sebagai sebuah lentera harapan. “Bahkan dalam situasi sesulit apa pun, kalian bisa mencapai prestasi paling tinggi dengan tekat kuat dan kerja keras,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan para hadirin waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan tak dikira ternyata tulis-menulis adalah bidang lain yang tidak dapat dinafikan dari ruang gerak kehidupannya, yaitu sebagai bagian dari upaya untuk mengukuhkan eksistensi diri agar tidak lenyap dari peredaran. Buku &lt;em&gt;Cairo-Cairo&lt;/em&gt;, bagian I dan II, telah menghantarkan dirinya memperoleh anugerah legitimasi sebagai salah seorang penulis yang hebat. Lebih dari itu, kandungan buku tersebut memperlihatkan sosok Pak Slamet yang sangat peduli terhadap lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selain mahir menggerakkan tangan dinginnya di dalam dunia tulis-menulis, seni pun rupanya bukanlah bidang yang asing baginya. Jari-jarinya begitu piawai memainkan gitar. Saya sendiri beberapa kali mendapat kehormatan untuk tampil satu panggung dengannya di Balai Budaya KBRI, yaitu di acara-acara malam pisah sambut yang biasa diadakan dalam rangka melepas kepergian salah seorang diplomat yang telah menyelesaikan masa tugasnya di Kairo sekaligus menyambut kedatangan penggantinya dari tanah air.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Demikianlah kenyataannya, Pak Slamet memang banyak memiliki keistimewaan, sehingga wajar bila Masisir menjadi terkesima karenanya. Dia benar-benar patut menjadi teladan yang bisa dibanggakan oleh Masisir secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Percaya atau tidak, Pak Slamet benar-benar menghargai kreativitas para mahasiswa/i yang sebelumnya kurang mendapat perhatian yang cukup. Keberadaannya di Kairo menjadi salah satu faktor menanjaknya semangat akademik dan maraknya aktivitas seni di kalangan Masisir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“&lt;em&gt;Takkan selamanya tanganku mendekapmu, takkan selamanya raga ini menjagamu, seperti alunan detak jantungku tak bertahan melawan waktu…tak ada yang abadi…jiwa yang lama segera pergi, bersiaplah para pengganti&lt;/em&gt;,” demikianlah bunyi lagu teranyar Peterpan, &lt;em&gt;Tak Ada Yang Abadi&lt;/em&gt;. Kini masa jabatan Pak Slamet di Kairo sudah berakhir. Dan itu artinya, tidak lama lagi dia akan meninggalkan kita semua. Sebagai orang-orang yang pernah merasa dibelanya tentu kita merasa sedih. Belum cukup rasanya kebersamaan kita dengannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selamat jalan Pak Slamet. Bagi kami Bapak adalah pahlawan sejati yang tidak pernah letih memperjuangkan hak-hak kami sebagai pelajar di negeri yang tandus ini. Meski semua telah berlalu, tetapi kami berjanji tidak akan membiarkan hujan menghapus jejak Bapak, sebagaimana tidak akan kami biarkan Kairo menjadi kota mati. Biarlah hari yang cerah tetap setia menemani kami, secerah hari-hari kebersamaan kami dengan Bapak. “&lt;em&gt;Berjalanlah…ambil cahaya cinta tuk terangi jalanmu, di antara beribu lainnya kau tetap benderang&lt;/em&gt;.” (Peterpan, &lt;em&gt;Walau Habis Terang&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-7963001026946586605?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/7963001026946586605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=7963001026946586605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7963001026946586605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7963001026946586605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2008/10/melepas-kepergian-sang-pahlawan_30.html' title='Melepas Kepergian Sang Pahlawan'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SQkaeccYzfI/AAAAAAAAAEk/N-YcizH-oP8/s72-c/1_563761173l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7474301555288895019</id><published>2008-10-17T17:03:00.002+02:00</published><updated>2008-10-17T17:19:45.918+02:00</updated><title type='text'>Makna 'Idul Fitri; Mudik?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SPip4pLYdGI/AAAAAAAAAEU/z6ruMojwnbU/s1600-h/1_272278673l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258139355546416226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SPip4pLYdGI/AAAAAAAAAEU/z6ruMojwnbU/s320/1_272278673l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai sudah bulan Ramadhan yang diklaim sebagai bulan suci itu. Dan beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 Oktober kemarin, umat Islam telah merayakan hari ‘Idul Fitri alias lebaran. Gema takbir pun bersahutan memehuhi rongga langit dan menyusupi sudut-sudut gelap kehidupan. Rasa bahagia yang menyesaki dada terpancar dari raut wajah setiap insan. Bermacam makanan terhidang di meja setiap rumah dengan aromanya yang khas dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum sumringah yang setia menghias di bibir disertai pakaian indah mewangi nan menarik perhatian yang membalut tubuh, bersalam-salaman, bermaaf-maafan, silaturrahim, dan mudik atau pulkam (pulang kampung) bagi yang berada di luar wilayah asal merupakan formalitas yang harus dilakukan ketika merayakan hari lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Idul Fitri. Ya, itulah nama hari kemenangan yang setiap tahun dirayakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Sebetulnya, bila ditilik secara bahasa, ‘Idul Fitri memiliki signifikasi spiritual sangat mendalam; kembali suci. Artinya, setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan &lt;em&gt;îmân-an wa ihtisâb-an&lt;/em&gt;, maka setiap muslim dianggap telah kembali kepada kesucian rohani dan jasmaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sejatinya makna ‘Idul Fitri seperti telah digariskan oleh agama. Namun secara riil, di alam nyata, adakah makna ‘Idul Fitri begitu adanya? Kalau kita baca di beberapa media massa tentang pencurian, pembunuhan, pelecehan seksual (pemerkosaan) terhadap perempuan, beredarnya video mesum siswa-siswi SMA—seperti sebuah kasus di Bangkalan yang kini sedang dalam penyelidikan aparat kepolisian—dan aksi-aksi kriminal lainnya yang terjadi tepat ketika aroma lebaran masih memburai menyegat hidung, makna hakiki ‘Idul Fitri sebagaimana disebutkan di atas jelas-jelas tidak terasa. Aksi-aksi kriminal itu telah menegasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ‘Idul Fitri yang saat ini tengah mengemuka dan menjadi trend di mana-mana adalah mudik bin pulkam (pulang kampung). Demi kumpul bersama keluarga, orang-orang mulai dari pejabat, artis, mahasiswa/i, karyawan dan pedagang tidak takut mengeluarkan duit untuk membeli tiket bus dan pesawat yang harganya melangit, bahkan ada yang rela berebut memasuki kereta api yang sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi nampak sekali, betapa ‘Idul Fitri tidak lagi dimaknai “kembali kepada kesucian”, tetapi “kembali ke kampung halaman”. Sebenarnya, kalau direnungkan secara jernih, aktivitas mudik dalam konteks ‘Idul Fitri tidaklah penting, sehingga tidak perlu diperjuangkan mati-matian apalagi sampai jadi korban. Sebab di luar momen itu acara mudik tetap bisa dilakukan tanpa harus kehilangan kontak batin dengan sanak famili di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikemukakan di awal tadi, hal yang harus lebih diutamakan dalam momen ‘Idul Fitri adalah kesucian jiwa dari segala noda dan dosa. Sebab inilah yang selalu ditekankan agama melalui teks-teks normatifnya, baik dari al-Qur`an maupun as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan pembersihan sekaligus pengisian diri. Dalam artian bahwa selama satu bulan penuh umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa dengan spirit perjuangan, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu, tidak makan dan tidak minum, menahan amarah, dan hal-hal lain yang dapat merusak kesucian (pembersihan) di satu sisi, juga perjuangan berbuat amal kebajikan demi meraup pahala yang sebanyak-banyaknya (pengisian) di sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika jiwa seorang sudah bersih dari berbagai noda dan dosa, maka dia termasuk dalam golongan &lt;em&gt;al-‘Â`idîn&lt;/em&gt; (orang-orang yang kembali [ke fitrah]). Sedangkan bila jiwanya telah terisi dengan cahaya sebagai manifestasi pahala-pahala amal kebajikan yang dilakukannya, maka dia termasuk golongan &lt;em&gt;al-Fâ`izîn&lt;/em&gt; (orang-orang yang menang dan berhasil [meraih banyak pahala]). Kedua hal ini, &lt;em&gt;al-‘awdah&lt;/em&gt; (hal kembali [kepada fitrah]) dan &lt;em&gt;al-fawz&lt;/em&gt; (kemenangan/keberhasilan [meraup banyak pahala]), harus sama-sama diupayakan oleh setiap muslim selama bulan puasa. Yang pertama lebih bersifat personal (hubungan vertikal dengan Allah), adapun yang kedua lebih bersifat sosial (hubungan horizontal dengan sesama). Keimanan personal kepada Tuhan tanpa disertai kebajikan sosial kepada sesama manusia tidaklah berarti apa-apa, demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada benarnya apabila orang yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh dan mengharap keridhaan dari Tuhan, begitu ‘Idul Fitri tiba, dia dianggap suci dan bersih layaknya bayi yang baru lahir tanpa dosa. Tapi ingat, bayi tidak mempunyai kebajikan apapun, sehingga kesuciannya menjadi tidak berguna. Jadi, kesamaan orang yang telah menunaikan kewajiban puasa penuh kesungguhan dengan bayi yang baru lahir hanya pada satu sisi, yaitu sisi kesucian personalnya saja. Ini berarti orang yang berpuasa lebih baik dari bayi, sebab dia memiliki nilai plus berupa kebajikan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu, sangat tidak dibenarkan kalau ada orang ketika lebaran menjelang hanya sibuk mempersiapkan keperluan untuk mudik, sehingga aspek yang lebih penting dari itu, yaitu kesucian dirinya dan kualitas amal kebajikannya kepada sesama, menjadi terabaikan. Maka hilanglah makna ‘Idul Fitri yang sebenarnya, dan dia tidak termasuk ke dalam golongan &lt;em&gt;al-Â`idîn wal Fâ`izîn&lt;/em&gt; yang sejatinya sangat diharapkan setiap orang yang menjalankan ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perlu kiranya ditegaskan kembali di sini, bahwa mudik menjelang lebaran tidak mesti dilakukan. Silaturrahim dengan keluarga tidak harus dilakukan dengan bertemu langsung, bisa saja melalui alat-alat komunikasi yang kini telah tersedia secara bebas. Telephon adalah salah satu dari sekian sarana komunikasi yang bisa digunakan untuk bersilaturrahim dan bermaaf-maafan dengan keluarga di kampung halaman. Dan ini tentu saja, di samping untuk menghemat biaya karena sarana transportasi membutuhkan ongkos yang sangat mahal, juga, yang lebih penting, untuk tidak mengganggu ketenangan kita dalam melaksanakan ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) Tulisan sederhana ini aku persembahkan untuk Bunda-Q Cinta. “Jangan sedih, Bunda. Percayalah, aku selalu mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-7474301555288895019?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/7474301555288895019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=7474301555288895019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7474301555288895019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/7474301555288895019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2008/10/makna-idul-fitri-mudik_17.html' title='Makna &apos;Idul Fitri; Mudik?'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SPip4pLYdGI/AAAAAAAAAEU/z6ruMojwnbU/s72-c/1_272278673l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-6844169708326840875</id><published>2008-10-17T16:10:00.005+02:00</published><updated>2008-10-17T16:58:02.233+02:00</updated><title type='text'>Perbedaan dalam Fiqih</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SPiiHEZ3DEI/AAAAAAAAAEM/7srUbd12m-U/s1600-h/Image046.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258130807280045122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 172px; CURSOR: hand; HEIGHT: 243px" height="320" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SPiiHEZ3DEI/AAAAAAAAAEM/7srUbd12m-U/s320/Image046.jpg" width="216" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Perbedaan dalam masalah hukum merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada setiap pensyari’atan (&lt;em&gt;tasyrî’&lt;/em&gt;) yang menjadikan aktivitas-aktivitas manusia berikut adat-adat mereka sebagai sumber, di samping juga pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran dan pertimbangan mereka sebagai dasar pijakan. Hal itu disebabkan kerena adat-adat manusia berbeda-beda, pekerjaan-pekerjaan mereka bermacam-macam, dan pendapat-pendapat mereka beragam, sesuai dengan fitrah mereka yang diciptakan Allah SWT. Bila dasar pikiran yang digunakan berbeda, sudah tentu hasilnya pun akan berbeda pula. Itulah sebabnya seluruh syari’at positif (&lt;em&gt;asy-syarî’ah al-wadh’îyyah&lt;/em&gt;) hingga saat ini masih saja menjadi obyek perbedaan dan pemicu perdebatan, karena itu merupakan ‘buatan’ sekaligus hasil pemikiran manusia dalam upaya mencapai maslahat-maslahat yang mereka inginkan. Dan maslahat-maslahat yang dicapai tentu saja tidak sama antara satu dengan yang lain tersebab perbedaan pandangan, tujuan, lingkungan dan zaman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kiranya perbedaan semacam itu tidak terjadi dalam syari’at Islam di masa Rasulullah saw hidup, yaitu ketika beliau menyampaikannya di tengah-tengah manusia dan menjelaskan signifikansinya dalam kehidupan. Hal ini disebabkan karena Allah SWT selalu ‘turut campur’ dalam menentukan mana yang termasuk wahyu dari-Nya guna mengatur manusia dan mana yang termasuk ijtihad atau upaya penalaran subyektif Nabi saw. Apapun yang berasal dari Allah SWT maka tidak ada pertentangan di dalamnya. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur`an: “Apakah mereka tidak merenungkan al-Qur`an? Dan kalau [al-Qur`an itu] berasal dari selain Allah niscaya mereka akan menemukan banyak sekali pertentangan di dalamnya.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Adapun setelah Rasulullah saw wafat, yaitu ketika pawahyuan al-Qur`an sudah terhenti, maka orang-orang setelah beliau (para sahabat) atau orang-orang setelah mereka (para tabi’in dan tabi’it tabi’in) berupaya menerapkan ajaran dari Rasulullah saw terhadap kejadian-kejadian baru. Nah di sinilah mereka dihadapkan pada kenyataan-kenyataan dengan berbagai corak dan beragam kondisi serta perbedaan tempat.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Dalam hal ini mereka berpijak pada pandangan dan perbandingan antara apa yang terjadi di masa Nabi saw dengan apa yang terjadi setelahnya, disertai identifikasi adanya persamaan antara kejadian-kejadian yang lalu dengan kejadian-kejadian setelahnya dan kesamaan konteks hukum berikut &lt;em&gt;‘illah&lt;/em&gt;-nya. Kemudian pada tahapan selanjutnya dicarilah makna-makna teks yang sesuai dan hubungan antara yang satu dengan yang lain sembari melakukan &lt;em&gt;ithlâq&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;taqyîd&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;takhshîsh&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;ta’mîm&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;naskh&lt;/em&gt;. Ini semua adalah hal-hal yang di dalamnya terdapat banyak sekali pola pandang sehingga melahirkan banyak perbedaan; di antaranya perbedaan kejadian-kejadian yang lalu berikut kondisi dan penentuan konteks hukum tentangnya serta pengokohan aspek-aspek persamaan antaranya dengan kejadian-kejadian yang baru; di antaranya adalah perbedaan teks yang diriwayatkan tentang hukum-hukum yang ada, baik yang diriwayatkan secara benar (&lt;em&gt;shahîh&lt;/em&gt;) atau tidak, atau yang sudah ditetapkan atau tidak; di antaranya perbedaan dalam mengetahui konteks hukum berikut syarat-syaratnya; di antaranya perbedaan dalam menjadikan titik persamaan sebagai dasar legal yang mana hukum dapat melampaui konteks asalnya; di antaranya perbedaan dalam menghubungkan hukum yang ada dengan kesimpulan dari &lt;em&gt;‘illah&lt;/em&gt;-nya; dan masih banyak lagi perbedaan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebelum melangkah lebih jauh membahas perbedaan dalam fiqih, alangkah baiknya bila saya memaparkan terlebih dahulu tentang fiqih di masa Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Fiqih di Masa Rasulullah Saw&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Di masa hidupnya Rasulullah saw menyampaikan hukum-hukum yang disyari’atkan Allah SWT kepada kaum muslimin, yaitu menyampaikan hukum-hukum yang tertera di dalam al-Qur`an dan menjelaskannya, atau menerapkannya di tengah-tengah mereka sebagai contoh, atau memberikan nasehat dalam hal-hal yang mereka selisihkan. Rasulullah saw adalah &lt;em&gt;marja’&lt;/em&gt; (tempat kembali) ketika di antara mereka terjadi perselihan, &lt;em&gt;mafza’&lt;/em&gt; (tempat berlindung) di saat mereka dirundung kesusahan, &lt;em&gt;râ`id&lt;/em&gt; (pemimpin) dalam semua urusan, &lt;em&gt;hâdî &lt;/em&gt;(penunjuk) di kala mereka dilanda kebingungan, dan &lt;em&gt;mursyid&lt;/em&gt; ketika mereka terjerembab ke dalam kubang kesesatan. Jika mereka berselisih mengenai suatu perkara, maka beliau mengembalikannya kepada yang benar (&lt;em&gt;ash-shawâb&lt;/em&gt;). Dan jika kebenaran tidak nampak kepada mereka, maka beliau segera menunjukkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebagian dari mereka terkadang dihadapkan pada suatu perkara yang menuntut penyelesaian mendesak sehingga tidak memungkinkan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah saw dikarenakan jauhnya tempat atau dalam perjalanan, maka mereka kemudian melakukan ijtihad untuk mengetahui hukumnya, dan ketika pada suatu kesempatan mereka hadir di majlis beliau maka mereka langsung mengadukan hasil ijtihad mereka kepada beliau, kemudian beliau menerangkan kepada mereka tentang kebenaran perkara tersebut yang segera mereka terima dengan penuh keimanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pernah suatu ketika sahabat ‘Amru ibn al-‘Ash ra diutus untuk memimpin para tentara muslim dalam sebuah peperangan di tahun kedelapan Hijriyah. Dan pada suatu malam yang sangat dingin dia mimpi basah; junub! Waktu shalat shubuh pun tiba. Dia kuatir kalau memaksakan diri untuk mandi akan membahayakan bagi kesehatan fisiknya, apalagi saat itu masih dalam suasana perang. Karena kekuatiran itulah dia hanya bertayamum untuk kemudian melaksanakan shalat bersama sahabat-sahabat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan pada suatu kesempatan, yaitu ketika berkumpul bersama Rasulullah saw, para sahabat menceritakan apa yang dialami oleh ‘Amru ibn al-‘Ash. Beliau pun kemudian bertanya kepadanya: “&lt;em&gt;Wahai ‘Amru, apakah kau melakukan shalat bersama sahabat-sahabatmu sedang kau dalam keadaan junub&lt;/em&gt;?” ‘Amru ibn al-‘Ash menjawab dengan menyebutkan salah satu ayat dalam al-Qur`an yang berbunyi: “Janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri, sesungguhnya Allah sangatlah Penyayang kepada kamu.” Mendengar itu Rasulullah hanya tertawa dan tidak mengatakan apa-apa. Maka tenanglah ‘Amru ibn al-‘Ash.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;‘Atha` bin Yasar juga meriwayatkan tentang dua orang yang sedang bepergian. Di tengah perjalanan keduanya tidak menemukan air, padahal waktu shalat sudah tiba. Akhirnya keduanya bertayamum dan kemudian melakukan shalat. Setelah itu keduanya melanjutkan perjalanan. Tetapi belum begitu jauh melangkah keduanya melihat air. Lalu salah seorang dari keduanya berwudhu` dan mengulangi shalatnya, sedangkan yang lain tidak melakukannya. Maka begitu bertemu Rasulullah saw keduanya langsung menceritakan hal tersebut. Kemudian beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya: “&lt;em&gt;Kamu benar, shalatmu mendapat pahala&lt;/em&gt;.” Setelah itu beliau berkata kepada orang yang berwudhu` dan mengulangi shalatnya: “&lt;em&gt;Kamu mendapat dua pahala&lt;/em&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Demikianlah keadaan di masa Rasulullah saw, tidak ada perbedaan hukum. Ketika beliau menetapkan hukum atas suatu perkara maka tidak ada seorang pun yang tidak mematuhinya. Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang berselisih pendapat dengan beliau. Kalau ada orang yang berpendapat dalam masalah hukum, dan kemudian diutarakan kepada Nabi, kalau beliau menerima dan mengakuinya maka itu dengan sendirinya menjadi syari’at yang kudu dijalankan. Tetapi kalau beliau menolak, maka setelah itu tidak ada yang boleh mengerjakannya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan demikian, berdasarkan paparan di atas, fiqih di masa Rasulullah sebetulnya bersifat praksis (terapan), tidak bersifat teoritis seperti sekarang ini. Kala itu sumber hukum yang dijadikan pijakan dalam setiap permasalahan adalah figur Nabi saw sebagai perima wahyu secara langsung dari Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Artinya, setiap kali ada masalah, terutama yang berhubungan dengan agama, kaum muslimin langsung menanyakannya kepada beliau. Kala itu pula, masalah apapun yang terjadi hanya membutuhkan solusi yang amat sederhana. Sebab kaum muslimin masih sedikit dan tinggal di satu tempat, yaitu di Jazirah Arab.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perbedaan Pendapat di Masa Sahabat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah Rasulullah saw berpulang ke rahmatullah, otomatis penurunan wahyu terhenti. Di sini para sahabat—semoga ridha Allah SWT senantiasa tercurah kepada mereka—ketika dihadapkan pada sebuah perkara yang menuntut penjelasan suatu hukum, mereka mencarinya di dalam al-Qur`an, kemudian di dalam as-Sunnah. Apabila mereka menemukannya di dalam kedua pedoman tersebut atau di salah satunya, maka dengan penuh keimanan mereka mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Salah seorang dari mereka bertanya kepada yang lain ketika ia tidak mengetahui hukum dari suatu perkara. Seperti riwayat yang menyebutkan bahwa seorang nenek datang kepada Khalifah Abu Bakar ra menanyakan tentang warisan untuknya. Sang khalifah lalu mencarinya di dalam al-Qur`an namun tidak menemukannya, dan dia juga tidak mengetahui adanya suatu acuan dari Rasulullah saw yang secara eksplisit atau implisit yang membahas tentang warisan untuk nenek-nenek. Akhirnya dia bertanya kepada sahabat-sahabat yang lain, kemudian muncullah al-Mughirah ra dan Muhammad bin Salamah yang memberi kesaksian bahwa Rasulullah saw memberikan hak waris seper enam untuk seorang nenek.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Akan tetapi kalau mereka benar-benar tidak menemukannya di dalam al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka sang Khalifah akan mengumpulkan beberapa orang pilihan dari para sahabat yang dianggap mumpuni dalam masalah hukum untuk melakukan musyawarah. Kalau nantinya mereka sependapat dalam suatu hukum, maka sang khalifah akan langsung menerapkannya. Tetapi bila terjadi perbedaan di antara mereka, maka sang khalifah akan memilih yang menurutnya lebih mendekati kebenaran demi terwujudnya maslahat kaum muslimin secara umum, tanpa menganggap hal itu sebagai penghalang untuk merubah pilihannya tersebut mana kala nantinya terdapat pendapat lain yang lebih benar.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan demikian, pasca wafatnya Rasulullah saw, perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan sahabat tidak lain merupakan konsekuensi dari ijtihad mereka mengenai suatu perkara yang tidak ada satupun teks yang menegaskannya, baik dari al-Qur`an atau as-Sunnah. Dan Rasulullah sendiri di masa hidup beliau telah mengajarkan kepada para sahabat cara melakukan istinbâth (pengambilan kesimpulan hukum) dan cara melakukan ijtihad dalam hal yang belum mendapat ketegasan hukum secara tekstual.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan meskipun terjadi perbedaan dalam berijtihad di kalangan sahabat, hanya saja di dalamnya terdapat beberapa keistimewaan, di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, mereka merasa cukup dengan kenyataan yang ada. Artinya bahwa mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum terjadi, dan tidak meletakkan jawaban-jawaban sebelum bertanya terlebih dahulu, sebagaimana juga dilakukan oleh orang-orang setelah mereka. Jika mereka bertanya tentang sesuatu, mereka berkata: “Apakah itu terjadi?” Kalau itu terjadi maka mereka kemudian melakukan ijtihad guna menemukan jawabannya. Dan kalau tidak terjadi maka mereka tidak memberikan jawaban apa-apa. Mereka hanya berkata: “Biarkan itu terjadi, kemudian kami akan memberi jawaban.” Setidaknya ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak menyukai pendapat yang bersifat asumtif atau hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ya, mereka tidak suka bertanya tentang suatu hal yang tidak terjadi. Bahkan mereka mencela orang yang memaksakan diri untuk menanyakannya. Hal ini dipertegas oleh Umar bin al-Khaththab dengan perkataannya yang cukup populer di masanya: “Tidak ada seorang pun yang boleh menanyakan sesuatu yang belum terjadi. Sesungguhnya Allah SWT sudah menetapkan apa yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, adanya kebebasan ijtihad di kalangan sahabat. Artinya bahwa orang dari mereka melakukan ijtihad dalam hal yang dianggapnya benar. Meski demikian mereka tetap menghargai pendapat-pendapat sebagian yang lain ketika terjadi perbedaan. Ini bisa dilihat dari perbedaan yang terjadi antara Ibn ‘Abbas dan Zaid bin Tsabit mengenai bagian “ibu” dari harta warisan yang mencakup suami, ayah dan ibu, atau istri, ayah dan ibu. Ibn ‘Abbas berpendapat: “Dia mempunyai hak sepertiga dari harta itu.” Berbeda dengan Zaid bin Tsabit yang berpendapat: “Dia mempunyai hak sepertiga sisa dari harta itu.” Kemudian Ibn ‘Abbas bertanya: “Adakah di dalam al-Qur`an sepertiga sisa dari harta?” Zaid menjawab: “Aku hanya mengatakan dengan pendapatku, dan kau juga mengatakan dengan pendapatmu.” Jadi keduanya tidak saling menyalahkan, justru saling menghargai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, mereka enggan menisbatkan pendapat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Artinya mereka sangat hati-hati menisbatkan pendapat yang mereka kemukakan kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Mereka lebih banyak menisbatkannya kepada diri mereka sendiri. Misalnya salah seorang dari mereka berkata: “Ini pendapat si Fulan, kalau benar maka itu dari Allah, dan kalau salah maka itu dari dirinya sendiri atau dari setan. Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya terbebas dari sesuatu yang buruk.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hal itu juga dicontohkan oleh Abu Bakar ra, yaitu ketika dia dihadapkan pada sebuah permasalahan yang tidak ditemukan landasan hukumnya baik di dalam al-Qur`an ataupun as-Sunnah. Dia melakukan ijtihad berdasar pendapatnya, lalu berkata: “Ini adalah pendapatku, kalau benar maka itu berasal dari Allah, tetapi kalau salah maka itu berasal dariku, dan aku memohon ampun kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sini nampak betapa para sahabat—semoga Allah senantiasa memberikan ridha-Nya kepada mereka—melakukan ijtihad berdasar kemampuan mereka dalam merumuskan hukum yang terbentuk melalui pendidikan Rasulullah saw semasa beliau hidup. Sehingga perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan mereka tidak berlandaskan pada hawa nafsu, melainkan pada kematangan ilmu yang beriringan dengan keimanan yang menghujam kuat di dalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Latar Belakang Terjadinya Perbedaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa perbedaan pendapat merupakan suatu hal yang lumrah dalam kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan Islam, paling tidak ini menunjukkan kerealistisannya sebagai sebuah agama yang memperlakukan manusia sebagai manusia yang memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya dalam hal tingkat kemampuan, pengetahuan dan pemahaman. Setelah masa-masa kenabian perbedaan pola pandang di kalangan sahabat acap terjadi, akan tetapi perbedaan tersebut tidak timbul dari kelemahan akidah, atau keraguan terhadap kebanaran ajaran Rasulullah saw, melainkan semata-mata karena keinginan yang kuat untuk merumuskan hukum-hukum yang sesuai dengan kehendak Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kita lihat berdasar kejadian-kejadian yang ada, bahwa semua faktor yang melatarbelakangi perbedaan di kalangan sahabat tidak keluar dari perbedaan pemahaman terhadap teks karena faktor-faktor lughawiyah atau ijtihadiyah, yaitu dalam manafsirkan ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi saw. Namun di balik faktor-faktor tersebut sama sekali tidak ada maksud-maksud tersembunyi yang sengaja diupayakan untuk menumbuhkan benih pertentangan sebagaimana sering dilakukan oleh orang-orang munafik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan secara natural ada beberapa faktor perbedaan yang berpindah-pindah dari satu masa ke masa yang lain, sehingga sulit untuk dibangun semacam pagar-pagar pemisah antara faktor-faktor satu masa dengan masa yang lainnya. Namun di sana terdapat beberapa hal baru dalam dunia Islam yang memunculkan unsur-unsur spirit perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sejak terbunuhnya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan ra, wilayah-wilayah Islam mengalami goncangan-goncangan amat dahsyat sehingga melahirkan peristiwa-peristiwa yang memasukkan ke dalam ‘ranah perbedaan’ banyak hal yang tadinya berada di luarnya, dan inilah yang barangkali membuat penduduk setiap wilayah ‘mengisolasi’ apa yang sampai kepada mereka dari Sunnah Rasulullah saw karena kuatir terjadi pemalsuan dan penipuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kemudian lahirlah aliran Kufah dan aliran Basrah sebagai lingkungan amat subut bagi interaksi berbagai pemikiran politik, di samping muncul berbagai kelompok seperti Khawarij, Syi’ah, Murji`ah, Muktazilah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tak ayal lagi, karena banyaknya kelompok yang bermunculan, maka metode pemikiran juga semakin banyak, yang mana setiap kelompok mempunyai pijakan-pijakan atau kaidah-kaidah tersendiri yang digunakan dalam berinteraksi dengan teks-teks agama serta menafsirkan sumber-sumber syari’at dan menyikapi berbagai problem baru yang muncul. Sehingga menjadi sangat wajar bila peletakan patokan-patokan baku menjadi sangat penting, juga perumusan metode-metode dan cara-cara penyimpulan hukum-hukum realita dari wahyu ilahi, serta pembatasan mana yang boleh masuk ke dalam ‘ranah perbedaan’ dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan sungguh merupakan rahmat Allah SWT yang telah menjadikan fiqih boleh masuk ke dalam ‘ranah perbedaan’. Sebab pada dasarnya fiqih merupakan pengetahuan seorang faqih mengenai hukum realita berdasar dalil-dalil universal dan partikular (&lt;em&gt;al-adillah al-kullîyyah wal juz’îyyah&lt;/em&gt;) yang terkandung di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah. Bisa saja kesimpulan hukum seorang faqih sesuai dengan maksud syari’at, dan bisa juga tidak. Namun dalam dua keadaan tersebut dia tidak dituntut lebih dari upayanya mencurahkan puncak kemampuan akalnya untuk sampai pada suatu hukum. Artinya bahwa jika dia tidak benar-benar sampai pada hukum yang dimaksudkan syari’at, maka paling tidak apa yang dia capai itu mendekati kebenaran dan tujuannya. Oleh sebab itulah perbedaan menjadi sesuatu yang dibolehkan dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Secara umum, terutama setelah masa-masa para sahabat, faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya perbedaan dalam penyimpulan hukum bisa dibagi menjadi tiga, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1 Faktor-faktor yang menyangkut bahasa:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Terkadang dalam teks-teks syari’at terdapat “&lt;em&gt;lafazh musyrarak&lt;/em&gt;” (kata yang mempunyai banyak makna), seperti kata “ &lt;em&gt;‘ain&lt;/em&gt;” yang bisa berarti “mata”, “barang”, “emas murni” dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jika dalam teks syari’at terdapat kata yang tidak terkait dengan konteks tertentu, maka makna-makna yang ada bisa digunakan seluruhnya, tergantung masing-masing mujtahid mau menggunakan yang mana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Misalnya para ahli fiqih berbeda pendapat dalam memaknai kata “&lt;em&gt;al-qur`&lt;/em&gt;” dalam ayat 228 dari surat al-Baqarah. Kata “&lt;em&gt;al-qur`&lt;/em&gt;” bisa dimaknai “&lt;em&gt;ath-thuhr&lt;/em&gt;” (masa suci) atau bisa juga “&lt;em&gt;al-haydh&lt;/em&gt;” (masa haid). Di sini para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai iddah wanita yang ditalak suaminya, apakah dengan tiga kali suci atau dengan tiga kali haid? Para ahli fiqih di Hijaz berpendapat bahwa iddah wanita yang ditalak suaminya adalah tiga kali suci, sedangkan para ahli fiqih Irak berpendapat tiga kali haid. &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan terkadang ada suatu kata dalam teks syari’at yang bermakna &lt;em&gt;haqîqî&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;majâzî&lt;/em&gt;. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih, mana di antara kedua makna tersebut yang lebih bisa gunakan.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Misalnya kata “&lt;em&gt;al-mîzân&lt;/em&gt;” dalam ayat 7 dari surat ar-Rahmân. Ada sebagian yang lebih memilih makna &lt;em&gt;majâzî&lt;/em&gt;, yaitu “keadilan”. Dan ada juga sebagian yang memilih makna &lt;em&gt;haqîq&lt;/em&gt;î, yaitu “timbangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2 Faktor-faktor yang menyangkut periwayatan as-Sunnah:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Sebagian besar perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama salaf bermuara di sini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terkadang sebuah hadits tidak sampai kepada mujtahid tertentu, sehingga dia berfatwa berdasar makna tekstual ayat atau hadits lain, atau dengan melakukan qiyas (analogi) terhadap kejadian yang pernah terjadi di masa Rasulullah saw hidup, atau dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terkadang sebuah hadits sampai kepada seorang mujtahid, akan tetapi dia menemukan kekurangan di dalamnya yang membuat dia enggan mengamalkannya. Misalnya dia meragukan keshahihan sanad hadits tersebut karena terdapat perawi yang majhûl, atau lemah dalam menghafal silsilah isnadnya, atau karena maqtû’ atau mursal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Para ahli fiqih bisa saja berbeda pendapat mengenai makna-makna hadits, misalnya mereka berbeda dalam masalah “&lt;em&gt;al-muzâbanah&lt;/em&gt;”, “&lt;em&gt;al-mukhâbarah&lt;/em&gt;”, “&lt;em&gt;al-muhâqalah&lt;/em&gt;”, “&lt;em&gt;al-mulâmasah&lt;/em&gt;”, “&lt;em&gt;al-munâbadzah&lt;/em&gt;”, dan “&lt;em&gt;al-gharar&lt;/em&gt;” karena perbedaan mereka dalam menafsirkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terkadang ada sebuah hadits yang sampai kepada seorang mujtahid dengan suatu lafazh, dan sampai kepada mujtahid lain dengan lafazh yang berbeda. Misalnya salah satu dari keduanya menghapus sebuah kata yang mana makna hadits tersebut menjadi tidak sempurna kecuali dengan kata itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kadang-kadang ada sebuah hadits sampai kepada seorang mujtahid disertai dengan &lt;em&gt;asbâbul wurûd&lt;/em&gt;-nya, dan sampai kepada mujtahid lain tanpa disertai dengan itu sehingga membuat pemahamannya berbeda dengan yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terkadang ada seorang perawi yang menerima sebuah hadits secara lengkap, sementara perawi lain tidak. Maka tak nyana ini akan berpengaruh pada pemahaman keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kadang juga seorang mujtahid menganggap sebuah hadits telah di&lt;em&gt;nasakh&lt;/em&gt;, atau di&lt;em&gt;takhshîsh&lt;/em&gt;, atau di&lt;em&gt;taqyîd&lt;/em&gt;, sementara mujtahid lain tidak beranggapan demikian. Maka sudah tentu ini akan membuat pendapat keduanya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;3 Faktor-faktor yang menyangkut kaidah-kaidah ushuliyah dan acuan-acuan penyimpulan hukum:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Ilmu ushul fiqih merupakan sekumpulan kaidah dan acuan yang dibuat oleh para mujtahid untuk lebih mengakuratkan proses ijtihad dan penyimpulan hukum-hukum syari’at yang sifatnya furu’iyah dari dalil-dalil tafshiliyah (terperinci), yang mana para mujtahid menetapkan dalam metode-metode ushuliyah mereka dalil-dalil yang darinya dapat disimpulkan hukum-hukum, kemudian mereka menentukan cara-cara penyimpulan hukum syari’at dari setiap dalil yang ada, juga langkah-langkah yang mesti ditempuh untuk sampai kepada hukum syari’at yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setiap madzhab atau aliran mempunyai kaidah-kaidah dan acuan-acuannya masing-masing. Ada madzhab yang berpendapat bahwa fatwa seorang sahabat Nabi saw kalau sudah populer dan tidak ada satu pun yang menentangnya—dari para sahabat sendiri—bisa digunakan sebagai hujjah, karena para sahabat tidak akan mengeluarkan fatwa kecuali berlandaskan pada sebuah dalil, atau pemahaman mereka terhadapnya, atau berdasarkan apa yang mereka dengar dari Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebagian mujtahid ada yang menggunakan &lt;em&gt;al-mashâlih al-mursalah&lt;/em&gt;, yaitu hal-hal yang di dalam syari’at tidak terdapat sesuatu yang menunjukkan keberadaannya, sebagaimana tidak terdapat sesuatu yang menunjukkan penghapusan terhadapnya. Jika seorang mujtahid menemukan dalam hal-hal tersebut sesuatu yang menjamin kemaslahatan, maka dia akan berpendapat berdasar maslahat tersebut dengan anggapan bahwa syari’at digariskan hanya untuk menjamin kemaslahan manusia.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada juga beberapa hal lain yang hingga saat ini masih menjadi obyek perdebatan di kalangan ahli fiqih atau mujtahid, seperti &lt;em&gt;Istishlâh&lt;/em&gt; (pencapaian maslahat), &lt;em&gt;Istihsân&lt;/em&gt; (kebaikan yang dicapai dengan rasio), &lt;em&gt;Istish-hâb&lt;/em&gt; (penetapan hukum yang telah berlaku sebelumnya), &lt;em&gt;syar’ man qablanâ&lt;/em&gt; (syari’at agama pra-Islam), &lt;em&gt;sadd adz-dzarâ`i&lt;/em&gt;’ (tindakan preventif), &lt;em&gt;‘amal ahl al-Madînah&lt;/em&gt; (tradisi penduduk Madinah), &lt;em&gt;‘urf&lt;/em&gt; (adat istiadat), &lt;em&gt;istiqrâ`&lt;/em&gt; (observasi), &lt;em&gt;al-akhdz bi aqall mâ qîla&lt;/em&gt; (pengambilan ukuran minimal yang dikemukakan), &lt;em&gt;al-akhdz bil ahwath&lt;/em&gt; (pengambilan yang lebih hati-hati) dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Setelah kita membahas—meski tidak detail—mengenai faktor-faktor yang mengakibatkan timbulnya perbedaan pendapat di kalangan sahabat, ahli fiqih atau mujtahid, di sini kita bisa mengambil beberapa kesimpulan berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, bahwa fiqih di masa sahabat terbentuk dengan munculnya kejadian-kejadian baru setelah wafatnya Rasulullah saw. Apabila di dalam teks-teks syari’at (al-Qur`an dan as-Sunnah) tidak ditemukan ketentuan hukumnya, maka mereka melakukan ijtihad dan mengamalkannya berdasarkan maslahat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, bahwa al-Qur`an merupakan pedoman utama bagi para mujtahid. Artinya kalau ada suatu masalah, maka yang pertama kali mereka rujuk adalah al-Qur`an. Dan meskipun para sahabat—semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan ridha-Nya kepada mereka—adalah orang-orang yang dianggap paling mampu memahami al-Qur`an karena mereka benar-benar mengetahui &lt;em&gt;asbâb an-nuzûl&lt;/em&gt;-nya, akan tetapi tetap saja terjadi perbedaan pendapat di antara mereka disebabkan tingkat keilmuan dan intelektualitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, bahwa perbedaan tingkat kecerdasan dan keilmuan para sahabat disebabkan karena sebagian dari mereka yang selalu bersama Rasulullah saw lebih lama, sedangkan sebagian lainnya ada yang disibukkan dengan jihad, atau disibukkan dengan pekerjaan berdagang dan bercocok tanam. Sehingga apa yang didengarkan sebagian dari Rasulullah tidak didengarkan oleh yang lain. Maka wajar kiranya bila terjadi silang pendapat di antara mereka. Terlebih lagi dalam kehidupan kaum muslimin di masa-masa setelah mereka hingga masa kini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Maka, berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut, dapat dikatakan bahwa perbedaan hakikatnya merupakan rahmat dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya. Kita lihat betapa kaum muslimin hidup di berbagai belahan bumi dengan kondisi dan lingkungan yang berbeda-beda. Bisa saja suatu madzhab atau aliran tertentu lebih cocok bagi lingkungan yang ini, sementara yang lain lebih sesuai dengan lingkungan yang itu. Dan satu hal yang perlu dipahami di sini, bahwa kita tidak mungkin bisa melebur-satukan madzhab-madzhab yang ada, dan itu memang bukan sesuatu yang penting. Akan tetapi yang penting adalah mengetahui faktor-faktor yang sekiranya dapat mendamaikan madzhab-madzhab tersebut, sehingga tidak ada lagi yang namanya pertikaian dan permusuhan di antara kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Ada beberapa hal penting mengenai perbedaan tingkat validitas antara periwayatan al-Qur`an dan as-Sunnah—yang membuat al-Qur`an lebih diutamakan ketimbang as-Sunnah—yang sebetulnya bisa dikatakan sebagai pemicu terjadinya silang pendapat dalam masalah hukum di kalangan sahabat, selain perbedaan pemahaman mereka terhadap kedua sumber hukum tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, bahwa al-Qur`an dalam periwayatannya dari Nabi saw tidak ada yang memicu perselisihan sehingga tidak melahirkan perbedaan dalam hukum, berbeda dengan Sunnah yang tidak ‘selamat’ dari perselisihan dalam hal kebenaran (keshahihan) periwayatannya, sehingga ada satu kelompok yang mengamalkan sementara yang lain tidak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, bahwa al-Qur`an sudah dikodifikasi dan banyak yang menghafalnya. Hal ini sangat diketahui oleh kaum muslimin. Al-Qur`an merupakan dasar agama sekaligus pedoman dan sandaran bagi mereka. Mereka semua berkewajiban mengikutinya. Sementara as-Sunnah tidaklah menyatu atau terkodifikasi layaknya al-Qur`an, akan tetapi bertebaran di antara para sahabat yang meriwayatkannya. Siapa pun dari mereka yang mengetahui maka dia akan mengamalkannya, sebaliknya yang tidak mengetahui maka dia akan langsung melakukan ijtihad, dan tentu saja ijtihadnya berbeda dengan ijtihad sahabat lain. Maka timbullah perbedaan pendapat di kalangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, bahwa perbedaan para sahabat dalam periwayatan as-Sunnah disebabkan oleh perbedaan mereka dalam pemahaman terhadapnya mana kala mengandung banyak kemungkinan, baik lafazh ataupun maknanya, sehingga nantinya melahirkan perbedaan di kalangan mereka dalam beberapa hukum. Berbeda dengan al-Qur`an yang memang mereka hafal lafazh-lafazhnya ‘di luar kepala’ dan terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, bahwa perbedaan dalam penyimpulan hukum dari al-Qur`an disebabkan oleh perbedaan pemahaman mereka terhadapnya. Perbedaan semacam ini juga terjadi dalam memahami as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kaum muslimin di masa Rasulullah saw masih sedikit dan tinggal di satu tempat, yaitu di Jazirah Arab. Namun, setelah beliau wafat, mereka melakukan ekspansi ke beberapa tempat di luar Jazirah Arab dan berbaur serta menjalin interaksi dengan masyarakat yang berbeda keyakinan dan budayanya, sehingga masalah-masalah yang muncul kemudian menjadi kompleks dan rumit. Hal ini menuntut para ulama untuk melakukan langkah-langkah kongkret guna mencari solusi-solusi bagi seluruh permasalahan yang ada, terutama hal-hal yang berhubungan dengan agama, agar interaksi kaum muslimin dengan masyarakat-masyarakat lain itu berjalan secara dinamis. Tentu saja langkah-langkah yang mereka lakukan itu bukan tanpa dasar, justru, meski sudah dianggap sempurna, al-Qur`an menyuruh manusia untuk terus melakukan perubahan sesuai dengan fitrahnya sebagai satu-satunya makhluk Tuhan yang dianugerahi akal, di samping juga beberapa hadits Nabi saw. Dengan dasar inilah para ulama klasik kemudian melakukan upaya-upaya mempersambungkan prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersifat universal (&lt;em&gt;al-kullîyyât&lt;/em&gt;) pada kasus-kasus kehidupan yang bersifat partikular (&lt;em&gt;juz`îyyât&lt;/em&gt;). Inilah yang populer disebut ijtihad. Dan hasil ijtihad—sebagai proses intelektual untuk menurunkan ketentuan universal pada ketentuan-ketentuan yang bersifat partikular sekaligus kerangka teknis operasionalnya—itulah yang disebut fikih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Syaikh ‘Ali al-Khafif, &lt;em&gt;Asbâb-u Ikhtilâfil Fuqahâ&lt;/em&gt;`, Darul Fikr al-‘Arabi, Cairo, cet. II, 1996, hlm. 8&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; HR. Ahmad dan Abu Daud.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Syaikh ‘Ali al-Khafif, &lt;em&gt;Asbâb-u Ikhtilâfil Fuqahâ&lt;/em&gt;`, Darul Fikr al-‘Arabi, Cairo, cet. II, 1996, hlm. 10 - 11&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Ibid. 11&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Di masa Rasulullah saw hukum-hukum tidak memiliki sumber selain al-Qur`an dan Sunnah. Al-Qur`an adalah sumber primer yang hanya menjelaskan dasar-dasar hukum yang bersifat umum tanpa menyentuh hukum-hukum secara detail. Sedangkan Sunnah merupakan sumber sekunder yang menjelaskan secara detail hal-hal yang bersifat umum di dalam al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin, &lt;em&gt;al-Ijtihâd wa al-Tajdîd fî al-Fiqhil Isl&lt;/em&gt;âmî, al-Mu`assasah al-Dauliyah, Beirut, cet. I, 1999, hlm. 46&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Dr. Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi, &lt;em&gt;Ikhtilâf ash-Shahâbah&lt;/em&gt;, Maktabah Madbuli, Cairo, cet. I, 1991, hlm. 15&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Hal ini menegaskan bahwa sumber-sumber fikih di masa sahabat adalah al-Qur`an, as-Sunnah, Ijma’ dan Ra`y. Hanya saja “Ra`y” yang dimaksud di sini adalah pendapat yang membuat hati tenang setelah melalui proses berpikir dan perenungan yang mendalam, disertai upaya pencarian terhadap relevansi pada suatu perkara yang mencakup dalil-dalil yang bertentangan, atau suatu perkara yang memang tidak ada satu pun teks yang menegaskannya. Makanya bagi mereka “Ra`y” itu mencakup ijtihad dalam memahami makna teks yang bertentangan atau tidak ada. Sebagaimana juga mencakup &lt;em&gt;qiyâs&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;istihsân&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;sadd adz-dzarâ`i’&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;al-mashâlih al-mursalah&lt;/em&gt;, dan hal-hal lain yang pada masa-masa berikutnya menjadi kaidah-kaidah dasar yang digunakan oleh para imam untuk merumuskan hukum-hukum fiqih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Dr. Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi, &lt;em&gt;Ikhtilâf ash-Shahâbah&lt;/em&gt;, Maktabah Madbuli, Cairo, cet. I, 1991, hlm. 20 – 26&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Ibid. hlm. 87&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Syaikh ‘Ali al-Khafif, &lt;em&gt;Asbâb-u Ikhtilâfil Fuqahâ&lt;/em&gt;`, Darul Fikr al-‘Arabi, Cairo, cet. II, 1996, hlm. 126&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=21956488#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Ibid. hlm. 231&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-6844169708326840875?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/6844169708326840875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=6844169708326840875' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/6844169708326840875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/6844169708326840875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2008/10/perbedaan-dalam-fiqih-1.html' title='Perbedaan dalam Fiqih'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SPiiHEZ3DEI/AAAAAAAAAEM/7srUbd12m-U/s72-c/Image046.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-970131701524049734</id><published>2008-07-26T19:55:00.005+03:00</published><updated>2008-07-26T20:13:15.165+03:00</updated><title type='text'>Siapa yang Lebih Berhak Masuk Surga?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItYuxrHzlI/AAAAAAAAADk/K3OHwhtDgpY/s1600-h/1_717758759l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227369353125023314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 187px" height="300" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItYuxrHzlI/AAAAAAAAADk/K3OHwhtDgpY/s320/1_717758759l.jpg" width="188" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saya selalu mengikuti isu-isu yang tengah marak di mailits IKBAL Al-Amien, meskipun saya jarang memberikan tanggapan, kecuali kalau lagi &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt;. Kebetulan ketika itu isu yang lagi marak tentang penghormatan terhadap kelompok lain. Apalagi saat itu juga sedang ramai-ramainya isu pembantaian para anggota FPI (Front Pembela Islam) terhadap para anggota AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) di Monas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saya amati, kawan-kawan peserta mailist IKBAL saling hujat satu sama lain. Dan, sungguh, hati saya menangis mendahului aliran air mata di wajah saya. Lebih-lebih ketika kata-kata “kafir”, “murtad”, “sesat” dan sejenisnya terlontar liar tak terbendung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terus terang saja, dengan hati miris saya katakan, saya paling tidak suka bermusuhan, saya lebih suka berdamai dengan orang, makanya kata-kata sopan selalu saya kedepankan demi menghormati orang lain yang juga manusia seperti saya dan mempunyai hak yang sama dengan saya. Tidak peduli orang Kristen, Yahudi, Ahmadiyah dan kelompok-kelompok lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terhadap para penganut kelompok agama, pemikiran atau yang lain-lain, saya tidak memandang “kelompok”-nya, akan tetapi lebih memandang kepada kemanusiaannya. Selama mereka baik, ya saya santai saja, dan tentu saja asal mereka tidak membantai dan memukuli saya seperti yang terjadi di Monas setengah bulan yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam urusan surga, saya kok lebih yakin Fir’aun yang masuk surga daripada Habib Rizieq, Munarman, Abu Bakar Ba'asyir, atau orang-orang FPI lainnya, FUI, dan MUI. Pelacur saja masuk surga, orang shalat malah diancam neraka oleh Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Makanya, bagi saya, masuk dan tidaknya manusia ke dalam surga tidak ditentukan oleh agama, kelompok atau apalah namanya, tetapi yang menentukan adalah kelakuan manusia di muka bumi, sejauh mana kontribusinya terhadap manusia lainnya; apa saja yang telah diperbuatnya untuk kedamaian, ketenteraman dan kemajuan manusia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jadi semata-mata bukan karena dia Islam, Yahudi, Kristen atau Ahlus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyah dan lain-lain. Toh Nabi pernah bersabda, “&lt;em&gt;Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya&lt;/em&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Coba kita semua merenungkan hadits Nabi di atas. Dan mari kita kaji al-Qur'an secara mendalam. Dalam setiap ayatnya al-Qur’an selalu menekankan “perbuatan baik” (&lt;em&gt;al-‘amal ash-shâlih&lt;/em&gt;) sebagai syarat mutlak masuk surga. Kata “islam” dan “iman” itu lebih bermakna “kepercayaan” dan “kepasrahan” kepada Tuhan semata, bukan bermakna “afiliasi” dan “menganut” agama tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Kepercayaan” dan “kepasrahan” terhadap Tuhan pun tidak memperdulikan siapa Tuhan yang dianut. Yang penting “kebertuhanan” itu menumbuhkan sifat-sifat yang luhur di dalam diri manusia untuk kemudian diejawantahkan di dalam kehidupannya sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jadi, siapakah yang berhak masuk surga? Ya, pahami saja maksud tulisan sederhana saya ini, dan silahkan pikirkan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21956488-970131701524049734?l=rolandgunawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/feeds/970131701524049734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21956488&amp;postID=970131701524049734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/970131701524049734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21956488/posts/default/970131701524049734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rolandgunawan.blogspot.com/2008/07/siapa-yang-lebih-berhak-masuk-surga_26.html' title='Siapa yang Lebih Berhak Masuk Surga?'/><author><name>Roland Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10337655046100902862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItcDge7PGI/AAAAAAAAADs/TiwH9Fr3vd0/S220/1_836938905l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Hu4fJwVjncs/SItYuxrHzlI/AAAAAAAAADk/K3OHwhtDgpY/s72-c/1_717758759l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21956488.post-7287202828433215355</id><published>2008-05-12T18:16:00.002+03:00</published><updated>2008-05-12T18:39:55.462+03:00</updated><title type='text'>حضرة الشيخ محمّد هاشم الأشعرى</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SChi0-fU1YI/AAAAAAAAADE/pg8xLY6Mu8I/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199514432066344322" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 329px; CURSOR: hand; HEIGHT: 349px; TEXT-ALIGN: center" height="387" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Hu4fJwVjncs/SChi0-fU1YI/AAAAAAAAADE/pg8xLY6Mu8I/s400/untitled.bmp" width="329" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div dir="rtl" align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;هو محمد هاشم الأشعرى ابن عبد الواحد ابن عبد الحليم الملقّب — ب"بانجران بونانج"—ابن عبد الرحمن—المشهور ب"جاكا تنكير"، سلطان هادى ويجويو— ابن عبد الله ابن عبد العزيز ابن عبد الفاتح ابن مولانا إسحاق من "رادين عين اليقين" —المشهور ب"سونان غيرى". ولد فى كيدانج، قرية فى دائرة جومبانج، جاوى الشرقية، فى يوم الثلاثاء، الرابع والعشرين من ذى القعدة سنة 1287ﻫ، الموافق بالرابع عشر من فبراير سنة 1871م.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;منذ صغره، درس محمّد هاشم الأشعرى من أبيه، عبد الواحد، خاصة فى العلوم القرﺁنية وإحاطة التراث الدينى (الأدبيات الدينية). و ما كاد يبلغ العاشرة من عمره حتّى أرسله أبوه إلى مختلف المعاهد الإسلاميّة طلبا للعلم، خاصة فى جاوى المشتملة على "صانا" و "سيوالان بودوران" و "لانجيتان توبان" و "ديمانجان بنكالان" و "سيدوارجو". وعندما أتم دراسته من معهد "سيدوارجو" كان فى نفسه عزيمة قوية تدفعه فى طلب العلوم. فأخذ يتعلّم من الأستاذ يعقوب الّذى كان شيخا فى ذلك المعهد. وبعد سنوات، اجتذب الأستاذ يعقوب بحسن سلوك محمّد هاشم الأشعرى اليومية، فأراد أن ينكحه بابنته "خديجة". ففى سنة 1892م، وهو فى الواحد و العشرين من عمره، تم عقد النكاح بينه وبين ابنة شيخه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بعد شهور من العقد، حث الشيخ يعقوب محمّد هاشم الأشعرى بأن يطلب العلم فى مكّة المكرّمة. فسافر محمّد هاشم الأشعرى مع عائلته إلى مكّة ليسكن هناك. ربما هذا بسبب العادة السائدة فى ذلك الوقت أنّ عالما لا يعتبر كافيا فى علمه إذا لم يكن يدرس فى مكّة بضع سنين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بعد مرور سبعة أشهر من إقامته فيها، كانت زوجته، خديجة، ولدت ابنا المسمّى ب "عبد الله". ولكن بعد أيام، تلك الزوجة المحبوبة لبّت نداء ربهّا حيث صعدت روحها ﺇلى بارئها. بل، بعد أربعين يوما، مات ابنه المحبوب، عبد الله، الذى كان مرجوا لاستمرار دعوته فى المستقبل. ففى السّنة اللاحقة، عاد محمّد هاشم الأشعرى إلى إندونيسيا. ولكن، فى سنة 1893م، سافر محمّد هاشم الأشعرى مرّة أخرى مع أخيه الشقيق، "ﺁنيس"، إلى مكّة المكرّمة، ومكث فيها زمنا طويلا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فتلقّى العلم على كوكبة من العلماء، وفى مقدمتهم الشيخ محفوظ الترميسى الّذى كان مشهورا فى عصره بإتقانه فى علم الأحاديث المروية عن الإمام البخارى. من هذا الشيخ الكبير، نال محمّد هاشم الأشعرى الشهادة لتعليم كتاب الصحيح البخارى. كذلك، وقد تعلّم من الشيخ أحمد خطيب، زوج ابنة الشيخ صالح الكردى، واحد من الأغنياء الّذى كان له علاقة وثيقة بالمملكة السعوديّة. وكان الشيخ أحمد خطيب عالما كبيرا فى مكّة، وهو من أحد الأئمّة فى المسجد الحرام لأتباع المذهب الشافعى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولم يكن جهده فى طلب العلم ذلك فحسب، بل قد تتلمّذ أيضا على بعض كبار العلماء الاۤخرين فى مكّة، مثل الشيخ العلّامة عبد الحميد الدارستانى، الشيخ محمّد شعيب المغربى، الشيخ أحمد أمين العطار، سيّد سلطان ابن هاشم، سيّد أحمد ابن هشام العطّار، الشيخ سيّد يمى، سيّد علوى ابن أحمد السّغاف، سيّد عبّاس مالكى، سيّد عبد الله الزواوى، الشيخ صالح فاضل، والشيخ سلطان هاشم الدغستانى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن العلوم الّتى درسها الشيخ محمّد هاشم الأشعرى طوال إقامته فى مكّة هى الفقه على مذهب الإمام الشافعى، علوم الحديث، التوحيد، التفسير، التصوف، علم النحو و الصرف، المنطق، البلاغة و غيرها من العلوم الأساسية فى الدين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولقد برز هاشم الأشعرى فى العديد من العلوم، فى علوم الحديث خاصة، حتى قيل أنه من أحد رواة الحديث الرابع والعشرين. بل لقد أصبح فى العلم إماما تعلّم على يديه العلماء. ولذلك كان لقب "حضرة الشيخ" علَمًا عليه لدى العلماء و الدارسين من كلّ الاتجاهات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلابدّ من المعرفة، عندما تعلّم الشيخ محمّد هاشم الأشعرى فى مكّة، كان الشيخ الإمام محمّد عبده قائما بالحركة التجديدية للفكر الإسلامى فى مصر. من الأفكار التجديدية الّتى طرحها هى؛ حثّ الأمّة الإسلاميّة على إعادة تنقية الإسلام من الاۤثار و الممارسات الدينية الّتى ليست منه؛ إصلاح التربية الإسلاميّة فى مستوى الجامعة؛ إعادة دراسة و تركيب الرسالة الإسلاميّة لكى تنطبق بروح الحداثة؛ الدفاع عن الإسلام. هذا الجهد من الشيخ محمّد عبده فى إعادة دراسة وتركيب الرسالة الإسلاميّة لتسير مسير تطوّر و متطلّبات العصر الحديث يقصد لكى يصبح الإسلام قادرا على تحمّل المسؤوليات الكبيرة فى المجالات الإجتماعيّة و السياسيّة و التربويّة من جديد. ولذلك، طرح الشيخ محمّد عبده أفكاره التجديديّة لكى يتحرّر المسلمون من التقاليد المذهبيّة الفقهيّة ولكى يتركوا أنواع ممارسات الطريقة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلممارسة أطروحاته تلك، جمع الشيخ محمد عبده بين آراء أستاذه، الشيخ جمال الدين الأفغانى، وبين آراء عالمى المذهب الحنبلى؛ محمد بن عبد الوهاب واﻹمام تقي الدين ابن تيمية. فبعد مسير الوقت، اشتهر هذا الجهد التجديدى فى إندونيسيا حيث اتبعه بعض المسلمين، خصوصا هؤلاء الذين عاشوا في المدينة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بالحقيقة، الشيخ محمّد هاشم الأشعرى يوافق ﺁراء وأفكار الشيخ محمّد عبده فى تجديد فهم الإسلام، لكنّه رفض رأيه أنّ المسلمين لابدّ أن يتحرّروا من تمسّكهم بالمذاهب الفقهيّة. الشيخ محمّد هاشم الأشعرى يرى أنّه لا يمكن فهم حقيقة تعاليم القراۤن و السّنّة النبوية مع عدم دراسة آۤراء وأفكار كبار العلماء الذين اجتمعوا فى نظام المذاهب. فتفسير القرﺁن والأحاديث النبويّة بدون قراءة و دراسة كتب العلماء سوف يؤدّى إلى الإختزال فى فهم حقيقة تعاليم الإسلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;تاسيس معهد "تابو إيرانج"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;عاش الشيخ محمّد هاشم الأشعرى فى مكّة حوالى سبع سنوات. طوال هذه السنوات، بدأت تحوّلات حياته الفكرية و العلمية. وفى سنة 1900م، عاد الشيخ محمّد هاشم الأشعرى من مكّة المكرّمة للإ قامة الدائمة فى إندونيسيا. وكان الشيخ محمّد هاشم الأشعرى، بعد بضع شهور من عودته، علّم فى معهد كيدانج، المعهد الذى أسّسه جدّه، الشيخ الحاج عثمان.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فبإذن من الشيخ الحاج عثمان، انتقل الشيخ محمّد هاشم الأشعرى إلى مكان المشهور بدائرة "السوداء"، يعنى "تابو إيرانج". أراد الشيخ محمد هاشم الأشعرى فى هذه الدائرة تأسيس معهد كبير. فبعض أصحابه رفضوا إرادته تلك. فحجّة رفضهم أنّ تلك الدائرة غير مناسبة لبناء المعهد. "تابو إيرانج" ليست فقط بعيدة عن مدينة "جمبانج"، لكنها أيضا دائرة غلب عليها المجتمع الّذين لا يزالون لا يعرفون الدين، حيث كانت أخلاقهم وعاداتهم غير ملائمة بالانسانية، مثل قطع الطريق، الميسر، الزنى وأنواع المعاصى الأخرى. هناك أيضا الأمكنة للمعاهرة والمقاهى لشرب الخمر.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لكنّ الشيخ محمد هاشم الأشعرى لا ينعزل من عزيمته، بل الحالة فى تلك الدائرة تدفعه بالمبادرة لبناء المعهد. فعنده أنّ نشر الدين بمعنى اصلاح أخلاق المجتمع الفاسدة. ولذلك، بناء المعهد فى "تابو ﺇيرانج"، عند الشيخ محمد هاشم الأشعرى، هو طبعا جهد مفيد جدّا. فمن جانب ذلك كان الشيخ يريد أن يطبّق العلوم الّتى تلقّاها طوال تعلّمه، سواء كانت ممكّة المكرمة أو من المعاهد الأخرى. ومن جانب آخر هو يريد أن يجعل المعهد "دواء" للمجتمع الّذى استولت عليه الأزمة الخلقيّة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ففى التاريخ السادس و العشرين من ربيع الأول سنة 1320ﻫ، الموافق بالتاريخ السادس من فبراير سنة 1906م، بالعزيمة الراسخة فى قلبه، بنى الشيخ محمّد هاشم الأشعرى معهدا فى "تابو إيرانج". وكان له عندئذ ثمانية و عشرين تلميذا. فبعد مسير الوقت غير بعيد، أصبح هذا المعهد مكانا قام فيها الشيخ بالنشاطات الإجتماعيّة - الإنسانيّة، حيث كان شأنه ليس رئيسا للمعهد فحسب، بل إنّما رئيسا للمجتمع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قام الشيخ محمّد هاشم الأشعرى بتطوير معهده، بما فيها من تجديد المنهج والمواد الدراسيّة. ﺇذا كان جميع المعاهد الدينيّة فى ذلك الوقت قامت بتطوير منهج الحلقة، فجاء الشيخ يقدّم منهج التعليم المدرسى وإدخال المواد االدراسّة العامّة، بالإضافة إلى المواد الدراسيّة الدينيّة، فهذا شيئ جديد بالطبع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وبعد مسير الوقت غير بعيد، اشتهرت معهد "تابوا إيرانج" وما فيها من الدراسات الدينيّة التى قام بها، خاصّة فى دائرة جاوى، اجتذب الناس به، فاحتلّ مكان الصدارة بين المجتمع، لما قام به هذا المعهد من مغامرات تعليميّة سحرت بأفكارها التربوية و الدينيّة قلوب معاصريها وعارفيها، وصوّرت لهم العقول، عالم النفس، بأسلوب عميق مؤثّر فى مشاعر الناس وأحاسيسهم. وهذا النجاح تدفعه أسباب، منها شخصيّة الشيخ محمّد هاشم الأشعرى السليمة و الرصينة، وكان شأنه دائما التواضع. أضف إلى ذلك ما عنده من القوّة الروحيّة أو "الكرامة".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;تأسيس جمعيّة نهضة العلماء&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;فمن المعلوم أنّ تأسيس جمعيّة نهضة العلماء تمّ بالتاريخ الواحد والثلاثين من يناير سنة 1926م فى سورابايا. عندئذ جوّ تطوّر السياسة الإسلاميّة عامّة لا يحظى شيئا مفيدا لهٰؤلاء المسلمين الذين تمسّكوا بالمذاهب. لقد غلّب جو ّ السياسة فى الشرق الأوسط مكانة الحركة الوهّابيّة على جميع المذاهب الدينية الأخرى. أمّا التطوّر فى إندونيسيا أيضا لا يسعد العلماء الذين حافظوا تمسّكهم الأكيد بالدين على نهج المذاهب.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جدير بالإهتمام، فى الحياة اليوميّة، كثيرا ما وقع الإختلاف —بالخصوص فى المسائل االخلافيّة— بين جمعيّة نهضة العلماء (NU) وجمعيّة المحمّديّة (Muhammadiyah) . ففى مؤتمر الأمّة الإسلاميّة V - IV الذى عقد فى "يغياكارتا" فى الواحد والعشرين إلى السابع والعشرين من أغسطس، و بباندونج فى السادس من فبراير سنة 1926م، لتبادل الاۤراء من أجل مشاركة المؤتمر الإسلامى العالمى فى مكّة، ﺁراء علماء المعاهد الدينيّة مرفوضة تماما.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أمّا الاۤراء المطروحة من قبل "محدّثين أو المجدّدين" حظيت بالقبول. الأطروحات من علماء المعاهد الدينيّة التى طلبت من الملكة السعوديّة بأن تعطى الحريّة الكاملة لهؤلاء الذين تمسّكوا بالدين على نهج المذاهب، لا تدخل فى قرارات المؤتمر. بالإضافة إلى ذلك، العلماء من المعاهد الدينيّة طلبوا أيضا بمراعاة بعض المقابر المهمّة، مثل مقبرة الرسول صلّى الله عليه وسلّم وأصحابه الأربعة والأمكنة التاريخيّة الأخرى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلأنّ الاۤراء المطروحة من قبلهم لا تضمّ فى قرارات المؤتمر، فهٰؤلاء، يعنى علماء المعاهد الدينيّة، تحت رئاسة الشيخ الحاج عبد الوهاب حسب الله، شكّلوا "لجنة الحجاز" (Komite Hijaz) التى كانت وظيفتها هى تقديم اۤراء علماء المعاهد إلى المملكة السعوديّة. ففى المشاورة التى عقدت فى سورابايا، حيث حضر فيها الأجيال الأوائل، قرّروا بإرسال الشيخ الحاج محمّد بصرى شنسورى (جومبانج) و الشيخ الحاج أدنان (قدوس) إلى السعوديّة العربيّة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لكن، ﺇرسال المبعوثين أخّر لانقضاء وقت الحجّ. فمرّت الأيّام، حتّى ذهب الشيخ أحمد غناميم المصرى إلى مكّة لتقديم الأطروحات و القرارات التى اتّخذتها "لجنة الحجاز" إلى ملك السعوديّة العربيّة، حيث حظيت تلك الأطروحات والقرارات بالقبول من قبل ابن سعود. بهٰذا، المهّة التى تحمّلتها "لجنة الحجاز" تكون ناجحة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بعد ذلك، اجتمع العلماء مرة أخرى. فإحدى البرامج المشروعة وقتئذ فضّ "لجنة الحجاز". لكنّ حضرة الشيخ محمّد هاشم الأشعرى منع عن ذلك، حيث أراد بأن يجعل تلك اللجنة جمعيّة تسير على نهج أهل السنّة والجماعة. فمنذ ذلك الوقت، يعنى فى سورابايا، تشكّلت جمعيّة نهضة العلماء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فمن أسباب تأسيس جمعية نهضة العلماء هو للدفاع عن التمسك باحدى المذاهب الأربعة؛ الحنفية، الماكية، الشافعية و الحنبلية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إصلاح "الطريقة الصوفية"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;اهتمّ حضرة الشيخ الحاج محمّد هاشم الأشعرى ب"الطريقة الصوفية". فعند حضرة الشيخ، الطريقة الصوفيّة هى وسيلة للتقرب إلى الله. على الرغم من ذلك، ليس جميع الطرق الصوفيّة مطابقة بتعاليم الشريعة. فألّف كتابا خاصّا تحت الموضوع :الدرّ المنتثرة فى المسائل التسع عشرة، شرح فيها مسألة الطريقة والولاية وما يتعلّق بهما من الأمور المهمّة لأهل الطريقة، كتاب احتوى على النصائح والتعاليم عن كيفيّة الممارسة فى عالم التصوف.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ففي الكتاب، شرح حضرة الشيخ هاشم الأشعرى شرحا وافيا عن معنى الولى كقدوة المتصوّفين. ألّف هذا الكتاب تذكرة للمسلمين، خصوصا فى إندونيسيا. فكثيرا منهم لايزالون لا يعرفون حقيقة التصوف، ولذلك نبّه الشيخ محمد هاشم الأشعرى بأن يحذروا فى ممارسة الطريقة الصوفية. لكنّ هذا ليس بمعنى أنّ الشيخ محمد هاشم الأشعرى يرفض الممارسة فيها كفكر الشيخ محمّد عبده.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جدير بالاهتمام، أنّ فكر الشيخ محمّد عبده كان واضحا ومستقيما. مثلا فى الممارسات الدينية لابدّ من العودة ﺇلى القرآن الأحاديث النبوية. معنى هذا أنّ الآراء المذهبية غير محتاجة. وكذلك الممارسة فى الطريقة الصوفية، لأنّها سوف تؤدّى إلى الجمود والتخلف، فهى بدعة الّتى لابدّ تركها. بل، بسبب دخول أنواع البدع نسى المسلمون جوهر الشريعة اللاسلامية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;كرامات الشيخ محمد هاشم الأشعرى&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان المهاجرون ذهبوا إلى مدينة "جمبانج"، لأنّ مدينة "سورابايا" قد استولت عليها جيوش هولندا المستعمرون. بل، هم، يعنى جيوش هولندا، قد شرعوا فى استيلاء حدود "كريا
